Kopi Aroma


Widya Pratama Tanara
istri: Maria Louisa
anak: Monika, Adelia, Hilda
lahir 16 Oktober 1952 di Bandung

Koffie Fabriek Aroma di jalan Banceuy 51 Bandung didirikan sejak tahun 1936 oleh Tan Houw Sian. Sebelumnya, Tan pernah bekerja di pabrik kopi milik Belanda selama 10 tahun. Tan memakai mesin pengolah kopi merek Probat buatan Jerman yang masih digunakan sampai saat ini. Pemanasan biji kopi juga masih menggunakan kayu dari pohon karet, dan tidak menggunakan gas. GOSIPNYA Jika memakai kayu, penyerapan panasnya lebih merata sehingga bisa matang secara perlahan dan kopi mengeluarkan aroma aslinya.

Maria Louisa & Widya Pratama Tanara

Bukan hanya mesinnya, bangunan seluas 1.300 meter persegi yang digunakan oleh Kopi Aroma pun merupakan salah satu warisan arsitektur Art Deco zaman Belanda yang dilindungi pemerintah. Karena tidak boleh dimodifikasi, bangunannya masih tetap sama bentuknya hingga kini.

Widya Pratama Tanara & Hilda

Bisnis ini lalu diwariskan pada anak tunggalnya, Widya Pratama Tanara pada tahun 1971. Anak ketiganya, Hilda, sedang dipersiapkan untuk meneruskan bisnis kopinya. Selain berbisnis kopi, Widya juga aktif di berbagai kegiatan sosial seperti membantu anak-anak yatim piatu. GOSIPNYA ia jarang ke gereja karena lebih senang praktek langsung untuk menolong sesama.

Toko ini hanya menjual dua jenis kopi yakni kopi Mokka Arabika Rp. 17.500 per 250 gram dan Kopi Robusta Rp. 12.500 per 250 gram untuk harga tahun 2011. Menurut karyawannya, kopi Arabika lebih harum sedangkan kopi Robusta lebih pahit. Sebelum diolah, kopi Mokka Arabika harus disimpan selama 8 tahun sedangkan kopi Robusta harus disimpan selama 5 tahun. Tujuannya agar asam yang ada di kopi hilang, jadi setiap orang yang meminumnya meskipun belum makan tidak akan sakit perut.

Ketika kopi siap digiling, biji-biji tesebut dijemur dulu di bawah sinar matahari selama 7 jam. Baru ditumbuk, disangrai, lalu digiling. Seluruh proses produksi ini dipegang teguh sejak toko ini berdiri. Widya tidak tertarik memperbanyak jumlah produksi karena menurutnya yang penting caranya, bukan jumlahnya (GOSIPNYA Widya mengizinkan siapapun yang ingin tahu seluruh proses pembuatan kopi di pabriknya karena tidak semua orang mau mengerjakan proses yang memakan waktu cukup lama tersebut. Hal ini membuat para konsumennya sangat puas dan tidak heran membuat para pelanggannya berdatangan dari seluruh penjuru dunia).

Kopi aroma dijual paling banyak hanya 10 kilogram per orang. Hal itu dilakukan selain agar semua orang kebagian juga karena produksinya terbatas yakni hanya diproduksi untuk dijual hari itu saja. Tujuannya supaya kualitas kopi tetap segar dan tidak disimpan terlalu lama yang menyebabkan berkurangnya kualitas kopi tersebut. Kualitas Kopi Aroma sudah terkenal di dunia. GOSIPNYA saking terkenalnya Kopi Aroma, menurut Sandiaga Uno (Wakil Ketua KADIN Bidang UMKM dan Koperasi), pemilik kopi Starbucks - Howard Schultz - sengaja datang ke Bandung dari AS hanya untuk mencicipi kopi ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.