Hendrik Tio

Hendrik Tio
lahir 1963 di Rantau Prapat, Sumatra Utara

GOSIPNYA
Setelah 10 tahun sekolah di Kalam Kudus Medan, Hendrik Tio pindah ke SMA Katolik Medan mengambil jurusan IPS. Setelah lulus, pada tahun 1981 ia kuliah akuntansi di Universitas Sumatera Utara, Medan. Sambil kuliah, ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi asing asal Singapura. Ia menjadi kepala cabang area Medan. Setelah dua tahun bekerja, ia mengundurkan diri karena dua alasan. Pertama, perusahaannya tidak mau menerima ide-idenya. Kedua, perusahaan tersebut menutup usahanya di Indonesia dan memilih fokus berbisnis di Singapura.

Setelah lulus kuliah, ia pindah ke Jakarta. Pada tahun 1993, bersama empat rekannya, ia mendirikan PT Bhinneka Mentari Dimensi (BMD) yang berkantor di sebuah rumah kontrakan di sebuah gang buntu daerah Pulomas, Jakarta Timur dengan modal Rp. 100 juta dan 12 pekerja. BMD mendistribusikan produk-produk information technology (IT). Awalnya, BMD hanya mendistribusikan barang arsitektur seperti mesin gambar dan printer.

BMD mendapat rekanan dari luar negeri karena ia pernah berkerjasama dengan perusahaan itu ketika masih bekerja sebagai tenaga pemasaran. Pada tahun kedua, perusahaannya mendapat suntikan modal dari angel investor. Tahun 1996 ia merambah bisnis jual beli komputer termasuk komputer rakitan.

Ia lalu mengirim tim ke Amerika Serikat (AS) agar Micron Electronics, produsen komputer bermerek Micron, mau bekerjasama dengan BMD dan ternyata disetujui. BMD mendapat penghargaan sebagai Distributor of The Year dari Micron Electronics pada tahun 1997. BMD menjadi distributor komputer, peripheral, rancang bangun perangkat lunak jasa jaringan (LAN/WAN), solusi video editing, hingga pusat servis. Pada tahun 1997, ia mencapai break event point. Pada tahun yang sama krisis ekonomi melanda Asia. BMD pun kena imbas karena bisnisnya bergantung pada nilai tukar Dolar AS.

Tahun 1999 hanya 24 karyawan yang tersisa dari 129. Ia lalu berkesimpulan bahwa untuk membangun bisnis butuh merek yang kuat. Ia mengubah model bisnis, dari agen distributor jadi ritel produk komputer. BMD pun mulai merambah ke bisnis e-commerce karena melihat bisnis internet di AS berkembang pesat. Alasan lainnya, cara ini juga hemat biaya karena hanya perlu mengeluarkan dana untuk biaya hosting dan domain. Maka Bhinneka.com pun lahir.

Awalnya Bhinneka berbentuk katalog dari produk-produk yang mereka tawarkan. Ia menambah barang dagangan setiap hari dan mengubah desain situs dua kali dalam setahun. Meski begitu, bisnis Bhinneka berjalan lambat. Angka kunjungannya sangat sedikit. 50 pengunjung dalam sehari saja sudah dianggap sangat baik.

Ketika itu internet di Indonesia masih menggunakan dial-up memakai koneksi telepon. Itupun masih dianggap sebuah kemewahan. Akses situs pun jadi lambat. Untuk membuka situs lengkap dengan gambarnya, butuh waktu lama. Bila berhasil masuk, belum tentu gambarnya muncul. Orang yang mengenal internet pun masih sedikit.

Ia berusaha menggenjot trafik pengunjung. Karyawan gencar menghubungi konsumen dan mengenalkan situs Bhinneka. Iklan pun dipasang di media massa. Masalah lain adalah pengiriman barang yang belum baik. Karena itu, Bhinneka hanya melayani pembelian di area Jakarta dan mengantarkannya lewat kurir sendiri. Ternyata hal itu berhasil meningkatkan pengunjung.

Keberhasilan Bhinneka bertumbuh di tengah krisis ekonomi ditambah internet yang sedang naik daun mengundang banyak investor asing dan lokal masuk ke bisnis ini. Setahun kemudian, muncul situs jual beli seperti lipposhop.com, astaga.com, kopitime.com. Tidak lama kemudian, gelembung ekonomi dotcom pecah di AS. Perusahaan-perusahaan berbasis internet yang harga sahamnya sempat meningkat tajam dan diburu investor, mengalami penurunan drastis akibat kegagalan menemukan modal bisnis yang sesuai, merugi, atau bangkrut.

Bagi perusahaan internet di Indonesia, kejadian ini memperburuk tingkat kepercayaan masyarakat. Orang semakin enggan berbelanja online. Bhinneka pun harus menerima kenyataan pahit: permohonan pinjamannya ditolak perbankan. Sistem pembayaran online pun masih kacau. Waktu itu, orang hanya punya sedikit pilihan dalam pembayaran non-tunai, salah satunya dengan kartu kredit. Orang dikenakan biaya yang mahal untuk sekali gesek yaitu sekitar 9%. Penipuan kartu kredit pun sangat tinggi.

Agar kembali dipercaya, tahun 2001 Bhinneka membuka toko offline pertama di Mangga Dua Mall. Enam tahun kemudian, toko offline di Poins Square dan Mall Ambassador dibuka. Toko offline sukses mengembalikan kepercayaan masyarakat pada Bhinneka. Orang yang tidak percaya berbelanja online bisa langsung belanja ke toko offline. GOSIPNYA Bhinneka.com adalah e-commerce pertama di Indonesia yang menerapkan sistem offline dan online.

Seiring kondisi ekonomi yang membaik serta akses dan pengetahuan masyarakat yang meningkat pada internet, bisnis Bhinneka mulai berkembang. Layanan yang disempurnakan adalah sistem pembayaran dengan kartu kredit. Sebenarnya layanan ini sudah ada sejak 2010 tapi sempat dihentikan karena bank memungut biaya yang tinggi.

Setahun kemudian, pembayaran dengan kartu kredit dihadirkan disertai layanan pembayaran lainnya. Saat ini Bhinneka menyediakan 15 macam sistem pembayaran: virtual account, ATM otomatis, internet banking, kartu kredit, kartu debit, cicilan 0%, cicilan 0,99%, uang elektronik, QR Code Scan, FinPay, cicilan tanpa kartu kredit, COD, kartu kredit tanpa bunga, transfer bank, dan korporasi.

Bhinneka juga menangkap peluang dari pertumbuhan smartphone. Sejak tahun 2012, mereka mengembangkan mobile platform berbasis Android, BlackBerry, dan iOS. Bhinneka juga membuat memasuki bisnis marketplace lewat Bhinneka Marketplace. Konsepnya tidak jauh dari marketplace yang sudah ada yaitu dengan menggandeng penjual lain untuk menawarkan barangnya di Bhinneka. Perbedaannya, tidak semua pedagang bisa bergabung. Ada proses seleksi ketat untuk menghindari barang bajakan dan penipuan.

Bhinneka juga menggarap segmen korporasi melalui Bhinneka Bisnis. Layanan ini adalah platform online pencarian dan pengadaan kebutuhan produk serta jasa korporasi. Layanan ini menawarkan akses terhadap online catalogue ke lebih dari 150.000 produk dan jasa, khusus untuk segmen korporasi. Keunggulan layanan ini adalah perusahaan bisa melakukan pembayaran secara bertahap. Fitur tracking disediakan agar perusahaan bisa tahu aktivitas pembelian.

Saat ini Bhinneka adalah salah satu pemain utama dalam bisnis e-commerce di Indonesia. Ada lebih dari 50.000 produk, 760.000 anggota, 2.600 pedagang, dan 36 kategori produk di Bhinneka.com. GOSIPNYA omzetnya mencapai lebih dari Rp. 1 trilyun per tahun, dengan jumlah karyawan 715 orang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.