Sehat Sutardja

Sehat Sutardja (周秀文)
lahir 9 Juli 1961 di Jakarta

istri: Weili Dai (戴伟立)
lahir 14 September 1961 di Shanghai

adik: Pantas Sutardja
lahir 1962

anak: Christopher Sutardja
lahir 2 April 1988 di California

Nicholas Sutardja
lahir 1991 di California

GOSIPNYA
Orangtua Sehat Sutardja berbisnis perangkat mobil Mercedes-Benz. Meski begitu, sejak kecil ia naik angkot. Ia bangun pukul lima pagi dan berangkat sekolah pukul setengah enam pagi. Ia harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah ke sekolah dengan dua kali angkutan umum. Awalnya ia hanyalah anak biasa yang senang hujan-hujanan dan menangkap capung.

Suatu ketika ia mengunjungi adiknya, Pantas, yang tinggal bersama kakek-neneknya di Singapura. Saat itu ia kelas 6 SD dan Pantas kelas 5. Ia melihat-lihat barang milik adiknya dan ia melihat sebuah buku Do It Yourself: building a Van de Graaff generator. Mereka lalu membeli kawat tembaga dan berhasil membuat mesin yang berfungsi meski sederhana.

Setelah kembali ke Indonesia, ia masih memikirkan generator itu. Ia mulai membuat versi mini yang dapat ia pakai untuk lelucon mengagetkan orang, hasil pencarian barang sisa yang tidak terpakai dari toko orangtuanya. Meski berfungsi, bahan tembaga yang ia pakai dengan cepat teroksidasi sehingga ia harus memperbaikinya tiap beberapa menit.

Setelah meneliti lebih lanjut di beberapa toko buku, ia menemukan bahwa transistor dapat menggantikan saklar mekanik. Ia lalu mengikuti kursus dan setahun kemudian ia mendapat lisensi sebagai ahli radio, sebuah sertifikat yang lebih ia banggakan daripada ijazah universitasnya. GOSIPNYA istrinya sering membawakan sertifikat itu dalam tasnya dan ia sering menunjukkan lisensi itu pada orang-orang.

Ia sering diomeli orangtua karena membongkar perangkat elektronik di rumahnya. Ia terus mengikuti obsesinya dan mengikuti perkembangan teknologi. Hal-hal baru selalu ia temukan pada barang-barang produksi Fairchild, National, Motorola, Texas Instruments dan semacamnya. Tekadnya sudah jelas: ia harus pergi ke Amerika Serikat.

Setelah lulus SMA, ia pindah ke Amerika Serikat. Ia hanya mengenal sedikit orang di sana, salah satunya adalah sepupu temannya yang kuliah di University of San Francisco. Ia pun lalu mendaftar ke sana. Pada musim panas tahun 1980 ia mulai belajar. Ternyata pelajaran matematika dan fisika-nya hanya mengulang apa yang telah ia pelajari ketika SMA. Universitas itu bahkan tidak memiliki mata kuliah teknik elektro yang ia inginkan.

Ketika ia mendengar kabar salah satu temannya kuliah di Iowa State University yang memiliki program tersebut, ia segera pindah dan menghabiskan 2,5 tahun di sana. Ia mengambil dua kelas tambahan tiap semester. Sambil kuliah, ia bekerja untuk IBM di Kingston, New York pada tahun 1982-1983.

Ketika ia lulus tahun 1983 dengan IPK 3,96, dia mendaftar S2 ke University of California, Berkeley, untuk mengikuti komunitas desain sirkuit analog. Adiknya Pantas juga ada di sana, sedang kuliah teknik elektro.

Ia belajar low-power and low-impedance amplifiers sebagai bagian dari program riset Integrated Services Digital Network (ISDN) yang waktu itu dianggap sebagai hal terpenting yang akan segera hadir dalam dunia komunikasi. Ia lalu mendesain analog-to-digital converters untuk telepon ISDN. Ia fokus pada alat hemat daya karena telepon itu hanya butuh daya kabel, tidak perlu listrik lagi.

Menurut Stephen Lewis, salah satu temannya di Berkeley, ia adalah seorang perfeksionis yang selalu mencari cara yang lebih baik, meski cara lama sudah berfungsi dengan baik. Sebagai contoh, ketika mereka membuat pipeline A-to-D converters, cara umum adalah memasang switched-capacitor amplifier memakai dua kapasitor, dimana salah satunya lebih besar dibanding yang lainnya. Ia menemukan cara yang lebih efektif dengan dua kapasitor identik, menaikkan kecepatan amplifier dengan menaikkan faktor umpan balik.

Lewis ingat Sehat merevisi terus percobaannya, berusaha menghilangkan error hingga tuntas. Sebenarnya error itu takkan membuat alat rusak, hanya menurunkan perfoma, tapi ia tetap berusaha menghilangkan error secara tuntas. Lewis percaya hal itulah yang membuat perusahaannya begitu sukses.

Di luar laboratorium dan kelas, ia tidak banyak melakukan aktivitas. Selain teknik elektro, ia tidak tertarik. Meski begitu, hal ini membuatnya menemukan calon istrinya. Suatu hari, ia dan seorang temannya dari luar kota sedang berada di lift gedung teknik elektro. Ketika mereka masuk, ada seorang wanita bernama Weili Dai. Teman Sehat mengajaknya ngobrol. Sehat diam saja karena malu.

Dai tidak terkesan, tapi mengingat Sehat yang ketika itu diam, begitu pula Sehat. Mereka berpapasan beberapa kali dan hanya berkata halo. Setelah beberapa kali bertemu, ia mengundang Dai untuk belajar bersama di kantornya. Mereka sama-sama tidak suka bar, jadi bagi mereka itu adalah kencan yang sempurna. Mereka lalu menikah.

Ia mendapat gelar Ph.D tahun 1988 lalu bekerja di Micro Linear Corp., sebuah pabrik semikonduktor di San Jose. Ia bekerja di divisi D-to-A converters yang membuat chip untuk disk drives. Ia tidak membuatnya berdasar desain perusahaan, tapi membuatnya dari nol, mengurangi disk controller latency dari 100 nanodetik menjadi 10. Atasannya meragukan desain itu akan berfungsi, jadi Sehat melobi wakil presiden perusahaan. Desainnya diterima dan berfungsi dengan baik, bahkan dibeli oleh Hewlett-Packard yang dipakai di beberapa pabrik pembuat chip.

Ia mencari tantangan lagi dan bergabung dengan divisi Integrated Information Technology di Santa Clara, California. Di sana ia mendesain sirkuit untuk digital video compression and decompression. Teknologinya sempurna dan menjadi sebuah produk bernama AT&T VideoPhone.

Weili Dai, Sehat, Pantas

Ia merasa sudah saatnya membuat perusahaan sendiri. Tahun 1995 ia mengajak Pantas yang baru saja keluar dari IBM Almaden Research Center untuk bergabung. Dengan uang tabungan dari orangtua Dai, pada 10 Februari 1995, Ia beserta istrinya dan Pantas mendirikan Marvell. GOSIPNYA nama tersebut dipilih berdasar kata marvelous karena mereka ingin membuat produk yang menakjubkan. GOSIPNYA nama Marvell juga dipilih karena banyak perusahaan sukses dengan akhiran 'el' atau 'ell' seperti Intel, Novell, Nortel. GOSIPNYA mereka membangun perusahaan dengan modal 18 juta Dolar AS, jumlah yang tidak terlalu besar dibanding saat ini yang harus memiliki modal minimal 200 juta Dolar AS.

Rencananya untuk produk pertamanya adalah read channel yang lebih baik untuk disk drives. Read channel mengambil sinyal analog yang datang dari kepala magnet yang memindai disket, mengkonversinya menjadi digital, dan menaruh informasi itu kepada jalur bus yang dipakai di komputer.

Read channel yang telah ada memakai BiCMOS, tapi ia hanya akan memakai CMOS. Dengan cara itu, channel bisa diproduksi oleh perusahaan Taiwan yang telah ada, jadi ia tidak perlu membuat pabrik sendiri. Memakai CMOS juga berarti alat hanya membutuhkan daya kecil. Meski begitu, desain CMOS lebih lambat dibanding BiCMOS.

Beruntung, Pantas pernah bekerja di bagian teknologi hard drive di IBM dan Sehat berpengalaman di bidang mixed signal chips, sebuah gabungan analog dan teknologi digital. Menurut mereka, mereka dapat membuat read channel dengan kecepatan 180 Mb/s, jauh diatas kecepatan BiCMOS saat itu yang hanya 100 Mb/s.

Metode tradisional pada read channel memakai pencarian puncak gelombang analog untuk menetapkan bit digital. Tapi ketika kepadatan bit meningkat, sulit untuk menentukannya. Mereka lalu mengambil beberapa contoh sinyal dan memakai digital signal processing circuit. Dengan cara ini kebisingan dapat dikurangi dan juga meningkatkan bit rate.

Pantas mendesain arsitekturnya, lalu mensimulasikan sirkuit digital sementara Sehat fokus pada desain aspek analog. Mereka mempekerjakan 4 karyawan untuk membantu mereka. Pada 25 Desember 1995 mereka berhasil membuat chip pertama.

Mereka lalu mencari pelanggan. Dai lalu menyusun daftar pabrik disk drive yang jumlahnya hanya 6. Marvell mengirimkan contoh produk pada 3 perusahaan. Chip buatan mereka diakui lebih cepat, lebih murah, lebih hemat daya. Tapi, mereka enggan mengambil risiko pada sebuah perusahaan start-up. Sehat dan Dai terpaksa bekerja sambilan untuk menghidupi keluarga sekaligus mempertahankan perusahaan. Tahun pertama dan kedua perusahaan tidak mendapat laba.

Tahun 1997 Marvell berhasil meyakinkan Seagate, sebuah perusahaan besar, yang mau mengambil risiko. Ken Burns, seorang eksekutif di Seagate, menginginkan read channel dengan kecepatan 240 Mb/s. Marvell menyanggupinya, karena meski mereka mendesain produk 180 Mb/s, tapi pada kenyataannya berjalan di 240 Mb/s. Seagate pun menjadi pelanggan pertama mereka. Pada tahun ketiga Marvell mendapat laba 20 juta Dolar AS, tahun keempat 80 juta dan terus tumbuh.

Dengan portofolio Seagate, Marvell mendapat pelanggan berikutnya dengan mudah, terutama di Jepang yang ketika itu menguasai teknologi dunia. Marvell langsung menyingkirkan kompetitor besar saat itu, Texas Instruments. Setiap tahun perusahaan berambisi menciptakan chip yang berukuran setengah dari ukuran sebelumnya.

Marvell lalu terjun ke industri ethernet yang mengekstrak sinyal analog dari lingkungan bising. Marvell memulainya tahun 2000 dengan mengakuisisi Galileo Technology, sebuah perusahaan yang memproduksi controller untuk jaringan data.

Marvell lalu terjun ke industri Wi-Fi yang ketika itu terdiri dari serangkaian komponen. Marvell menggebrak dunia dengan memperkenalkan Wi-Fi dengan satu chip saja tahun 2005. Marvell lalu mengakuisisi bisnis chip mobile Intel pada tahun 2006.

Ia berhasil mengumpulkan 260 paten dan pada 2006, dinobatkan sebagai Inventor of the Year oleh Silicon Valley Intellectual Property Law Association. Marvell tidak hanya memproduksi satu prosesor, tapi membuat platform bernama System on Chip (SoC). SoC dipakai di perangkat Android, ethernet, konsol, dan perangkat Wi-Fi. Tahun 2006, Sehat dan Dai sempat berada di peringkat 374 orang terkaya di Amerika versi Forbes dengan kekayaan masing-masing 1 milyar Dolar AS.

Marvell dan perusahaan raksasa lainnya sempat mengalami masalah tahun 2008 ketika Securities and Exchange Commission (SEC) menuduh perusahaan melakukan backdating stock option grants. Sebagai chief operating officer (COO), Dai harus menghadapi masalah finansial ini. Marvell didenda 10 juta Dolar AS dan Dai membayar 500 ribu Dolar AS. Dai juga mundur dari posisi COO dan menjadi wakil presiden serta manajer umum. Sejak itu saham Marvell terus turun.

Sehat menjelaskan filosofi manajemennya sebagai kombinasi Intel dan Hewlett-Packard. Slogan mantan CEO Intel Andrew Grove: only the paranoid survive, dan slogan Hewlett-Packard: management by walking around, membuat eksekutif Marvell banyak berinteraksi dengan para karyawan. Sehat pun ikut terjun pada proyek tersulit.

Pada Maret 2009, University of California membangun Sutardja Dai Hall setelah para pendiri Marvell ini mendonasikan 20 juta Dolar AS untuk laboratorium nano-fabrication di universitas tersebut.

Pada April 2016 Sehat dan Dai mundur dari jabatan CEO dan pindah ke Las Vegas menetap di sana.

Robby Tjahjadi


Robby Tjahjadi (Sie Tjie It)
lahir 1943 di Solo

GOSIPNYA
Setelah Indonesia merdeka, kondisi politik belum stabil sehingga perekonomian terus melemah. Sanering pertama kali dilakukan 19 Maret 1950, nilai uang dipangkas 50%. Sanering berikutnya terjadi pada 25 Agustus 1959, nilai uang dipangkas 90%.

Pada 13 Desember 1965 redenominasi dilakukan dengan menerbitkan uang pecahan desain baru Rp. 1 yang nilainya setara Rp. 1.000.  Kebijakan yang disusul dengan inflasi yang mencapai 635,5% tahun 1966 membuat banyak orang depresi. Tahun 1968 ekonomi masih terpuruk tapi di beberapa kota besar di Jawa banyak mobil mewah built-up yang ternyata dilakukan oleh seorang anak muda bernama Robby Tjahjadi.

Robby adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang mendapat tugas di luar negeri selama dua tahun. Tapi, baru 18 bulan bekerja, ia sudah dipanggil pulang ke Indonesia. Padahal jika genap dua tahun bekerja di luar negeri, ia akan mendapat fasilitas bea dan cukai.

Saat kembali ke Indonesia, ia merasa belum mengumpulkan cukup harta. Ia hanya punya sebuah mobil yang dibeli di luar negeri. Sebenarnya ia ingin mobilnya ikut bersamanya ke Indonesia agar bisa dijadikan uang tapi karena terbentur peraturan bea dan cukai, ia sulit membawanya.

Ia lalu mengajukan surat permohonan kepada atasannya dan diperbolehkan membawa barang pindahan, lengkap dengan daftar barang-barang yang akan dibawa, yang diverifikasi oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Kebijakan yang dikeluarkan ini ternyata diketahui PNS lainnya yang memiliki masalah serupa yang akhirnya juga mendapatkan izin. Izin bebas bea hanya diberikan satu kali kepada PNS. Untuk mobil yang dibawa kedua kalinya harus membayar bea masuk.

Modus Robby biasa saja, bukan pionir, bukan juga pemain tunggal. Robby mencari paspor orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri, baik itu mahasiswa ataupun pegawai negeri. Paspor mahasiswa yang pernah belajar di negara sosialis dihargai 350.000 Rupiah, paspor biasa yang belajar dengan biaya sendiri di Jerman Barat dihargai 4000 Deutsche Mark, paspor mahasiswa eks pampasan perang Jepang 1.000 Dolar Amerika, sedangkan paspor pegawai negeri 250.000 Rupiah.

Paspor didapat dengan memanfaatkan para calo yang sudah menjadi mitra mereka. Setelah mendapat paspor, Robby membeli mobil di luar negeri dengan nama sesuai paspor. Mobil lalu dikirim ke Indonesia dengan status sebagai barang penumpang, pindahan dan kiriman. Dengan begitu, tidak perlu membayar bea masuk, PPN, dan MPO.

Jika melalui prosedur resmi, mengimpor mobil tidak mudah. kelengkapan mobil akan diperiksa otoritas pelabuhan, di gudang akan diperiksa dokumennya oleh bea cukai, lalu diperiksa oleh kepala dinas impor. Setelah lulus, dokumen akan disahkan oleh kepala dinas bea cukai dan baru mobil bisa keluar pelabuhan.

Setelah itu baru mengurus BBN, MPO, PPN, STNK di inspektorat pajak dan kepolisian. Robby melewati semua itu dengan suap sedangkan petugas bea cukai di lapangan ia beri Rp. 50.000 untuk tiap mobil yang diselundupkan.


Hoegeng

Kapolri Hoegeng diberitahu beberapa rekannya di bea cukai dan kepolisian bahwa ada penyelundupan mobil mewah. Meski berhasil menjerat pelaku, kejaksaan tinggi Jakarta membebaskan pelaku.

Tahun 1969 polisi memergoki Robby Tjahjadi dan kakaknya Sigit Wahyudi sedang mengeluarkan 8 Mercedes selundupan dari Tanjung Priok. Hanya beberapa jam setelah ditahan di Komdak VII, seseorang menjamin mereka sehingga mereka pun bebas.

Setahun kemudian, adik ipar Robby, Iriawan Chandra dan Auw Tjun Liang hanya dihukum setahun penjara dengan tuduhan memakai paspor palsu, sedangkan Agus Warsono bebas. GOSIPNYA karena kasus Robby menimbulkan perhatian publik, Soeharto mencopot Hoegeng sebagai Kapolri tanggal 2 Oktober 1971.

Soeharto lalu mulai serius menangani penyelundup dan mengeluarkan Inpres 6 tahun 1971 tentang pemberantasan penyelundupan. Badan Koordinasi Pelaksana (Bakolak) dibentuk agar mengimplementasikannya. Bakolak lalu menangkap Robby pada 21 Oktober 1972 saat mengeluarkan mobil Rolls Royce dari Tanjung Priok. Robby mengimpor mobil itu seakan sedan Austin. Dua adik ipar Robby, Heru dan Roy Chandra dibekuk Bakolak.

Sutopo Juwono

Lucunya, kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) yang merupakan bagian dari Bakolak, Sutopo Juwono adalah pemakai sedan selundupan. Menurut Bakolak, di Jakarta saja ada 3.000 mobil selundupan dan kelompok Robby hanya 10%.

Robby lalu dituntut dengan UU No. 3 tahun 1971. Jaksa A.M. Palebangan menyatakan Robby bersalah karena menyelundupkan 228 mobil sehingga merugikan negara 716.243.400 Rupiah. Pada Maret 1973, majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara 7,5 tahun ditambah denda Rp. 10 juta atau 6 bulan kurungan serta menyita rumah di Jalan Tanjung senilai Rp. 100 juta dan sejumlah mobil.

Ketika itu selain mobil Eropa, mobil Jepang juga masuk ke Indonesia. Ketika Perdana Menteri Jepang Tanaka Kakuei berkunjung ke Jakarta 14-17 Januari 1974, mahasiswa demo menolak kedatangannya yang menganggap Jepang akan menanam modal di Indonesia. Terjadilah kerusuhan Malari pada 15 Januari 1974.

Soemitro

Yoga Soegomo

Karena kerusuhan Malari, pelarangan mengimpor mobil dalam keadaan utuh alias completely built-up (CBU) diberlakukan sejak 22 Januari 1974. Larangan ini dicabut pada 1 April 1996 melalui UU No. 10 tahun 1995 tentang kepabeanan. Soeharto lalu mencopot Soemitro dan mengambil alih jabatan itu. Soeharto juga mengganti kepala BAKIN yang kini telah menjadi Badan Intelijen Negara (BIN), Sutopo Juwono dengan Yoga Soegomo.

Pada 16 Januari Laksus Pangkopkamtibda Jaya mengeluarkan maklumat No. 004/PK/I/1974 yang menyatakan sejak hari itu semua sekolah/perguruan mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi/Universitas di wilayah hukum Jakarta, ditutup. Maklumat itu juga melarang lebih dari lima orang berkumpul diluar rumah antara matahari terbit hingga terbenam, yang pada malam harinya disambung dengan berlakunya jam malam.

Mohammad Syafa’at Mintaredja

Pada tahun 1974 perjudian Toto KONI dihapus. Pemerintah melalui Menteri Sosial Mohammad Syafa'at Mintaredja mulai memikirkan sebuah gagasan untuk menyelenggarakan forecast Inggris sebagai bentuk undian tanpa kesan judi.

Tahun 1976 setelah meminta penilaian lagi dari Kejaksaan Agung, BAKIN dan Departemen Dalam Negeri, rencana Depsos untuk menyelenggarakan forecast tidak mendapat tantangan dan merencanakan pembagian hasil 50% untuk penyelenggara, 30% untuk pemerintah, dan 20% hadiah bagi pemenang. Karena Presiden Soeharto meminta rencana itu dipelajari lebih dalam lagi, forecast ditunda lagi.

Pada tanggal 28 Desember 1985 forecast akhirnya dilaksanakan dengan sebutan porkas. Kupon Berhadiah Porkas Sepak Bola diresmikan, diedarkan, dan dijual. Porkas dimaksudkan menghimpun dana masyarakat untuk menunjang pembinaan dan pengembangan prestasi olahraga Indonesia. Porkas lahir berdasarkan UU No. 22 Tahun 1954 tentang undian, yang antara lain bertujuan agar undian yang menghasilkan hadiah tidak menimbulkan berbagai keburukan sosial. GOSIPNYA saat itu porkas banyak diplesetkan menjadi Peras Otak Rencana Kaya Akhirnya Sinting.

Berbeda dari Toto KONI, Porkas tidak ada tebakan angka, melainkan penebakan M-S-K atau menang, seri, dan kalah. Perbedaan lainnya Toto KONI beredar sampai ke pelosok daerah, sedangkan Porkas hanya sampai tingkat kabupaten dan anak-anak di bawah usia 17 tahun dilarang menjual, mengedarkan, serta membelinya.

Kupon Porkas ini terdiri atas 14 kolom dan diundi seminggu sekali, setelah 14 tim sepak bola melakukan pertandingan. Jadwal pertandingan ditentukan oleh PSSI dari jadwal di dalam dan luar negeri. Setiap pemegang kupon yang saat itu harganya Rp. 300 menebak mana yang menang, seri, dan kalah. Penebak jitu 14 pertandingan akan mendapat hadiah Rp. 100 juta.

Pada tanggal 11 Januari 1986, penarikan pertama Porkas dilakukan. Sampai dengan akhir Februari tahun yang sama, dana bersih yang dikumpulkan mencapai 1 milyar. Pertengahan tahun 1986, pengedaran Porkas dilakukan melalui sistem loket. Para distributor, agen, sub-agen yang terbukti melakukan penyimpangan dipecat oleh Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS) selaku penyelenggara. YDBKS diketuai oleh anak Soeharto, Sigit Harjojudanto. Selain Sigit, Robby Sumampouw dan Robby Tjahjadi juga ikut mengelola Porkas.

Bulan Oktober 1986, dana Porkas yang terkumpul sudah mencapai Rp. 21 milyar, melebihi target Rp. 13 milyar hingga akhir tahun. Dari jumlah ini, KONI Pusat mendapat Rp. 1,5 milyar, KONI daerah Rp. 4,5 milyar, PSSI Pusat Rp. 1,5 milyar, Kantor Menpora Rp. 250 juta, Asian Games X Seoul Rp. 250 juta, administrasi Rp. 9 milyar, dan Rp. 4 milyar didepositokan sebagai "dana abadi".

Pada akhir tahun 1987, Porkas berubah nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB) dan menambahkan tebakan skor pertandingan sehingga peluang petaruh untuk menang menjadi lebih besar.

Setelah Porkas bubar, tahun 1989 ia mendirikan Kanindotex yang bergerak di bidang benang ikat di Semarang. Pada Oktober 1990 dia mulai mengekspor benang ikat ke Eropa. Tahun 1991 ia mendirikan pabrik benang ikat yang membutuhkan biaya 380 milyar Rupiah. Grup Kanindo menyumbang 130 milyar sedangkan sisanya berasal dari Bank Pembangunan Indonesia dan Bank Bumi Daya.

Johannes Budi Sutrisno Kotjo

GOSIPNYA salah satu rekan bisnisnya adalah Jenderal Soemitro yang ditunjuk menjadi presiden komisaris Grup Kanindo. Tahun 1993, Grup Kanindo mendirikan pusat belanja Century Center dan membayar artis terkenal Taiwan saat itu, Lin Qingxia untuk mempromosikannya. Bulan September 1994 Grup Kanindo bangkrut dan pemerintah mengambil alih manajemen serta memberikan tambahan modal Rp. 80 milyar. Kanindotex diserahkan pada Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI) dan sejak 2 Oktober 1995 diakuisisi PT Apac Inti Corpora (AIC) hingga kini. Komposisi kepemilikan saham PT AIC adalah 10% saham milik Johannes Budi Sutrisno Kotjo, 10% Bambang Riyadi Yoga Sugama, 10% Wisnu Suhardono, dan 70% Bambang Trihatmodjo.

Pada 21 Desember 1999 Robby menggugat PT AIC. Ia menuntut hak-haknya atas PT Kanindotex yang selama hampir enam tahun dikuasai oleh PT AIC yang manajemennya di bawah kendali Johannes Kotjo. Berdasarkan akta 141 tanggal 12 Mei 1995 ketika Kotjo menawarkan menyelamatkan Kanindotex, Robby mempunyai hak memiliki 36,6% saham Kanindotex, dan tagihan 70 juta Dolar AS yang belum ia terima. Menurutnya, Kotjo ingkar janji. Kotjo dituduh menerapkan manajemen tertutup sehingga Kanindotex mempunyai utang Rp. 3 trilyun. Karena itu, ia meminta audit investigasi untuk mengetahui pengeluaran dan pemasukan uang yang menyebabkan penumpukan utang. Audit lalu dilakukan oleh lembaga independen dan tuntutannya ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 23 Januari 2001.

Pada 13 Maret 2001 Robby malah balik ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) karena diduga merugikan negara 300 milyar Rupiah karena menaikkan harga pembelian mesin-mesin tenun dari Taiwan oleh PT Kanindotex dan penyimpangan penggunaan fasilitas Letter of Credit (L/C) oleh PT Apac Century (Acen). Kejagung menemukan kejanggalan karena mesin yang dibeli ternyata bukan dari Taiwan, tapi milik Kanindotex. Kejanggalan lainnya adalah tambahan modal 80 milyar Rupiah yang ternyata saat itu Kanindotex masih dimiliki Robby sepenuhnya dan kredit belum dinyatakan macet.

Windy Trihandayani

Entah siapa yang benar dan bagaimana kelanjutan kasusnya hingga pada tahun 2009 berhembus GOSIP salah satu istri simpanan Robby, Windy Trihandayani, dikabarkan hendak menikah dengan Anang Hermansyah yang ketika itu baru cerai dengan Krisdayanti.  

Bob Doank

Robby Tjahjadi (Bob Doank)
lahir 1957 di Bandung

USAHA
-Imah Seniman: Jl. Kolonel Masturi 8, Lembang, Bandung telp. 022-2787768
-Warung Kampung: Jl. Raya Tangkuban Perahu, Lembang, Bandung telp. 022-61311037
-Sapu Lidi: Jl. Sersan Bajuri Komp. Graha Puspa, Lembang, Bandung telp. 022-2786915
-Sapu Lidi Bali: Jl. Raya Pengosekan, Banjar Pengosekan Kelod, Ubud, Bali telp. 0361-977309
-Bebek Nonggeng: Jl. Cokorda Rai Pudak, Teges, Mas Ubud, Bali telp 0361-9160484

GOSIPNYA
Robby Tjahjadi yang lebih dikenal dengan nama Bob Doank sudah berbisnis dengan menjual mainan kembang api sejak umur 11 tahun. GOSIPNYA ia mengganti nama Robby Tjahjadi dengan julukan Bob Doank karena mirip dengan pelaku bisnis impor mobil ilegal yang juga bernama Robby Tjahjadi. Pada umur 18 tahun, ia membuat celana formal berbahan baku kanvas dan dipasarkan hingga ke seluruh Indonesia tapi tidak berhasil. Ia lalu membuat kaos nyeleneh di Bali yang juga gagal. GOSIPNYA ia sempat membuka banyak department store di Jakarta yang gagal total dan membuat ia bangkrut.

Tahun 1986 ia kembali ke Bandung. Dengan modal warisan dari orangtuanya yang telah meninggal senilai 900 ribu Rupiah, ia lalu menampung celana dan baju yang sudah rusak. Celana jeans yang telah bolong, ia sobek-sobek sehingga terlihat seperti sengaja dibuat berseni dan ia jual di Jalan Cihampelas. Karena dianggap tren baru, bisnisnya berjalan lancar dan ia mulai mengekspor ke Dubai, Jeddah, dan Moskow tahun 1996 bersama saudara-saudaranya.

Ketika itu ia sudah berkeluarga dan anaknya sudah agak besar dan butuh biaya sehingga ia menjalankan bisnis semaksimal mungkin. Ketika ia dan seorang temannya membuka toko di Moskow, ternyata Rusia belum modern. Kantor yang ia buka juga tak berizin dan penjualan dilakukan di kontainer.

Tahun 1998 terjadi krisis moneter di Asia. Karena Rusia pun terkena krisis, ia kembali ke Bandung. Karena pernah memprediksi bahwa ia takkan sanggup melawan produk Cina yang murah di industri garmen, ia pernah mencoba belajar memasak secara otodidak. Ia pernah menjual masakan Indonesia dengan gerobak di Cihampelas dan banyak yang menyukai masakannya.

Ia lalu membeli lahan kosong di daerah Lembang dengan cara mencicil. Rencananya, ia hendak membangun vila di sana, tapi tertunda karena krisis moneter. Ia membangun hutan dengan barang bekas karena keterbatasan dana. Ia lalu mencoba menjual makanan dengan membuka Dapur Sapu Lidi tahun 1999 yang tenyata sukses besar. Ia lalu meneruskannya dengan membuka Sapu Lidi Makan di Sawah tahun 2001 dan Warung Kampung tahun 2004.

Melihat bisnisnya berkembang, tahun 2010 ia membuka Imah Seniman karena melihat ada hutan lumayan luas dan membuka Sapu Lidi Resort di Ubud, Bali tahun 2013. GOSIPNYA Sapu Lidi di Bali berawal dari temannya yang minta dibuatkan konsep resto kafe tapi berkendala di tengah jalan, sehingga ia meneruskannya.

Kecintaannya pada alam diterapkan pada bisnisnya. Ketika ia membuat Imah Seniman, tak ada satu pun pohon yang ditebang. Tak hanya peduli pada lingkungan, ia juga peduli pada masyarakat sekitar resornya. Hal itu ditunjukkan pada resor Sapu Lidi Ubud.

Resor berada di tengah sawah dan dekat dengan perkampungan sekitar yang dibuat menjadi desa seni. Ia menghidupkan kegiatan budaya dan berkesenian langsung di rumah-rumah penduduk. Penduduk bisa membuat lukisan, seni ukir, atau patung. Sementara para wanita bisa membuat kuliner khas Bali. Resornya juga meminimalisasi sampah plastik. Sementara sampah organik akan dibuat pupuk.

Tahun 2013 ia membuka restoran bernama Bebek Nonggeng di Teges, Ubud. GOSIPNYA bisnis ini adalah penyaluran hobi masaknya dan seluruh menu yang ditawarkan di resornya adalah kreasinya.

Bin House

Josephine Werratie Komara (Ang Siok Bin) lahir 16 Juli 1955 di Jakarta
ayah: Adi Kusna Komara (Ang Kok Kie)
 
ibu: Hashima Komara (Khoe Siang Bie) lahir 18 Mei 1922
meninggal 17 Desember 2012 di Denpasar

suami: Roni Siswandi (Ong Lian Ie) lahir 10 November 1953 di Jakarta
meninggal 10 Januari 2013 di Denpasar

anak: Airlangga Komara
kakak: Robert Abdurrahman (Khoe Han Tiong) - Hikmah
Angelina Werranie Komara (Ang Siok Lian)

GOSIPNYA
Meski terlahir sebagai keturunan Tionghoa, Josephine Werratie Komara alias Obin, mulai jatuh cinta pada budaya Indonesia saat melihat penampilan ibunya yang gemar menggunakan kebaya dan kain tradisional. Sejak pertengahan tahun 1970, ia mengumpulkan potongan-potongan kain dari seluruh pelosok Indonesia. Baginya, kain mencirikan budaya dan tradisi. Jika budaya dan tradisi hilang, maka kain hanya selembar kain biasa. GOSIPNYA ia hanya bersekolah hingga kelas 5 SD.

Tahun 1986 ia membuka toko pertamanya di Menteng, Jakarta Pusat di sebuah pavilion kecil. Kain-kain antik yang telah dikoleksinya sejak tahun 70-an menjadi acuan dalam mengembangkan kain Bin House. Sejak tahun 1989 ia lebih fokus membuat kain lewat serangkaian eksperimen. Jika sebelumnya ia membuat di atas katun diganti jadi di atas tenun. Metode pengerjaannya pun beragam mulai dari sulam, pintalan, lilitan, kain cutwork, pecah pola hingga pewarnaan alami.

Semua kain-kain itu dikerjakan dengan tangan tanpa bantuan mesin. Tak heran bila dalam pembuatannya, sepotong kain memakan waktu hingga hitungan bulan bahkan tahun. Harga puluhan juta rupiah pun dirasa pantas. Dibantu suami beserta dua adik iparnya, Inke Rafida dan Yusman Siswandi, teknik dan motif kain Bin House terus berkembang. GOSIPNYA aktris Julia Roberts dan penyanyi Mick Jagger mengoleksi karyanya.

Pada September 2009, ia menjadi delegasi Indonesia dalam rangka promosi budaya "Indonesian Inspired" yang diadakan oleh Asia House London. Ia diundang sebagai pembicara mengenai Indonesia yang mengusung tema "From Tradition to Glamour". Ia membawa koleksi pribadinya untuk dipamerkan. Sambil mengenakan kebaya batik berdiri bertelanjang kaki di atas panggung, ia menjelaskan secara lugas mengenai teknik pembuatan dan desain batik karyanya.

Penjelasannya yang sangat detil membuat pengunjung sangat terkesan. Ia juga menanggapi semua pertanyaan dari para pengunjung, termasuk ketika ada pertanyaan apakah batik berasal dari Malaysia atau India. Ia menjelaskan bahwa batik berasal dari Indonesia. Batik berasal dari bahasa Jawa 'ba' atau 'mba' yang berarti menulis dan 'tik' yang berarti titik.

Selain lewat Bin House, ia juga berusaha memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai beragam jenis teknik pembuatan kain melalui bukunya 'White On White'. Isinya tentang koleksi khusus kain putih produksi Bin House sejak 1999. Saat ini gerai Bin House terdapat di Jakarta, Bali, Singapura, Jepang, Taipei, Hong Kong, Kuala Lumpur, Thailand, Eropa, dan Amerika Serikat. Pada tahun 2015, PT Bin Komara Huma membuka Museum Kain di Kuta, Bali.

Hendrik Tio

Hendrik Tio
lahir 1963 di Rantau Prapat, Sumatra Utara

GOSIPNYA
Setelah 10 tahun sekolah di Kalam Kudus Medan, Hendrik Tio pindah ke SMA Katolik Medan mengambil jurusan IPS. Setelah lulus, pada tahun 1981 ia kuliah akuntansi di Universitas Sumatera Utara, Medan. Sambil kuliah, ia bekerja di sebuah perusahaan teknologi informasi asing asal Singapura. Ia menjadi kepala cabang area Medan. Setelah dua tahun bekerja, ia mengundurkan diri karena dua alasan. Pertama, perusahaannya tidak mau menerima ide-idenya. Kedua, perusahaan tersebut menutup usahanya di Indonesia dan memilih fokus berbisnis di Singapura.

Setelah lulus kuliah, ia pindah ke Jakarta. Pada tahun 1993, bersama empat rekannya, ia mendirikan PT Bhinneka Mentari Dimensi (BMD) yang berkantor di sebuah rumah kontrakan di sebuah gang buntu daerah Pulomas, Jakarta Timur dengan modal Rp. 100 juta dan 12 pekerja. BMD mendistribusikan produk-produk information technology (IT). Awalnya, BMD hanya mendistribusikan barang arsitektur seperti mesin gambar dan printer.

BMD mendapat rekanan dari luar negeri karena ia pernah berkerjasama dengan perusahaan itu ketika masih bekerja sebagai tenaga pemasaran. Pada tahun kedua, perusahaannya mendapat suntikan modal dari angel investor. Tahun 1996 ia merambah bisnis jual beli komputer termasuk komputer rakitan.

Ia lalu mengirim tim ke Amerika Serikat (AS) agar Micron Electronics, produsen komputer bermerek Micron, mau bekerjasama dengan BMD dan ternyata disetujui. BMD mendapat penghargaan sebagai Distributor of The Year dari Micron Electronics pada tahun 1997. BMD menjadi distributor komputer, peripheral, rancang bangun perangkat lunak jasa jaringan (LAN/WAN), solusi video editing, hingga pusat servis. Pada tahun 1997, ia mencapai break event point. Pada tahun yang sama krisis ekonomi melanda Asia. BMD pun kena imbas karena bisnisnya bergantung pada nilai tukar Dolar AS.

Tahun 1999 hanya 24 karyawan yang tersisa dari 129. Ia lalu berkesimpulan bahwa untuk membangun bisnis butuh merek yang kuat. Ia mengubah model bisnis, dari agen distributor jadi ritel produk komputer. BMD pun mulai merambah ke bisnis e-commerce karena melihat bisnis internet di AS berkembang pesat. Alasan lainnya, cara ini juga hemat biaya karena hanya perlu mengeluarkan dana untuk biaya hosting dan domain. Maka Bhinneka.com pun lahir.

Awalnya Bhinneka berbentuk katalog dari produk-produk yang mereka tawarkan. Ia menambah barang dagangan setiap hari dan mengubah desain situs dua kali dalam setahun. Meski begitu, bisnis Bhinneka berjalan lambat. Angka kunjungannya sangat sedikit. 50 pengunjung dalam sehari saja sudah dianggap sangat baik.

Ketika itu internet di Indonesia masih menggunakan dial-up memakai koneksi telepon. Itupun masih dianggap sebuah kemewahan. Akses situs pun jadi lambat. Untuk membuka situs lengkap dengan gambarnya, butuh waktu lama. Bila berhasil masuk, belum tentu gambarnya muncul. Orang yang mengenal internet pun masih sedikit.

Ia berusaha menggenjot trafik pengunjung. Karyawan gencar menghubungi konsumen dan mengenalkan situs Bhinneka. Iklan pun dipasang di media massa. Masalah lain adalah pengiriman barang yang belum baik. Karena itu, Bhinneka hanya melayani pembelian di area Jakarta dan mengantarkannya lewat kurir sendiri. Ternyata hal itu berhasil meningkatkan pengunjung.

Keberhasilan Bhinneka bertumbuh di tengah krisis ekonomi ditambah internet yang sedang naik daun mengundang banyak investor asing dan lokal masuk ke bisnis ini. Setahun kemudian, muncul situs jual beli seperti lipposhop.com, astaga.com, kopitime.com. Tidak lama kemudian, gelembung ekonomi dotcom pecah di AS. Perusahaan-perusahaan berbasis internet yang harga sahamnya sempat meningkat tajam dan diburu investor, mengalami penurunan drastis akibat kegagalan menemukan modal bisnis yang sesuai, merugi, atau bangkrut.

Bagi perusahaan internet di Indonesia, kejadian ini memperburuk tingkat kepercayaan masyarakat. Orang semakin enggan berbelanja online. Bhinneka pun harus menerima kenyataan pahit: permohonan pinjamannya ditolak perbankan. Sistem pembayaran online pun masih kacau. Waktu itu, orang hanya punya sedikit pilihan dalam pembayaran non-tunai, salah satunya dengan kartu kredit. Orang dikenakan biaya yang mahal untuk sekali gesek yaitu sekitar 9%. Penipuan kartu kredit pun sangat tinggi.

Agar kembali dipercaya, tahun 2001 Bhinneka membuka toko offline pertama di Mangga Dua Mall. Enam tahun kemudian, toko offline di Poins Square dan Mall Ambassador dibuka. Toko offline sukses mengembalikan kepercayaan masyarakat pada Bhinneka. Orang yang tidak percaya berbelanja online bisa langsung belanja ke toko offline. GOSIPNYA Bhinneka.com adalah e-commerce pertama di Indonesia yang menerapkan sistem offline dan online.

Seiring kondisi ekonomi yang membaik serta akses dan pengetahuan masyarakat yang meningkat pada internet, bisnis Bhinneka mulai berkembang. Layanan yang disempurnakan adalah sistem pembayaran dengan kartu kredit. Sebenarnya layanan ini sudah ada sejak 2010 tapi sempat dihentikan karena bank memungut biaya yang tinggi.

Setahun kemudian, pembayaran dengan kartu kredit dihadirkan disertai layanan pembayaran lainnya. Saat ini Bhinneka menyediakan 15 macam sistem pembayaran: virtual account, ATM otomatis, internet banking, kartu kredit, kartu debit, cicilan 0%, cicilan 0,99%, uang elektronik, QR Code Scan, FinPay, cicilan tanpa kartu kredit, COD, kartu kredit tanpa bunga, transfer bank, dan korporasi.

Bhinneka juga menangkap peluang dari pertumbuhan smartphone. Sejak tahun 2012, mereka mengembangkan mobile platform berbasis Android, BlackBerry, dan iOS. Bhinneka juga membuat memasuki bisnis marketplace lewat Bhinneka Marketplace. Konsepnya tidak jauh dari marketplace yang sudah ada yaitu dengan menggandeng penjual lain untuk menawarkan barangnya di Bhinneka. Perbedaannya, tidak semua pedagang bisa bergabung. Ada proses seleksi ketat untuk menghindari barang bajakan dan penipuan.

Bhinneka juga menggarap segmen korporasi melalui Bhinneka Bisnis. Layanan ini adalah platform online pencarian dan pengadaan kebutuhan produk serta jasa korporasi. Layanan ini menawarkan akses terhadap online catalogue ke lebih dari 150.000 produk dan jasa, khusus untuk segmen korporasi. Keunggulan layanan ini adalah perusahaan bisa melakukan pembayaran secara bertahap. Fitur tracking disediakan agar perusahaan bisa tahu aktivitas pembelian.

Saat ini Bhinneka adalah salah satu pemain utama dalam bisnis e-commerce di Indonesia. Ada lebih dari 50.000 produk, 760.000 anggota, 2.600 pedagang, dan 36 kategori produk di Bhinneka.com. GOSIPNYA omzetnya mencapai lebih dari Rp. 1 trilyun per tahun, dengan jumlah karyawan 715 orang.

Yacob Kusmanto

Yacob Kusmanto (Tjee Kwet Kin)
lahir 13 Januari 1961 di Bandung
ayah: Yoseph Kusmanto (Tjee Tjoen Hian)
ibu: Maria Kusmanto
istri: Pudji Binarti (Rosa)
anak: Sylviana Kusmanto, Naomi Christiana Kusmanto

USAHA
-PT Tegar Prima Nusantara membuat perlengkapan bayi bermerek Dialogue
-CV Duta Setia Garment membuat perlengkapan bayi bermerek Dialogue
-PT Dialogue Garmindo Utama mendistribusikan merek Dialogue
-CV Dialogue Putra Prima mendistribusikan produk Dialogue
-CV Cipta Kreasi Abadi mendistribusikan produk Dialogue
-CV Karya Abadi Mandiri mendistribusikan produk Dialogue
-CV Pelangi Kasih Nusantara mendistribusikan produk Dialogue
-UD Chintaka Bumi Pertiwi mendistribusikan produk Dialogue
-PT Tirai Pelangi Nusantara memproduksi perlengkapan bayi bermerek Snobby
-PT Rabat Abadi Jaya mendistribusikan produk Snobby
-PT Putera Raja Sejahtera mendistribusikan produk Snobby
-PT Bahtera Laju Nusantara memproduksi perlengkapan bayi bermerek Baby Joy dan Mom's Baby
-PT Harmoni Utama Tekstil menghasilkan tirai dan kelambu bermerek Harmoni
-PT Adiguna Eka Sentra membuat gorden tebal
-PT Kota Pelangi mendistribusikan perlengkapan rumah tangga
-PT Immanuel Knitting memproduksi taplak meja

GOSIPNYA
Yacob Kusmanto terlahir sebagai anak pasangan supir taksi 4848 dan penjual kue di Bandung. GOSIPNYA ia sudah diajari berbisnis sejak umur 5 tahun. Ketika itu ia mendapat uang jajan jika membantu memarutkan kelapa untuk usaha kue semprong, telur asin dan tauge yang dibuat ibunya. Karena uang jajannya sangat kecil, ia terbiasa berhemat dan menabung. Untuk sekolah, ia membawa bekal nasi hangat yang dikepal-kepal dengan garam.

Ketika bersekolah di SMA Santa Maria, Bandung, ia sering berkelahi dengan sesama siswa di sekolahnya. GOSIPNYA karena nilai di sekolahnya buruk, ia berusaha menonjolkan diri dengan berkelahi dengan kakak kelas yang lebih besar. Karena kenakalannya, ia pernah dipenjara. GOSIPNYA ia pernah dihukum dengan cara kakinya digencet kaki meja dan tulang keringnya dipukul dengan pistol. Karena dipenjara, ia terpaksa pergi dari rumahnya dan hidup di lingkungan minuman keras dan narkotika.

Suatu ketika Yacob insaf dan meminta pekerjaan kepada Yamin Haryanto, teman sekampung orang tuanya dari Cilacap yang berbisnis tekstil di Bandung. Pada tahun 1979, sebelum memutuskan keluar saat kelas 2 SMA di usia 18 tahun, ia membolos seminggu untuk mencoba suasana kerja. Setelah mantap, ia minta izin dari kantornya untuk pamit kepada pihak sekolah. CV Wiska milik Yamin memproduksi handuk dan tirai.

Ia selalu bekerja lembur. Ia masuk pukul 6 pagi dan pulang di atas pukul 5 sore. Ia selalu mematuhi perintah atasan dan tidak pernah membantah saat dikritik atasan. Setelah bekerja lebih dari enam bulan, ia memberanikan diri membeli handuk-handuk reject dari CV Wiska dan dikabulkan. Beragam handuk cacat produksi itu lalu dipermak lagi menjadi sapu tangan kecil dan lap cuci.

Ketika melihat ada tetangganya yang berbisnis printing, ia pun memberikan motif cetak di produknya dan menjualnya di pasar tradisional Cibangkong, Bandung, tidak jauh dari kontrakannya saat itu di Gang Warta, Gatot Subroto. Ia lalu mengangkat temannya sebagai tenaga penjualan untuk membantu pekerjaannya.

Ketika mendapat pesanan dari Purwokerto dan melihat dekat tempat tinggalnya ada usaha travel, insting bisnisnya bekerja. Ia menukar jasa antar barang ke Purwokerto dengan mencucikan mobil-mobil perusahaan travel tersebut. Setiap libur kerja di Sabtu dan Minggu, ia mengirim produk ke sana.

Yacob digaji Rp. 75 ribu per bulan (GOSIP lain bilang 40 ribu) di CV Wiska tapi penghasilan bisnis sampingannya malah mencapai Rp. 2 juta per bulan. Setelah pamit kepada atasannya, tahun 1984 ia membuka pabrik sendiri di Leuwigajah, Bandung. Ia mengontrak lahan seluas 1 hektare selama lima tahun. Berkat hubungan baiknya dengan mantan bosnya, ia diizinkan membeli mesin bekas milik mantan bosnya. Ia juga dipinjami suku cadang dan teknisi saat mesin-mesinnya mengalami masalah.

Bisnisnya terus berkembang karena ia selalu cermat mengalokasikan modal. Ia mengaku sebagai orang yang hemat, baik dalam gaya hidup maupun pengeluaran perusahaan. GOSIPNYA karena itulah saat krisis moneter 1997 terjadi, ia justru mendapat untung besar dari pembelian aset-aset mesin perusahaan tekstil lain. Ia juga memiliki perusahaan distribusi sendiri sehingga punya jaringan nasional yang kuat sampai ke pasar tradisional sehingga ia pun tidak perlu promosi besar-besaran. Strategi ini juga membuat perusahaan-perusahaannya tetap kokoh disaat perusahaan tekstil lainnya goyah melawan produk serupa asal Cina. Menurutnya, kebanyakan perusahaan jatuh karena terlalu mengandalkan pasar grosir.

Strategi lainnya yang menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan bisnisnya adalah kemampuannya mencetak pemimpin. Ia berprinsip, jika seorang karyawan sudah 10 tahun mengikutinya, itulah saatnya dia harus menjadi pemimpin. Jika tidak, berarti pemimpinnya tidak mampu memercayai bawahannya dan bisnis takkan berkembang. Dengan pengalamannya, kini ia hanya butuh waktu 5 tahun saja untuk mencetak pemimpin.

Dengan kian cepatnya kemampuan mencetak pemimpin, laju ekspansi perusahaan juga kian kencang. “Dulu untuk menambah satu perusahaan bisa lima tahun, kini satu tahun bisa membuat 3-4 perusahaan,” katanya. Ia memang tak ragu mendidik anak buahnya yang berkarakter jujur, gigih dan tak hitung-hitungan dalam bekerja. Mirip dirinya semasa muda dulu. “Yang terpenting bagi saya dalam menunjuk pemimpin adalah karakternya. Soal pendidikan, skill, dan lainnya itu bisa dilatih.” Atas dasar itulah, ia kini memiliki seorang lulusan STM yang memimpin PT Tegar Prima Nusantara dan seorang lulusan SMEA Akuntansi yang memimpin CV Duta Baby.

Di perusahaannya, mulai dari level kepala bagian sampai General Manager (GM) harus tahu kondisi keuangan perusahaan baik modal, biaya pembelian, harga jual, dan lainnya. Ia tak takut rahasia bisnisnya dicuri pesaing atau karyawan yang berubah menjadi pesaing. Menurutnya, dari persaingan justru muncul kreativitas. Ia lebih suka menyikapi kompetisi dengan dorongan agar lebih kreatif daripada hanya memaki-maki. Hal itu dibuktikan saat salah satu pegawainya hengkang dari perusahaannya dan membuat perusahaan sejenis dan menarik beberapa karyawan kuncinya. Meski begitu, laju perusahaannya masih melaju mulus seolah mendukung prinsipnya.

Retnowati

Retnowati adalah seorang lulusan SMA yang menjadi Manajer PT Tirai Pelangi Nusantara. Sepuluh tahun lalu, Retno adalah pembantu rumah tangga di rumah Yacob yang juga dijadikan kantor. Karena tinggal di rumah Yacob, Retno berinisiatif mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel sebelum masuk kerja dan setelah jam kantor usai. Semua itu dilakukan tanpa perintah Yacob.

Yacob ternyata memperhatikan kegigihannya. Retno yang awalnya bekerja di bagian pengemasan diberi keterampilan menjahit, selanjutnya menjadi pemimpin grup jahit, lalu dididik pengetahuan administrasi, kemudian diberi kepercayaan memimpin sebuah grup jahit di Kembangan, Jakarta Barat.

Saat dipindahkan ke rumah Yacob di Kembangan yang juga merangkap kantor, Retno gagal memimpin grupnya. Ia lalu ditarik kembali ke Bandung menjadi staf biasa. Ketika ada posisi lowong di PT Tirai Pelangi Nusantara pada 2009, ia kembali dipercaya Yacob menjadi manajer bagian produksi. Pada Juni 2010 ia dipercaya memegang seluruh kendali operasional, produksi dan pergudangan perusahaan tersebut dengan karyawan sekitar 500 orang.

GOSIPNYA Yacob membantu puluhan orang menjadi pengusaha kasur lantai yang dikenal dengan kasur Palembang sejak 1998 di Jakarta, Bekasi, Bangka Belitung sampai Kamboja. Ia memilih kasur Palembang karena pola pembuatannya yang mudah dan harga jualnya lumayan.

Dalam mementor, ia memiliki tim yang terdiri dari beberapa profesional sekaligus mantan anak didiknya yang telah sukses. Demi menjaga kualitas, waktu mentoring-nya cukup lama, terkadang bisa sampai lima tahun. Ia menekankan sistem referal agar hanya orang yang bersungguh-sungguh yang bergabung. Di Indonesia, para mantan anak didiknya kini mampu memproduksi sekitar 10 ribu kasur Palembang per bulan dengan harga sekitar Rp 100 ribu/buah. Sementara di Kamboja mencapai 500 unit per bulan. GOSIPNYA ia tidak mengambil untung.

Salah satu yang sukses dibantu Yacob adalah Eli Listiawati dan suaminya, Bambang Widiatmoko. Pasangan suami-istri yang bisnisnya di Magelang hancur karena utang judi suaminya itu kini sukses menjadi pengusaha kapuk randu dan kasur Palembang di Cipayung, Jakarta Timur. Eli mengenal Yacob sejak di Magelang karena Yacob kerap membantu memberikan usaha bagi jemaat di gereja Eli.

Eli yang pindah ke Jakarta tahun 2004 karena ingin membantu perekonomian keluarganya lantas secara tak sengaja bertemu kembali dengan Yacob. Mengetahui kesulitan Eli, Yacob lantas menawari kiosnya yang dikontraknya di Cipayung itu. Setelah menyambangi lokasi itu, Eli lantas diminta Yacob membuka usaha. Eli melihat di sekitar sana banyak perajin kasur Palembang. Ia pun berinisiatif berjualan kapuk yang digunakan untuk isi kasur Palembang. Dengan bantuan modal mobil bak dari Yacob, Eli lalu bergerilya mencari pemasok kapuk berharga terbaik hingga akhirnya ia menemukannya di kawasan Pati, Semarang, Jawa Tengah. Yacob membantu Eli dalam permodalan bahan baku dengan membelikan kapuk senilai Rp 26 juta.

Dibawah bimbingan Yacob, Eli gigih memasarkan kapuknya. Disambanginya para perajin kasur Palembang yang terbiasa mengisi kasurnya dengan kain bekas, bukannya kapuk. Usahanya perlahan berhasil dan akhirnya para perajin itu yang membeli darinya. Tak ketinggalan penjual kapuk keliling didatangi hingga ke pusatnya di daerah Condet, Kampung Makassar, dan lainnya di wilayah Jakarta Timur.

Berkat kegigihannya, usaha Eli berkembang pesat. Dan meski gudangnya sempat dilanda kebakaran pada 2007, kini usahanya terus berkembang. Setiap hari ia menjual sekitar 1.400 kilogram kapuk (50 bal) dengan harga Rp 9.000/kg. Selain itu, ia kini juga memproduksi hingga 1.800 kasur Palembang per bulan dengan harga Rp 80 ribu/buah.

Sylviana Kusmanto

GOSIPNYA kini Yacob menjadi koordinator business mentoring di Kingdom Business Community (KBC) yang didirikan sejak 14 Januari 2005 oleh 10 pasang suami istri di Jakarta. Lewat KBC, ia bertekad mencetak 2.000 pemimpin. GOSIPNYA anaknya, Sylviana, adalah koordinator Dare To Succeed (DTS) Bandung, sebuah komunitas mirip KBC untuk para calon pemimpin muda.

Holycow

Lucy Wiryono & Afit Dwi Purwanto

CABANG HOLYCOW! STEAKHOUSE BY CHEF AFIT
-Jabodetabek (13)
#CAMPSenopati2: Jalan Wolter Monginsidi, Ruko De Monginsidi No.12E, South Jakarta Reservations : 0838 0787 8973
#CAMPTendean: Jalan Kapten Tendean no.41 South Jakarta
Reservations : 0821 2322 4737
#CAMPGading: Raya Boulevard Blok. WB2 No. 16, Kelapa Gading, North Jakarta Reservations : 021-4508413
#CAMPCitos: Jalan TB.Simatupang Cilandak Town Square Reservations : 021-75916367
#CAMPAlamSutera: Jalan Jalur Sutera 25 BC, Kompleks Ruko The Element No.B-18 Reservations : 021-29314952
#CAMPPIK: Jalan Pantai Indah Kapuk, Kamal Muara, Rukan Gold Coast Blok B No. 16 Reservations : 0877 1131 9816
#CAMPBonjer: Jalan Panjang No.18, West Jakarta Reservations : 021-53662815
#CAMPBintaro: Jalan Menteng Raya Blok FG1/6, Bintaro Jaya Sektor 5 Reservations : 021-74867919
#CAMPCibubur: Jalan Raya Alternatif Cibubur, Ruko Ciputra Mall Blok Rcw 6 No. 1 Citra Gran Reservations : 0812 9447 8983
#CAMPBatuTulis: Jalan Batu Tulis Raya, No.22H, Central Jakarta, Reservations : 0813 1896 1721
#CAMPKalimalang: Jalan Raya Kalimalang, Ruko Green Terrace no.8, East Jakarta Reservations : 021-22869087
#CAMPSerpong: Ruko Mendrisio 3 No.B-31, Jl. Boulevard Ilago, Serpong. Tangerang Selatan, Reservations : 0813 8066 8980
#CAMPBekasi: Ruko Bulevard Hijau, Blok B-8 No.33-35, Kota Harapan Indah Bekasi, Reservations : 0821 1077 0128

-Surabaya (2)
#CAMPSurabaya: Jalan Pregolan no.6, Reservations : 031-5343412
#CAMPSurabaya2: Jalan Hayam Wuruk no.6, Surabaya Town Square, Ground Floor, Reservations : 031-5634682

-Bali (2)
#CAMPBali: Jalan Dewi Sri no.70, Legian, Reservations : 0361-766149 / 0878 6021 3978
#CAMPBali2: Pertokoan Bajra Sandi no.1, Jalan Raya Puputan Renon No.286A, Denpasar, Reservations : 0819 9953 1834

-Makassar
#CAMPMakassar: Jalan Pengayoman A5 no.9, Panakukkang, Reservations : 0411-441333

-Malang
#CAMPMalang: Jalan Raya Dieng no.32 (Depan Cyber Mall / Plaza Dieng) Reservations : 0341-573804

-Pekanbaru
#CAMPPekanbaru: Jalan Soekarno Hatta no,45 Labuh Baru Timur, Payung Sekaki
Reservations : 0822 6818 8588

-Medan
 #CAMPMedan: Jl. Mayjen D.I Panjaitan No.173, Babura, Medan Petisah, Kota Medan
Reservations : 0813 7502 6727

CABANG LOBBIE LOBSTER
-Jakarta (2)
*Bonjer: Jalan Panjang No.18 West Jakarta Telp. 0812 8075 9898
*Bintaro: Jalan Menteng Raya Blok FG1/6, Bintaro Jaya Sektor 5 Telp. 0815 8468 1298 

-Makassar: Jalan Pengayoman A5 no.9, Panakukkang Telp. 0813 2888 7878  

CABANG THE HOLY RIBS
-Jakarta (2)
*Pondok Indah Plaza 6 (Ranch Market Area) Telp. 0813 1881 8112
*LOTTE Shopping Ave 3rd fl. Telp. 0877 8070 8002
 

-Bandung: Tirtayasa no.30 Telp. 0812 2002 3458 

Iswanda Mardio

Wynda Mardio

CABANG STEAK HOTEL BY HOLYCOW!
-Jakarta (8)
*TKP Halim: Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur
*TKP Neo Soho: Neo Soho, Podomoro City Lt. 4-4M, Jl. Letjen. S. Parman Kav. 28, Petamburan, Grogol, Jakarta Barat Telp. 021-27893389
*TKP Gandaria City: Gandaria City 2nd Floor, Jl. Sultan Iskandar Muda No 22-23, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan Telp. 021-29236310
*TKP Kokas: Kota Casablanca Mall, UG Floor, Jl. Casablanca Raya Kav. 88, Jakarta Selatan Telp. 021-29612732
*TKP Benhil: Lantai 1 Gedung Teras Benhil, Jl. Bendungan Hilir Raya No. 34, Jakarta Pusat Telp. 021-29017373
*TKP Sabang: Lantai 5 Gedung Seremanis Jl. KH. Agus Salim No. 16, Jakarta Pusat Telp. 021-31906420
*TKP Kemang: Jl. Kemang Raya No. 95E, Jakarta Selatan Telp. 021-7181949
*TKP Radal: Jl. Radio Dalam Raya No. 15, Jakarta Selatan Telp. 021-7202776

-Tangerang (4)
*TKP Supermal Karawaci: Supermal Karawaci, UG Floor, Unit 113
Jl. Boulevard Diponegoro 105 Tangerang Telp. 021-29126555
*TKP T3 Ultimate: Soekarno Hatta International Airport T3 Ultimate, Tangerang
*TKP Bintaro Playground: Jl. Cendrawasih No. 71 Ciputat, Tangerang Telp. 021-7432857
*TKP BSD: Ruko Bidex 2B No. 2, Jl. Pahlawan Seribu, BSD City, Tangerang Telp. 021-53164418

-Bandung (2)
*TKP Bandung 2: Jl. Cipaganti No 150-152, Bandung Telp. 022-2035162
*TKP PVJ: Paris Van Java, Concourse Level, Unit CL-12B, Jl. Sukajadi No. 131–139 Telp: 022-82063511

-Surabaya (2)
*TKP Surabaya 2: Jl. Raya Kertajaya Indah 75 Telp. 031-59172057
*TKP Surabaya: Kompleks Ruko Plaza Graha Famili B3 & B5, Jl. Yono Soewoyo, Surabaya Telp. 031-7329526

-Semarang: TKP Semarang: Jl. Sultan Agung No. 142, Semarang Telp. 024-8509889

GOSIPNYA
Sejak kecil keluarga Afit Dwi Purwanto sangat menyukai steak. Ayahnya penggemar berat steak daging sapi asal Amerika sedangkan ibunya pandai memasak steak. Berbagai peralatan memasak steak dimiliki keluarganya. Steak bahkan jadi menu sahur keluarganya.

Sejak kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Afit bertekad menjadi pengusaha. Afit pernah menjual kaus distro sablonan. Bahkan, kaus yang ia buat itu sempat dipakai oleh salah satu VJ MTV. Afit yang saat itu terpengaruh gaya hidup remaja, membuat bisnisnya hancur. Ia lalu berbisnis keripik dan mendirikan perusahaan trading dan berakhir dalam kegagalan. Bahkan pada tahun 2004, GOSIPNYA Afit tertipu lebih dari Rp 300 juta.

Dari dua kegagalan itu, ia mendapatkan dua pelajaran. Pertama, terpatok pada upaya meraih keuntungan besar dengan cepat. Kedua, tidak memahami seluk beluk bisnis yang ditekuni. Setelah dewasa dan menikah dengan Lucy Wiryono pada awal 2004, Afit yang merupakan sulung dari tiga bersaudara terbawa ibunya gemar memasak steak.

Suatu hari pada tahun 2006, Afit yang bekerja di bagian penjualan di RCTI menyantap steak wagyu di sebuah restoran di mal saat sedang bertemu klien. Harga steak wagyu yang ia santap sangat mahal, sekitar Rp. 900 ribu. Ketika itu, wagyu memang masih langka. Afit lalu mengajak Lucy membuat steak wagyu sendiri dengan resepnya. Sejak itu mereka tak pernah membeli steak wagyu di restoran.

Bertahun-tahun ia melakukan percobaan untuk mendapatkan resep steak wagyu yang enak. Setelah merasa mantap, Afit dan Lucy mengundang orangtua dan teman-teman mereka untuk mencicipi dan semuanya mengatakan enak. Teman-temannya menyarankan Afit membuka restoran. Afit masih ragu karena ia masih bekerja dan tak punya pengalaman berbisnis.

Suatu hari ketika menangani acara Piala Dunia 2006, Afit merasa stres karena beban pekerjaannya sangat berat. Kala itu, ia bekerja sangat keras karena targetnya amat besar. Berada pada titik jenuh, ia kembali teringat pada keinginannya berbisnis. Afit memilih steak wagyu menggunakan resepnya sendiri karena steak dengan harga murah sudah banyak. Orangtuanya tidak setuju karena tidak ada darah bisnis mengalir dalam keluarga mereka.

Apalagi, saat itu Afit dan Lucy sudah dikaruniai anak berusia dua tahun. Afit sendiri saat itu baru saja naik jabatan menjadi sales marketing manager, dengan fasilitas mobil, sopir, dan asuransi. Tapi hasrat yang menggebu membuat Afit pantang mundur. Melihat hal itu, ibunya akhirnya setuju. Agar keuangan keluarga tak goncang, Lucy menjadi tulang punggung keluarga untuk sementara. Sebagai latihan, Afit memasak bagi orang banyak dan Lucy mengundang lebih banyak teman ke rumah.

Iswanda, Wynda, Afit

Bersama Lucy dan pasangan suami-istri Iswanda dan Wynda Mardio, Afit memutuskan membuka tempat makan khusus wagyu dengan harga terjangkau. Afit mengumpulkan uang bonus yang didapatnya selama bekerja sebesar Rp. 70 juta. Wynda mengumpulkan uang 100 juta yang berasal dari tabungan dan “uang penghargaan” setelah dia berhenti bekerja sebagai produser Hard Rock FM Jakarta dan produser acara ANTV. Tidak diketahui berapa sumbangan modal dari Lucy dan Iswanda. Uang yang mereka kumpulkan lalu dipakai untuk membeli peralatan grill, perlengkapan usaha, gaji karyawan, dan lainnya. Karena modal terbatas, mereka tak mampu menyewa tempat.

Mereka lalu berjualan di pinggir jalan menggunakan tenda. Mendapatkan lokasi untuk berjualan merupakan perjuangan tersendiri bagi Afit dan Lucy. “Kami harus mendatangi toko satu per satu untuk menanyakan apakah kami diizinkan berjualan di depan toko tersebut. Pengalaman pahit seperti diusir sudah jadi hal biasa,” kata Afit.

Pada 15 Maret 2010 seorang pemilik toko kaca film mobil di Jalan Radio Dalam mengizinkan mereka menggunakan lahan depan toko untuk berjualan steak, setelah toko tutup sore hari. Peralatan dibawa ke lokasi dengan mobil boks menjelang tenda dibuka dan kembali diangkut setelah tutup. Daging diimpor dari Australia sedangkan bumbu dan sayuran tetap lokal. Meski lokal, sayuran tidak asal pilih tapi bekerja sama dengan komunitas www.indonesiaberkebun.org. Saat itu mereka menjual steak Rp. 90 ribu per porsi, sangat jauh dengan harga steak wagyu di tempat lain yang mencapai Rp. 300 ribu per porsi.

Di hari pertama pembukaan, mereka sempat kelabakan karena proses pembuatan dan penyajian steak cukup rumit dan butuh waktu yang lama. Saat itu hanya ada lima orang staf termasuk Wynda dan Afit yang merangkap jadi koki padahal tamu-tamu undangan dan pelanggan banyak berdatangan sehingga antriannya panjang. Ditambah lagi saat itu hujan dan tendanya bocor.

Marketing dilakukan hanya lewat Twitter dan Facebook yang ternyata sukses besar. Pada bulan ke 3, mereka sudah break even point dan mulai meraih laba pada bulan berikutnya. GOSIPNYA saat itu mereka mampu menjual 40 porsi steak per hari. Melihat penjualan sangat baik, mereka berencana membuka cabang sehingga pada September 2010 mereka meminjam uang ke bank untuk membuka cabang di Jalan Bakti, Senopati, Jakarta Selatan. Seperti halnya gerai di Radio Dalam, gerai di Senopati pun selalu penuh pengunjung.

Tahun 2011 Wynda membuka cabang di Orchard Road, Singapura. Karena masalah regulasi keuangan, bisnis menjadi lebih sulit. Akibatnya ia sempat mengalami banyak masalah termasuk mencari pekerja. Ia pun memutuskan untuk mempekerjakan pelajar dan ibu-ibu rumah tangga yang ada di sana yang ternyata tak berjalan sesuai rencana. Usahanya hanya berjalan sembilan bulan saja dan bangkrut.

Wynda Mardio & Medina Aprilia

Pada Juni 2011 Wynda membuka bisnis cupcake bersama teman dekatnya, Medina Aprilia. Cupcake ini juga dijual di Holycow milik Wanda-Wynda. Bisnis cupcake berkendala dengan pengiriman. Cupcake dihias dengan krim sehingga tak bisa dikirim ke tempat yang terlalu jauh.

Pada Mei 2012 Afit dan Lucy mengajukan untuk berpisah dengan Wanda-Wynda karena muncul masalah kepercayaan. Pemisahan dilakukan secara profesional dengan menggunakan jasa mediator bersertifikat dan notaris agar pembagian kepemilikan saham tercatat sah.

Wanda-Wynda mendapatkan gerai di Radio Dalam, Afit-Lucy mendapatkan gerai di Senopati, sedangkan gerai di Singapura ditutup. Dengan dibubarkannya perusahaan, utang bank untuk modal mendirikan gerai Senopati harus langsung dilunasi. Penutupan gerai di Singapura yang masa sewanya belum mencapai satu tahun menyisakan denda penalti sebesar 85 ribu Dolar Singapura. Tak ingin masalah berlarut-larut, Afit dan Lucy sepakat mengambil risiko dengan membereskan semua utang dan denda penalti itu, meski mereka harus menguras tabungan pribadi. Afit-Lucy dan Wanda-Wynda lalu menjalankan usahanya masing-masing.

Meski sama-sama menggunakan nama Holycow, Afit harus melahirkan sebuah merek baru yang berbeda, termasuk tidak lagi menyebut gerainya sebagai TKP (Tempat Karnivora Pesta), melainkan menggantinya menjadi CAMP (CArnivores Meat-ing Point).

Untuk meningkatkan perhatian pada mereknya, Afit melakukan sayembara logo bertajuk PEMILGO (Pemilihan Logo). Logo itu dibuat dan dipilih secara voting oleh netizen sehingga pada Oktober 2012 lahirlah Holycow! Steakhouse by Chef Afit yang dipakai oleh Lucy-Afit sedangkan Wanda-Wynda memakai nama Steak Hotel by Holycow!. Karena kemiripan nama itu sah di mata hukum, keduanya pun berhak bertarung di pasar.

Perubahan logo yang terjadi tak membuat banyak konsumen mengetahui perbedaan dua jenis Holycow ini. Oleh karena itu, Lucy merasa perlu untuk terus mengomunikasikan hal ini jika diperlukan. “Kami tidak mau jika kami melakukan hal buruk, mereka akan terkena dampak. Sebaliknya, jika kami melakukan hal yang baik, mereka yang dapat kreditnya. Intinya, kami selalu terbuka soal apa yang terjadi pada kami di masa lalu,” kata pembawa acara MotoGP di Trans7 ini.

Saat pemecahan terjadi, Afit merasa kewalahan akibat keputusan 28 pegawainya yang ingin tetap ikut bersamanya. Namun, Afit dan Lucy tak mau memecat karyawan yang ikut mereka apalagi niat awal Afit membuka Holycow adalah membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Beruntung ada investor baru sehingga ia bisa membuka gerai baru di Kelapa Gading yang menampung kelebihan pegawai tersebut. Ia lalu memberikan ekstra libur yang lebih panjang dengan shift yang lebih pendek.

Afit yang sebelumnya hanya fokus di dapur, ikut menangani operasional yang dulu ditangani Wanda-Wynda. Lucy juga harus lebih banyak keluar rumah untuk mengurus pemasaran, yang sebelumnya bisa dilakukan dari rumah. Selain Holycow, Afit-Lucy membuka usaha baru yaitu Lobbie Lobster dan The Holy Ribs.

Sedangkan Wanda-Wynda, setelah berpisah strategi usaha mereka adalah membuka cabang sebanyak mungkin. Mereka merenovasi warung di Radio Dalam. Pada September 2012 mereka membuka cabang baru di Kemang, Jakarta Selatan. Pada Desember 2012 cabang baru dibuka di Sabang, Jakarta Pusat. GOSIPNYA tiap cabang mampu menjual 200-300 porsi steak sehari sedangkan pada akhir pekan mampu menjual 400 porsi steak per hari. GOSIPNYA tiap cabang memiliki omzet sekitar 1 milyar Rupiah per bulan.

Pada 19 Mei 2016 Lala memposting pengalamannya membeli tiramisu yang ternyata ada bangkai cicak di Holycow CAMPKalimalang di akun Path miliknya @Lamia. Holycow by Chef Afit segera merespon dengan memutus kerjasama dengan MISU selaku penyedia produk tiramisu.



Pada 7 Januari 2017, seorang pelanggan bernama Annisa Setyo H menemukan ulat di bayam yang hendak ia makan di Holycow CAMPMalang. Meski diberi kompensasi satu scoop es krim, ia tetap kecewa dan mem-posting hal tersebut di Twitter.


 
Pada 9 Januari 2017, seorang pelanggan bernama Vyna Girilawu mengaku memakan kecoa ketika memakan bayam di menu steak-nya di Holycow CAMPSerpong. Meski sangat kesal, ia tetap membayar tagihan senilai 300 ribu Rupiah. Vyna mem-posting hal tersebut ke akun Facebooknya yang segera direspon esok harinya oleh Lucy. Lucy menjelaskan bahwa serangga tersebut bukan kecoa melainkan sejenis walang sangit.




Lucy mengatakan Holycow! Steakhouse by Chef Afit selama ini memilih menggunakan sayuran organik untuk side dish-nya, termasuk bayam. Risiko dari penggunaan sayuran organik ini adalah keberadaan ulat.

"Kalau itu yang di Malang, kalau misalnya ulat, itu sebetulnya bukan kami mengecilkan masalahnya, itu sebetulnya sudah diatasi. Jadi, karena kita ini sekarang menggunakan bayam organik, kemungkinan adanya ulat itu memang agak sulit untuk dihindari," kata Lucy saat berbincang dengan detikcom, 11 Januari 2017.

Lucy tak menampik keluhan soal keberadaan ulat ini beberapa kali muncul. Holycow! Steakhouse by Chef Afit pun mengambil langkah signifikan, yaitu menghilangkan menu bayam.

"Ini kami akan langsung mengumumkan di sini, karena memang beberapa kali terjadi. Jadi memang ulat yang di sayuran organik itu banyak sekali, nggak hanya bayam ya, saya yakin kalau orang yang cukup mengerti, itu pasti risiko yang akan terjadi, karena memang tidak ada pestisida, segala macam. Itu kemungkinan ada ulatnya gitu," papar Lucy.

"Kita sekarang akan menghentikan side dish yang bayam. Untuk ke depannya, setelah semua stok yang kita sudah siapkan habis, kita akan menghentikan penggunaan bayam. Karena kita tahu, sebenarnya sih, kalau menurut saya, saya juga beberapa kali makan di restoran yang bisa dibilang mewah. Itu beberapa kali lihat ada, karena dia pakainya organik, jadi ada ulatnya, ya menurut saya sih itu biasa aja," sambung Lucy.

Lucy mengatakan tak semua orang paham soal risiko dari penggunaan sayuran organik. Namun dia memastikan semua proses di Holycow! Steakhouse by Chef Afit higienis.

"Mungkin ada beberapa orang awam yang belum mengetahui itu dan jadi takut, jadi mikirnya langsung nggak higienis dan segala macam, padahal sebetulnya itu risiko kalau kita menggunakan produk yang organik. Saya pikir dengan menggunakan produk organik, konsumen akan lebih senang, tapi ternyata ya ada risikonya atas pilihan yang kami lakukan, ternyata memang risikonya itu, ada ulat, karena kita tidak pakai pestisida. Kan tadinya kita pikir kenapa kita pilih organik, karena bayam kita kan tidak dimasak dengan lama, jadi lebih sehat, harusnya. Tapi karena ada kemungkinan seperti itu, kita menghentikan menggunakan bayam untuk side dish ke depannya," pungkas Lucy.

Setelah membaca wawancara Lucy dengan detikcom, banyak orang berkomentar bahwa masalahnya bukan terletak di sayuran organik atau non-organik, tapi dicuci bersih atau tidak sebelum dimasak dan higienis atau tidaknya makanan ketika diantar ke konsumen. Dalam industri kuliner hal-hal seperti ini diatur dalam Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang menjadi standar operasional pengolahan makanan.

Peter Firmansyah

Peter Firmansyah bersama keluarga
lahir 4 Februari 1984 di Sumedang
istri: Amanda

GOSIPNYA
Peter Firmansyah berasal dari keluarga sederhana. Sewaktu masih kanak-kanak, perusahaan tempat ayahnya bekerja bangkrut sehingga ayahnya harus bekerja serabutan. Ketika ia masih sekolah di SMP Al Ma’soem, orangtuanya harus berutang untuk membeli makanan. Mereka pernah tak mampu membeli beras sehingga hanya bergantung pada belas kasihan kerabatnya.

Sewaktu masih sekolah di SMA Negeri 1 Cicalengka, ia sering mampir ke Cimol alias Cibadak Mall, tempat pedagang kaki lima berjualan pakaian. Di sana ia berusaha mendapatkan barang bermerek terkenal tapi murah. Ia sempat belajar menyablon dan banyak bertanya cara mengirim produk ke luar negeri. Proses ekspor dipelajari sendiri dengan bertanya ke agen-agen pengiriman paket.

Ia lalu melanjutkan pendidikan ke Universitas Widyatama, Bandung. Saat itu biaya masuk perguruan tinggi senilai 5 juta terasa sangat berat baginya. Kakeknya sempat memberi uang itu sebelum meninggal tapi tak sampai sebulan ia memutuskan keluar karena kekurangan biaya. Ia berselisih dengan orangtuanya.

Tahun 2003 ia mulai berkerja di pabrik yang membuat produk Rusty, Volcom dan Globe. Di sana ia mulai belajar tentang pemilihan, pembuatan, hingga pemasaran produk. Pendapatan selama menjadi pegawai toko disisihkan untuk mengumpulkan modal. Di waktu senggang, ia menerima pesanan membuat busana. Dalam sebulan, ia membuat rata-rata 100 potong jaket, sweater, atau kaus. Keuntungan yang diperoleh antara Rp. 10.000-Rp. 20.000 per potong. Penghasilan sampingan itu ia dapatkan  hingga 2005. GOSIPNYA gajinya saat itu sekitar 1 juta Rupiah per bulan, tapi hasil dari pekerjaan sampingannya mencapai 2 juta Rupiah.

Pada tahun 2005 ia memproduksi jeans dengan nama Defense tapi gagal dipasaran. Ia juga seorang pemain band, dan dari band-nya Peter Says Sorry itulah kemudian ia punya banyak kenalan musisi dan tahu bagaimana kebutuhan musisi terutama band-band rock untuk tampil di sebuah panggung.

Sejak 2007 ia membiayai pendidikan tiga adiknya. Ia juga membelikan mobil untuk orangtuanya dan merenovasi rumah mereka di Jalan Padasuka, Bandung.  Pada tahun yang sama, ia juga mengerjakan pesanan jeans senilai Rp 30 juta, tetapi pemesan menolak membayar dengan alasan jeans itu tak sesuai keinginannya. Jeans terpaksa ia jual murah daripada hanya menumpuk di rumahnya. Pengalaman pahit juga pernah dialaminya pada tahun 2008. Ketika itu ia pernah ditipu temannya sendiri yang menyanggupi mengerjakan pesanan senilai Rp. 14 juta. Pesanannya tak dikerjakan, sementara uang muka Rp. 7 juta dibawa kabur.

Pada November 2008, bermodal tabungan sebesar Rp. 5 juta, ia mulai memproduksi celana jeans sendiri. Mulanya Ia membuat lima potong jeans. Ternyata, produk perdananya ini laris. Pesanan berdatangan dan ia menambah produksi hingga 20 potong lebih. Selama enam bulan pertama, ia bekerja keras mulai dari belanja bahan, mengukur, mengawasi tukang jahit, hingga mengantarkan pesanan jeans ke konsumen, semua ia kerjakan sendiri.

Sejak awal, ia membanderol jeans yang diberi nama Peter Says Denim (PSD) ini dengan harga tinggi. Karena itu, ia kerap menerima cemoohan dan penolakan konsumen. Ia lalu fokus mempromosikan jeans-nya ke anak-anak band. Ia membujuk band-band berpengalaman agar memakai jeans-nya sebagai promosi. Tak hanya band lokal, ia juga membujuk band-band luar negeri.

Ia lalu merogoh kocek Rp. 5 juta untuk membuat website dan berjualan secara online. Lewat website online, PSD dikenal di Amerika, Kanada, Australia, Singapura, dan Malaysia. Karena pangsa pasarnya kelas menengah ke atas, Peter memasang harga jeans mulai Rp 385.000, topi mulai Rp 200.000, tas mulai Rp 235.000, dan kaus mulai Rp 200.000. GOSIPNYA mendadak ia kebanjiran pesanan sehingga ia harus memproduksi 500-1.000 potong jeans setiap bulan.

Tahun 2013 produksi PSD mengalami penurunan sehingga perusahaan berhutang Rp. 336 juta kepada vendor yang sudah memiliki hubungan yang baik dengannya, David Simanjuntak. Atas dasar hubungan baik itu, Peter dan David menyepakati bahwa hutang akan dibayar sebesar Rp. 4 juta per bulan dengan syarat jika perusahaan membaik, hutang harus dibayar Rp. 10 juta per bulan. GOSIPNYA pembayaran mulai bermasalah sejak November 2013. GOSIPNYA ia memesan barang kepada 5 vendor senilai 1,2 milyar Rupiah.

Pada tanggal 14 April 2015 Peter dijatuhi hukuman penjara selama tiga tahun oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Bandung. Ia dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan dan melanggar pasal 379 huruf A KUHP. Vonis terhadap Peter ini sesuai dengan tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Hakim menyatakan Peter terbukti melanggar pasal 379 huruf A yaitu barang siapa menjadikan sebagai mata pencaharian atau kebiasaan untuk membeli barang-barang, dengan maksud supaya tanpa pembayaran seluruhnya memastikan penguasaan terhadap barang-barang itu untuk diri sendiri maupun orang lain.

Peter membeli pakaian jadi dari para vendor kemudian disalurkan pada konsumen. Ia memesan barang berupa pakaian jadi jenis baju, jaket, celana sesuai contoh yang ia buat. Setelah barang dikirim, ia membayar dengan cek mundur tapi cek yang ia berikan tidak dapat dicairkan di bank karena dana tidak mencukupi.

"Ada kewajiban penerbit cek atau untuk mengisi dana supaya nantinya bisa dicairkan pada waktu jatuh tempo. Tapi bila seandainya membeli barang dengan membayar cek atau giro namun dari awal tidak ada dananya maka ini sudah merupakan tindak pidana karena sudah ada niat tidak membayar sejak awal. Bila beberapa lembar cek giro berulang kali dibuat tanpa ada dananya maka sudah masuk pidana penipuan," tutur ketua majelis hakim, Brahmana.

Akibat perbuatan Peter tersebut, David Simanjuntak mengalami kerugian sebesar Rp. 271 juta.

Bebek Garang

Ali Bagus Antra Suantara
lahir 28 Januari 1983 di Bandung
CABANG TOKO
-Bandung: Jl. Braga 34 Telp. 022 420 9835
-Bandung: Jl. Sulanjana 19 Telp. 022 7085 0077 / 0822 1428 3156
-Balikpapan: Jl. M. T Haryono Dalam 82 Telp. 0812 9044 4742
-Padang: Jl. Sawahan Timur 64 Telp. 0751 9978 2800 / 0822 1428 3180
-Palembang: Gedung Ampera Convention Center Benteng Kuto Besak

GOSIPNYA
Ali Bagus Antra Suantara adalah lulusan planologi (tata ruang wilayah) ITB Bandung tahun 2006. Saat bekerja sebagai seorang ahli planologi, Ali tidak menemukan kepuasan. Pasalnya, Ali menilai rekomendasi yang diberikan ahli planologi tidak bisa sepenuhnya diterapkan pemerintah karena keputusan yang diambil kerap berbenturan dengan kepentingan politik. Setelah lulus dari ITB, dia bersama rekan-rekannya memulai bisnis percetakan. Namun bisnis percetakan tersebut hanya bertahan dua tahun.

Bersama temannya seorang lulusan Teknik Elektro ITB, Wawan Wardany, mereka membuka tempat makan di Pujasera Dago 342A yang diberi nama Bebek Garang dan menuai sukses. GOSIPNYA omzet tiap toko mencapai 125 juta Rupiah per bulan.

Ali juga menawarkan waralaba untuk daerah Jawa Barat dan Jabodetabek dengan rincian umum:
-Biaya waralaba Rp. 20 juta per outlet
-Investasi awal Rp. 90-120 juta (tanpa biaya sewa)
-Jangka waktu waralaba 5 tahun
-Franchisor (pemberi waralaba) mendapat 5% dari omzet
-Tiap outlet minimal berjarak 5 KM dari outlet lainnya
-Pengelolaan diserahkan pada franchisee (pembeli waralaba)
-Franchisee wajib melaksanakan SOP (Standard Operating Procedure)
-Evaluasi sekali dalam sebulan
-Memiliki kapasitas minimal 50 kursi
-Memiliki tempat parkir yang cukup
-Jika menyewa tempat, biaya sewa maksimal Rp. 100 juta per tahun

Berkat Bebek Garang, Ali pun meraih beberapa penghargaan. Di antaranya 'Shell Start Up Award' untuk kategori wirausaha muda pada Juli 2010, penghargaan dari Menteri Koperasi dan UKM pada Januari 2011, dan finalis 'Wirausaha Muda Mandiri' pada Maret 2011. GOSIPNYA ukuran bebeknya makin mengecil dan rasanya pun menurun padahal harganya terus naik sehingga membuat banyak pelanggan kecewa dan membuat banyak toko cabangnya tutup.