14 June 2012

Prajogo Pangestu


Prajogo Pangestu (彭雲鵬 Phang Djoen Phen)
lahir 1944 di Sambas, Kalbar

GOSIPNYA
Ia adalah anak seorang pekerja getah karet bernama Phang Siu On. Ia lalu beralih profesi sebagai tukang jahit di Pasar Sungai Betung untuk mencari penghasilan tambahan. Ia diberi nama Phang Djoen Phen yang berarti "burung besar terbang tinggi menguak awan mendung" yang merupakan doa orang tuanya agar ia dapat mengatasi mendung kemiskinan keluarga. Ia hanya tamat sekolah menengah pertama di SMP Nan Hua, sekolah berbahasa Mandarin di Singkawang. Ia pun nekat merantau ke Jakarta meski hanya lulusan SMP. Karena tidak mendapat pekerjaan, ia pulang kampung dan menjadi supir angkutan kota jurusan Singkawang-Pontianak. Setelah itu ia mulai berjualan keperluan dapur, bermacam-macam bumbu dan ikan asin.

Pertengahan tahun 1960-an ia berkenalan dengan Bong Sun On (lebih dikenal dengan Burhan Uray), orang Serawak, Malaysia, yang masuk ke Indonesia lewat Pontianak ketika deras-derasnya penyelundupan kayu ke Malaysia. Di sini Bong meraup untung besar ketika penebangan hutan masih menganut sistem persil dan petak rakyat. Sistem ini membuat pemerintah kesulitan mengawasi manipulasi jumlah tebangan.

Tahun 1969 ia mulai bekerja di PT Djajanti Group milik Burhan Uray dan mengurus HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di daerah Kalimantan Tengah. Nama Prajogo mulai dikenal orang ketika pada 1975 Burhan memindahkan PT Djajanti dari Pontianak ke Banjarmasin. Tahun 1976 Burhan mengangkat Prajogo menjadi General Manager PT Nusantara Plywood di Surabaya

Tahun 1977 dia membeli CV Pacific Lumber setelah mendapat pinjaman uang dari Bank BRI. Ketika itu Pacific Lumber sedang mengalami kesulitan keuangan akibat turunnya harga kayu. Ia lalu mengubah Pacific Lumber menjadi Barito Pacific. Ia menebang habis gelondongan-gelondongan kayu di hutan Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Maluku, dan Sumatra Selatan. GOSIPNYA ia mendapat HPH gelap seluas 5,5 juta hektare.

HPH gelap yang dimaksud adalah milik PT Panambangan di Kalimantan, yang mendapatkan SK HPH pada 1972 untuk pengelolaan selama 20 tahun. Saham PT Panambangan dimiliki oleh sepupu Soeharto, Soekamdani Sahid Gitosardjono, lewat Yayasan Mangadeg, sebuah yayasan yang didirikan untuk mengurusi makam klan Soeharto di Desa Bendogerit, Astana Giribangun, Solo. Para pemegang saham lainnya adalah Ny. Juliah (istri Soekamdani), Sujarwo (mantan Menteri Kehutanan), Praptono Honggopati Tjitrohupojo (mantan Direktur Utama PT Ustraindo Petro Gas), dan karyawan koperasi perusahaan itu.

Saat itu tidak ada yang berani menyentuh bisnis di lingkungan presiden. Tapi bisnisnya sempat turun karena pemerintah mengeluarkan peraturan melarang ekspor kayu gelondongan pada 1980. Namun, Prajogo mengatasinya dengan membangun perusahaan pengolahan kayu, setelah berhasil mendapat pinjaman dari Bank Perancis sebesar 150 juta Franc. Dengan pinjaman itulah Prajogo membangun pabrik penggergajian dan kayu triplek yang menjadi cikal-bakal Barito Pacific Timber.

Sejalan dengan kemajuan usahanya, Prajogo semakin memperbaiki hubungannya dengan Keluarga Cendana. Bersama dengan putri tertua Presiden, Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut, Prajogo berkongsi dalam perusahaan-perusahaan yang bermarkas di Sumatra seperti PT Enim Musi Lestari, Perkebunan Hasil Musi Lestari, dan Gandaerah Hendana, pada pertengahan 1980-an. Juga pada 1991, mereka mendirikan perusahaan PT Musi Hutan Persada.

Pada dekade 1980-an PT Barito Pacific Timber mencapai puncak kejayaannya ketika memiliki lebih dari 20 anak perusahaan. Selain dengan Tutut, Prajogo juga berkongsi dengan Bambang Trihatmodjo, bos Grup Bimantara, mendirikan pabrik bubur plastik Chandra Asri di Cilegon, Jawa Barat, dan Bank Andromeda pada 1990.

Pada tahun 1991 bersama dengan Kwok Brothers ia mendirikan sebuah hotel di Pulau Sentosa, Singapura. September 1993 ia membeli 10,12% Saham PT Astra Internasional Tbk. Pada dekade 1990-an bisnisnya berkembang menjadi 120 perusahaan yang bergerak diluar bidang HPH.

Tahun 2004 bersama dengan Sohat Chairil, Harun Sebastian, Abraham Alex Tanuseputra, Grup Kompas yang tergabung dalam PT Prasada Japa Pamudja, membangun Menara Jakarta yang tingginya 558 meter. Proyek yang bermula dari ide Soeharto ini dimulai tahun 1994 oleh Sudwikatmono, Prajogo Pangestu, dan Henry Pribadi yang tergabung dalam PT Indocitra Graha Bawana.

Henry Pribadi adalah mantan pemilik PT Surya Citra Media Tbk. Sohat Chairil adalah pengusaha batu bara, Harun Sebastian adalah pengusaha yang terlibat dalam pembangunan Mall Senayan City. Sedangkan Abraham Alex Tanuseputra adalah pengusaha apotek yang juga pendiri Gereja Bethany Indonesia (GBI).

Pada tahun 1995, diadakan sayembara internasional desain Menara Jakarta. East China Architectural Design Institute (ECADI) keluar sebagai pemenang. ECADI juga diketahui telah berpengalaman mendesain menara Oriental Pearl Tower di Shanghai.

Setelah mendapat desain menara yang diinginkan, tahun 1996 PT Telkom, PT Indosat dan TVRI bergabung dan membentuk badan baru yaitu PT Menara Jakarta. Kemudian peresmian pembangunan proyek Menara Jakarta dilakukan pada 12 Agustus 1997 oleh Mensesneg RI, Moerdiono. Di tahun 1998, pekerjaan terhenti total akibat krisis moneter.

Rencananya, menara ini akan dilengkapi sejumlah fasilitas seperti anjungan wisatawan, tempat parkir seluas 144 ribu meter persegi, gedung podium 17 lantai, restoran berputar, mal, kafe, taman hiburan, museum sejarah Indonesia, hotel, ruang pameran, dan pusat multimedia. GOSIPNYA menara tersebut menelan biaya 3 trilyun Rupiah dan diperkirakan selesai tahun 2012.

Tahun 2011 bersama dengan perusahaan asal Singapura, Vopak Asia Pte Ltd, ia membangun terminal gas minyak cair di Cilegon, Banten. Proyek ini memakan biaya 150 juta Dolar AS. Tahun 2013 ia berada di peringkat 41 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes dengan kekayaan 745 juta Dolar AS.

No comments:

Post a Comment