Alpina

Paidjan Adriyanto
lahir 26 Mei 1954 di Madiun
istri: Sunarti
anak: Abdi Budi Santoso
Okta Alfianto
Agnes Bangkit Rianto
Giant Catur Wicaksono

GOSIPNYA
Paidjan Andriyanto merantau ke Bandung tahun 1976 dengan bekal sedikit uang dari Madiun. Setelah dua hari mencari alamat saudaranya, baru pada hari ketiga ia menemukannya. Setelah beberapa lama bekerja serabutan, GOSIPNYA ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak untuk pertama kalinya sebagai pesuruh kantor dengan gaji Rp. 15.000 per bulan (GOSIP lain bilang Rp. 150 per bulan). Sebagai perbandingan, gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) saat itu untuk golongan I-IV adalah Rp. 12.000-120.000 dan Upah Minimum Regional (UMR) adalah Rp. 15.000 per bulan.

Yanto rajin menabung. Ia mengumpulkan uang untuk ikut kursus akuntansi di Akademi Akuntansi Bandung. Selesai kursus, ia bekerja di perusahaan tekstil mengurus pembukuan. Tak lama kemudian ia pindah kerja ke kantor pengacara. Tidak lama kemudian, ia ganti pekerjaan lagi menjadi administrasi keuangan di sebuah apotek kecil.

Kecintaannya pada olahraga luar ruangan membawanya bergabung di Jayagiri, produsen
busana dan alat-alat olahraga luar ruangan yang berdiri sejak Maret 1978. Ia mendapat banyak kenalan dari berbagai komunitas pecinta alam dan pendaki gunung. Ia lalu bergabung dengan wanadri, sebuah perhimpunan pendaki gunung.

Dody Djatmika Kasoem

Bambang Broto

Jayagiri dimiliki oleh Dody Djatmika Kasoem yang juga merupakan anggota wanadri. Bambang Broto yang lebih dikenal sebagai Bambang Buta karena cambangnya brewokan seperti makhluk buto ijo, bekerja di Jayagiri. Pada Mei 1978 Bambang keluar dari Jayagiri dan membuat merek sendiri yaitu Alpina yang kelak juga membuat merek baru bernama Albatros. Merek Jayagiri sendiri dihentikan tahun 1986 dan diganti menjadi Dody. GOSIPNYA merek Dody kurang sukses sehingga kini merek Jayagiri dipakai lagi meski situsnya dinamai DodyJayagiri.com.

Yanto menerima uang pisah dari Jayagiri sebesar 1,5 juta Rupiah. Pada 1 Agustus 1985 ia lalu mendirikan Alpina dengan modal 800 ribu Rupiah. Sejak itu pula ia dikenal dengan sebutan Yanto Alpina. Untuk menjalankan bisnis, Alpina mendapatkan pendanaan dari Bank BCA dalam bentuk kredit modal kerja. Kredit ini diambil sejak tahun 1986 hingga saat ini. GOSIPNYA nama Alpina dipilih karena merupakan singkatan dari Alam Pegunungan Indonesia. GOSIP lain mengatakan merek Alpina dipilih karena merupakan nama jalan yang dipakai untuk usaha.

Pesanan pertamanya datang dari koneksi yang ia kenal di wanadri. Saat itu ia mendapat pesanan mengerjakan tas untuk penyimpanan bola golf sebanyak 500 buah. Sisa hasil membuat tas golf, ia gunakan untuk membeli bahan 3 roll dan mulai membuat tas Alpina. Ia memulai usaha dengan satu mesin jahit dan satu penjahit. Usahanya berkembang, sehingga pada tahun ke-3, mesin jahitnya sudah 25 buah.

Pasar Jawa Barat saat itu dikuasai Jayagiri sehingga ia mencoba pasar lain yaitu Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Ia menawarkan barangnya sendiri ke setiap toko dan meminta mereka menjadi distributor Alpina selama tiga tahun. Tahun 1989 ia berhasil menguasai pasar Jakarta.

Tahun 1995 mesin jahitnya sudah mencapai lebih dari 400 buah. Untuk desain produk, ia mempekerjakan lulusan ITB yang terkenal kreatif. Setelah sukses di luar Bandung, Alpina mencoba memasuki pasar Bandung dan ternyata berhasil.

Masa jayanya adalah dekade 1990-an. Pada tahun 1995 omzetnya mencapai 1 milyar per bulan dengan 400 karyawan. GOSIPNYA Alpina sempat sangat populer di kalangan anak sekolah karena bisa dipesan dalam jumlah sedikit dengan motif warna pilihan sesuai pesanan sebagai simbol satu angkatan di sekolah tersebut. Selain itu Alpina juga tahan lama dan harganya terjangkau oleh anak-anak sekolah saat itu.

Saat krisis moneter terjadi, ia terpaksa melakukan banyak PHK dan menjual mesin-mesin jahitnya karena daya beli masyarakat menurun. Pada tahun 2001 ia meluncurkan produk baru bernama Giant. Meski bergerak di bidang usaha yang sama, produk-produk Giant dibuat lebih modis dan gaya. Perlahan-lahan Giant terus tumbuh. Tahun 2007 penjualan Giant mencapai 25.000 buah, sedangkan Alpina 15.000 buah. GOSIPNYA omzetnya kini mencapai 500 juta per bulan dengan 20 karyawan.

Kini Alpina memakai strategi yang berbeda. Jika dulu bahan dari India, sekarang dari Korea dan Jepang. Jika dulu pemasaran dilakukan dengan mendatangi toko satu per satu, kini lewat online.

Ia sempat diisukan bangkrut dan dituduh mendompleng merek Alpina milik Bambang Broto yang lebih dulu ada. Pada 21 Mei 2016 gudang Alpina milik Bambang di Jalan Dago Asri IV nomor 4 kebakaran. Karena publik bingung Alpina mana yang asli, banyak yang menyebut Alpina dengan embel-embel Giant / Albatros untuk membedakannya.

Untuk membangkitkan kembali bisnisnya, Yanto memberikan garansi seumur hidup untuk tas Alpina. Jika ada kerusakan pada tas maka pembeli bisa membawa ke showroom di Jalan Alpina no. 1 Komp. Dago Asri dan akan dibantu untuk perbaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.