Krisna

Gusti Ngurah Anom
lahir 5 Maret 1971 di Desa Tangguwisia, Seririt, Bali
ayah: Gusti Putu Raka
ibu: Made Taman
kakek: Gelgel
kakak: Gusti Ayu Erawati
Gusti Ayu Mareni
Gusti Ngurah Darmawan
Gusti Ayu Kusumawati
Gusti Ngurah Triawan
Gusti Ayu Kumudawati

Gusti Putu Raka

Made Taman

Kakak Anom

Anom bersama istri

Anom bersama istri dan anak

istri: Ketut Mastrining
anak: Gusti Ngurah Berlin Bramantara lahir 8 Februari 1992 di Denpasar
Gusti Ayu Diah Candra lahir 12 April 1997 di Denpasar
Gusti Ngurah Anom Krisna Putra lahir 25 Oktober 2000 di Denpasar
Gusti Ngurah Rama Ksatria Putra lahir 1 November 2009 di Denpasar

USAHA SUVENIR
-Krisna Nusa Indah: Jl. Nusa Indah 77 Denpasar telp. (0361) 264-780
-Krisna Nusa Kambangan: Jl. Nusa Kambangan 160 A Denpasar telp. (0361) 474-5641
-Krisna Sunset Road: Jl. Sunset Road 88 Kuta telp. (0361) 750-031
-Rama Krisna Tuban 24 jam: Jl. Raya Tuban 2X telp. (0361) 764-532
-Krisna Samasta: Jl. Wanagiri, Jimbaran, Kuta telp. (0361) 446-8600
-Krisna Ubud: Jl. Monkey Forest 15, Ubud telp. (0366) 976-427
-Krisna Bali Souvenir Center: Jl. Raya Blangsinga, Saba, Blahbatuh telp. 0812-3757-2266
-Krisna 5 Singaraja: Jl. Seririt-Singaraja, Temukus telp. 0812-5270-9959
-Krisna Surabaya: Jl. Darmokali 5-H, Darmo, Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur telp. 0853-3937-4808
-Krisna Kota Tua: Jl. Lada 1, Kota Tua, Jakarta Barat telp. (021) 2269-2746

USAHA RESTORAN
-Krisna Gallery & Resto: Jl. Diponegoro 146, Dauh Puri Klod, Denpasar Barat telp. (0361) 251-273
-Krisna Wisata Kuliner Bali: Jl. Raya Tuban, Kuta telp. (0361) 768-077
-Krisna Resto and Spa: Jl. Batu Belig 77, Kerobokan Kelod, Kuta Utara telp. (0361) 474-1432
-Paon Mektut: Jl. Sunset Road 88 Kuta telp. (0361) 750-031
-Krisna Wisata Kuliner Singaraja: Jl. Raya Seririt, Temukus telp. 0878-6217-4626
-Bebek Tepi Sawah Singaraja: Jl. Raya Seririt, Temukus telp. (0362) 343-7205
-La Costa Beach Lounge: Jl. Raya Seririt, Temukus telp. 0878-6304-8979
-Dungki: Jl. Raya Seririt, Temukus
-Krisna Beach Street Bar & Resto: Jl. Yeh Mumbul, Baktiseraga telp. (0362) 330-1872

USAHA WISATA
-Krisna Osea Park: Jl. Raya Seririt, Temukus
-Krisna Funtasticland: Jl. Raya Seririt, Temukus telp. 0811-3887-709
-Krisna Waterpark: Jl. Raya Seririt, Temukus telp. 0811-3973-311
-Krisna Adventures Aling-Aling Waterfall: Desa Sambangan, Sukasada
-Krisna Eco Edu Village: Desa Tangguwisia, Seririt telp. 0878-6000-6844

USAHA LAINNYA
-Krisna Bali Wisata: Jl. Diponegoro 146, Sesetan, Denpasar Selatan telp. (0361) 251-265
-Krisna Property: Jl. Pidada VII no. 17 Denpasar Barat telp. (0361) 409-2477
-Krisna Moda Boutique: Jl. Hayam Wuruk 60, Sumerta Kauh, Denpasar Timur telp. (0361) 256-146
-Cok Konfeksi: Jl. Nusa Indah 79 Denpasar telp. (0361) 226-597

GOSIPNYA
Gusti Ngurah Anom lahir di rumah bidan Ibu Restu pada 5 Maret 1971 pukul 1 siang. Ia adalah anak bungsu dari 7 bersaudara dan hidup dalam kemiskinan. Sejak bayi hingga kelas 4 SD, ia lebih sering tinggal di rumah kakeknya karena rumah orangtuanya terlalu kecil. Ketika ia kelas 4 SD, orangtuanya mengirim kakak-kakaknya yang lain untuk tinggal di rumah keluarga ayahnya di Gianyar. Hanya kakaknya yang ke-5 dan 6 yang masih tinggal di Desa Tangguwisia.

Di rumah kakeknya terdapat banyak buah-buahan. Kakeknya mempunyai usaha membuat bata merah. Ia sering membantu kakeknya mengangkut kayu bakar dengan upah Rp. 200 per hari. Selain membantu membuat bata merah, ia juga sering membantu kakeknya memetik buah jambu. Jambu yang dipetik lalu dijual ke pasar yang berjarak 3 kilometer dari rumah kakeknya. Upahnya menjual jambu adalah Rp. 500.

Keluarganya adalah yang termiskin di Desa Tangguwisia. Rumahnya berukuran 6 kali 8 meter. Dindingnya tidak disemen dan terbuat dari tanah sedangkan atapnya dari anyaman daun kelapa. Tempat tidur dan dapur menjadi satu ruangan. Makanannya sehari-hari adalah ubi kayu dicampur nasi dan jagung. Biasanya sayurnya adalah plecing (sayur bumbu pedas) daun labu. Ia hanya makan dua kali sehari. Untuk mandi, ia pergi ke sungai berjarak 500 meter dari rumah. Rumahnya pun pernah kebakaran.

Ayahnya seorang petani padi dan anggur. Penghasilan yang diperoleh ayahnya tidak pasti. Ia jarang membantu ayahnya di sawah karena lumpurnya sering membuat kakinya gatal. Ibunya mulai membuat kue pada pukul 6 sore hingga malam hari. Usai membuat kue, ibunya pergi ke pasar untuk menjual kue itu pada pukul 3 subuh. Semuanya dilakukan ibunya sendirian. Ia suka membantu ibunya membuat dan menjual kue sejak kelas 3 SD dengan upah Rp. 100-Rp. 200. Kuenya dijual ke Pasar Tenten di Desa Tangguwisia. Ia dan ibunya pergi ke pasar dengan obor dari danyuh (daun kelapa) yang sudah kering. Pasar Tenten berjarak sekitar 1 kilometer dari rumahnya.

Selain itu ia sering diajak ibunya berjualan buah ke Pasar Kumbasari, Denpasar. Jarak Pasar Kumbasari dari rumahnya sekitar 85 kilometer. Ia mengaku lebih dekat dengan memek (sebutan ibu dalam bahasa Bali) daripada dengan ajik (sebutan ayah dalam bahasa Bali).

Sejak kelas 1 SD ia sudah sering bolos sekolah. Selain karena keasyikan memetik jambu, ia juga hobi memancing ikan dari jam 4 pagi. Tidak seperti kakak-kakaknya, ia sangat aktif, bandel, keras kepala. Ketika SD ia sering mencuri buah mangga di halaman sekolah dan membuat rujak bersama teman-temannya. Ia juga sering mencuri makanan di kantin sekolah.

Saat bersekolah di SDN 1 Tangguwisia ia tidak pernah mengerjakan PR dan tidak pernah belajar. Tidak heran hingga kelas 5 SD ia belum bisa membaca dan menulis. Hal itu diketahui orangtuanya ketika menerima laporan dari sekolah. Ayahnya yang biasanya pendiam tidak sanggup lagi menahan emosi.

Ia dibawa ke sungai dan direndam di sana. Setelah direndam di sungai, ayahnya mengatakan bahwa ia harus segera bisa membaca. Semenjak itu ayah dan ibunya yang sebelumnya kurang perhatian terhadap kegiatan belajar anaknya mulai menyisihkan waktu untuk menemaninya belajar membaca dan menulis.

Meski bodoh, ia selalu naik kelas. Ketika kelas 6, ia seharusnya tidak lulus sekolah tapi karena ia sering menginap di rumah Wakil Kepala Sekolah bernama Ibu kadek dan menemani anak Ibu Kadek bermain, ia diluluskan oleh Ibu Kadek.

Ia lalu mendaftar ke SMPN 1 Seririt dan SMP Saraswati Seririt. Ia diterima di bangku cadangan SMPN 1 Seririt. Ia lalu masuk kelas G, kelas yang menampung siswa baru dengan Nilai Ebtanas Murni (NEM) terkecil di sekolah itu. Pamannya yang saat itu bekerja di Hotel Bali Beach, Nyoman Singarata, membantu membayar uang sekolahnya tiap bulan.

Meski sudah SMP, uang sakunya masih sama seperti saat ia SD yaitu hanya Rp. 100 per hari. Uang itu hanya cukup untuk ongkos naik bemo atau angkot dari rumahnya ke sekolah Rp. 50 untuk sekali jalan.

Ia memutuskan untuk berjalan kaki 3 kilometer ke sekolahnya. Ia berangkat pukul 11.00, tiba di sekolah pukul 12.30, pulang sekolah pukul 17.00, dan tiba di rumah pukul 19.00. Ia berjalan kaki ke sekolah sejak SD. Butuh 1,5 jam untuk pergi ke sekolah sedangkan pulangnya butuh 2 jam karena jalan lebih ramai.

Ia punya teman yang sering diajak jalan kaki ke sekolah yakni Reno, Putu Armini, dan Putu Sukerta. Sementara teman-temannya yang lain lebih banyak naik sepeda ke sekolah. Karena harus berjalan kaki, setiba di sekolah ia merasa lelah dan mengantuk. Akibatnya ia tidak bisa konsentrasi mengikuti pelajaran di kelas dan nilainya selalu jelek. Selain itu karena tidak sanggup membeli sepatu, ia memakai sendal ke sekolah.

Ketika SMP, ia juga tidak bisa membeli buku tulis, alat tulis, maupun buku pelajaran. Pamannya hanya membiayai uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) bulanan. Uang hasil kerja orangtuanya habis untuk biaya makan sehari-hari.

Karena tidak pernah belajar di rumah, ia selalu menyontek saat sedang ujian di kelas tapi ia tidak bisa menyontek jika ujian lisan. Ujian lisan dilakukan guru dengan memanggil para siswa satu per satu ke depan kelas. Karena tidak bisa menjawab, ia dihukum mengangkat satu kaki di depan kelas.

Saat itu ia punya seorang sahabat bernama Tedi. Tedi adalah anak orang kaya di Seririt. Ketika murid lain naik sepeda ke sekolah, Tedi diantar dengan mobil Suzuki Carry Pick Up ke sekolah. Tedi sering memberinya makan di sekolah. Tedi juga sering menjemputnya ke rumah. Ia pun mulai jarang jalan kaki ke sekolah. Jika tidak dijemput Tedi, ia menumpang dibonceng dengan sepeda temannya. Salah satu teman yang sering ia tumpangi sepedanya adalah Putu Sukerta.

Karena tidak bisa membeli buku tulis, ia sering mencuri halaman tengah buku tulis milik temannya. Ia melakukannya 2 kali sehari saat jam istirahat. Hal ini sudah ia lakukan sejak SD. Sedangkan buku pelajaran ia curi dari perpustakaan sekolah.

Ia juga suka mengambil isi pulpen teman sekelasnya. Isi pulpen digulung dengan kertas dan dipakai mencatat pelajaran sekolah. Saat mencuri ia sering tertangkap basah tapi teman-temannya tidak ada yang berani berbuat apa-apa karena ia punya geng yang terdiri dari kumpulan anak-anak bandel di sekolahnya.

Perbuatannya mencuri ketika SMP juga sering diketahui teman-temannya dan membuat beberapa guru sekolahnya sempat melarangnya mengikuti kegiatan belajar di kelas. Guru matematika melarangnya belajar di kelas karena ia tidak mau ikut les. Ia beralasan tidak bisa ikut les karena membantu kakeknya di rumah. Sedangkan guru Bahasa Inggris melarangnya belajar di kelas karena ia sama sekali tidak mengerti pelajaran yang diberikan di kelas. Selain itu, ia juga pernah ketahuan main panco sebelum kelas bahasa Inggris mulai sehingga membuat gaduh.

Guru Sejarahnya sering memarahinya dan melarangnya ikut kelas sejarah karena ia sering pindah-pindah tempat duduk saat pelajaran berlangsung. Ia juga sering duduk di bawah bangku dan sering ketiduran saat pelajaran sedang berlangsung. Selain tiga guru tersebut, hampir semua guru di SMPN 1 Seririt mencapnya sebagai murid yang bandel dan bodoh.

Ketika SMP ia punya geng yang terdiri dari anak-anak nakal dari kelas A hingga G. Geng itu lalu membuat geng sepeda bernama Street Bicycle Club (SBC). Meski tidak punya sepeda, ia tetap bergabung di geng itu. Seorang temannya bernama Putu Agustina meminjaminya sebuah sepeda balap.

Dengan sepeda balap ini ia sering nongkrong dengan teman-teman SBC-nya. Setiap Sabtu dan Minggu mereka berkumpul di desa tempat tinggal Anom dan bersepeda ke Singaraja. Mereka mengelilingi Singaraja lalu pulang ke Seririt. Meski sudah dipinjami sepeda, ia ingin punya sepeda sendiri. Ia sering marah di rumah minta dibelikan sepeda. Ibunya lalu membelikan sebuah sepeda bekas merk Phoenix seharga Rp. 15.000.

Sepeda dibeli dengan kondisi rusak di beberapa bagian dan ban berlubang. Sepeda itu lalu diperbaiki sendiri. Ia lalu ikut lomba sepeda dan menjadi juara satu kategori tercepat dan standing (mengangkat roda depan sepeda terlama). Namanya dan klubnya SBC mulai dikenal di kalangan penggemar sepeda di Seririt.

Karena punya banyak teman, ia lebih sering tinggal di rumah temannya di Seririt dan jarang pulang ke rumah orangtuanya. Hal ini tidak pernah dipermasalahkan oleh orangtuanya karena sudah pasrah dengan kenakalannya.

Setelah lulus SMP ia mendaftar di Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata (SMIP) di Seririt. Untuk bisa mendaftar di sana, ia terpaksa menjual sepeda Phoenix kesayangannya. Sepeda itu dijual Rp. 35.000 lalu dibelikan sepatu serta pakaian sekolah untuk masuk SMIP.

Setiap hari ia harus jalan kaki 3,5 killometer untuk mencapai SMIP. Ia hanya sempat bersekolah di sana 4 bulan. Ayahnya lalu memanggilnya dan berkata bahwa ia sudah tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Ayahnya bilang Anom harus membantu di sawah dan tidak bisa membantu biaya sekolahnya lagi. Semua kakaknya meski sudah berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS), juga tidak bisa membantu karena kondisi masih pas-pasan.

Ia kecewa dan marah, merasa diperlakukan berbeda dengan kakaknya. Esoknya ia pergi pukul 7 pagi tanpa tujuan maupun bekal. Belum jauh pergi dari rumahnya, ia bertemu dengan pamannya, Nyoman Singarata, yang ketika itu bekerja sebagai supir truk angkutan barang. Pamannya sedang mempersiapkan truk merk Kusdha-nya. Anom ikut pergi menumpang pamannya menuju Denpasar. Pamannya tidak bertanya apa-apa.

Di Denpasar, mereka berhenti di daerah Pupuan Tabanan untuk beristirahat. Ia dibelikan makanan dan minuman oleh pamannya. Sekitar pukul 10 pagi mereka berhenti di terminal Ubung. Ia lalu berjalan tanpa tujuan menelusuri kota itu. Ia menuju Jalan Gatot Subroto. Setibanya di Jembatan Tonja, ia memutuskan berjalan menyusuri sungai karena lebih mudah untuk mencari minum dan air untuk membersihkan badan.

Selama menyusuri sungai, ia minum air dari saluran irigasi sawah. Ketika lapar, ia mencuri buah semangka dan pepaya dari kebun milik orang yang ia lewati. Selama berjalan menyusuri sungai, ia sempat putus asa dan sempat ingin bunuh diri. Setelah menyusuri sungai selama beberapa jam, ia tiba di daerah Waribang Kesiman, Denpasar. Di sana ia mandi untuk menyegarkan badan.

Setelah mandi ia melanjutkan perjalanan hingga Jalan Sedap Malam dan akhirnya tiba di Jalan Danau Buyan, Sanur. Di jalan ini setidaknya ada 5 hotel melati. Salah satunya adalah Hotel Rani. Ia menuju pos satpam dan minta izin untuk istirahat. Ia mengatakan pada satpam bahwa ia mencari pekerjaan. Untuk mengatasi rasa lapar dan haus, ia hanya meminum air keran yang ada di dekat pos satpam.

Ia lalu memungut sampah dan membersihkan halaman di sekitar pos satpam. Ia sangat beruntung kelakuannya itu dilihat oleh pemilik Hotel Rani yang menghampirinya. Ia lalu meminta izin menumpang tidur di pos satpam sambil menceritakan kisahnya kenapa ia ada disitu.

Dengan janji ikut menjaga keamanan dan kebersihan di sekitar pos satpam, ia pun diizinkan menetap di sana. Pukul 12 malam ketika satpam sudah pulang, ada sebuah mobil minibus parkir. Ia berinisiatif mencuci mobil itu hingga bersih. Setelah beres mencuci pukul 2 subuh, ia tertidur di pos satpam dan terbangun pukul 6 pagi. Ia langsung menyapu halaman parkir hotel.

Pukul 7 pagi pemilik mobil tersebut keluar hotel yang ternyata pemilik hotel. Ia ditawari bekerja di hotel tapi ia menjawab hanya mau bantu-bantu saja dan minta izin menetap di pos satpam serta diberi makan dan minum. Pemilik hotel mengizinkan.

Esoknya ia mencuci 3 buah mobil, 1 milik pemilik hotel, 2 mobil lagi milik tamu hotel. Pekerjaan ini dilakukannya mulai pukul 12 malam sampai pukul 3 pagi. Sekitar pukul 8 pagi, pemilik mobil yang ia cuci keluar hotel. Ia bergegas mengatakan bahwa ia mencuci mobilnya semalam. GOSIPNYA ia lalu diberi uang sebesar Rp. 2.000 (saat itu secangkir kopi Rp. 25 dan sebungkus nasi Rp. 50). Ia lalu menjadi tukang cuci mobil di 4 hotel daerah Sanur. Penghasilannya per hari antara Rp. 2.000 - Rp. 5.000.

Ia lalu menabung dan membeli sepeda Phoenix seharga Rp. 45.000 sehingga ia bisa berkeliling lebih jauh ke hotel-hotel yang ada di Danau Tamblingan dan Bypass Ngurah Rai. Ada sekitar 15 hotel yang menjadi langganannya. Mobil yang sudah selesai dicuci, wiper-nya diangkat sebagai kode sudah bersih dicuci.

Ternyata profesi mencuci mobil tamu hotel juga banyak dilakukan beberapa orang lainnya. Upah hasil cuci mobil tamu hotel yang dikerjakannya sering diambil oleh orang lain. Meski demikian, rezeki yang didapatnya dari mencuci mobil tamu hotel selalu ada. Ia sering diajak sesama tukang cuci mobil untuk bekerjasama mencuci mobil para tamu hotel yang menginap di kawasan Sanur dan sekitarnya.

Setelah 2 tahun, ia membeli sebuah motor bebek bekas Honda 70 warna merah seharga Rp. 150.000. Motor ini lalu diperbaiki lagi di sebuah bengkel di Pedungan, Denpasar dengan ongkos Rp. 250.000. Saat itu ia terpaksa berhenti mencuci mobil karena terkena rematik. Tangan dan kakinya sakit karena kedinginan saat terkena air. Ia memutuskan menumpang di rumah pamannya di Jalan Tukad Balian, Denpasar - Nyoman Singarata (yang kebetulan namanya sama dengan pamannya yang supir truk) - seorang pengusaha konfeksi kecil yang sempat beberapa kali ia singgahi ketika ia tinggal di pos satpam. Ia sering bolak-bali kesana karena jatuh cinta pada teman satu SMP-nya dulu yang bekerja disana. Ia punya keyakinan harus punya istri seorang tukang jahit, karena jika punya keterampilan yang sama, ia yakin bisa sukses.

Ia ikhlas membantu pamannya tanpa upah karena boleh tinggal dan bisa makan. Sebenarnya dekat dengan gadis itu saja sudah membuatnya bahagia. Ia sering meletakkan surat cinta di kamar mandi tapi tidak ada satupun yang dibalas karena gadis itu tahu sifat dan kelakuannya ketika SMP.

Made Sidharta

Ia geram merasa direndahkan. Ia lalu menemui Made Sidharta, pemilik konfeksi yang selalu memberi pekerjaan jahitan di konfeksi pamannya di Jalan Waturenggong 48, Denpasar. Sidharta memberi kesempatan menjadi pegawainya dengan tugas pertama sebagai karyawan lapangan mengambil dan mengantar keperluan jahitan. Ia diperlakukan sangat baik oleh Sidharta dan ia pun bekerja sebaik mungkin. Ia bekerja dari pukul 8 pagi hingga 5 sore. Setelah selesai bekerja, ia belajar menjahit, memotong kain, menyablon dan dalam 6 bulan menguasai semuanya. Untuk berhemat, ia meminta izin tinggal di rak tempat menyimpan kain atau tidur di meja potong. Ia diizinkan sekaligus mendapat makan gratis.

Dalam waktu setahun ia naik pangkat menjadi karyawan senior sedangkan seniornya malah ada yang turun pangkat. Sebagai karyawan senior, ia mendapat kepercayaan mengurus gaji pegawai, membeli kain, dan juga mendapat ilmu dagang dari Sidharta.

Sidharta sering memberi nasihat sehingga perlahan-lahan pemikirannya menjadi dewasa melebihi umurnya. Selain sering mengirim surat cinta, ia juga sering mengirim coklat. Ketika ada waktu luang, mereka sering janjian bertemu di sekitar bundaran Renon. Mereka akhirnya resmi berpacaran saat lari pagi di Renon. Setelah pacaran, mereka jarang bertemu karena kesibukan di tempat kerja masing-masing. Melihat kepribadiannya yang makin dewasa, gadis bernama Mastrining itu pun menerima lamarannya dan menjadi istrinya. Mereka menikah bulan Maret 1991.

Pamannya merasa keberatan karena ia dinilai terlalu muda untuk menikah. Selain itu, ia malah membawa pergi pegawai andalannya, Ketut Mastrining, sehingga pamannya merasa kekurangan tenaga ahli di perusahaannya dan merasa dikhianati. Untungnya hal ini tidak berlangsung lama dan pamannya memahaminya.

Ia lalu mengontrak rumah di Jalan Tukad Irawadi, Denpasar sambil memulai usaha konfeksi bermodalkan 1 mesin overdeck, 1 mesin obras, serta 2 buah mesin jahit yang semuanya tidak terpakai oleh Sidharta karena sulit mengoperasikannya. Sambil mengembangkan usahanya, ia masih membantu Sidharta hingga tahun 2000. Jika pesanan di Konfeksi Sidharta sedang penuh, ia diminta untuk membantu mengurus. Ia juga sering diminta untuk mencarikan tenaga tukang jahit jika sedang ramai pesanan pakaian jadi.

Tahun 1992 ia membuka toko baju kaos di Jalan Nusa Indah, Denpasar berukuran 6 kali 7 meter dengan nama Cok Konfeksi yang tak jauh dari Gedung Art Centre yang merupakan pusat kegiatan pesta seni dan budaya Bali. Ia menyewanya Rp. 1.250.000 setahun. Ia membuka usahanya tanpa izin Sidharta dan sempat dimarahi karena dianggap belum mampu usaha sendiri, selain itu ia sudah diandalkan untuk Konfeksi Sidharta.

Tahun 1994 ia menyewa tanah seluas 100 m² di Jalan Pakis Aji, Denpasar. Ia mendirikan bangunan untuk usaha sekaligus tempat tinggal untuk keluarganya. Sidharta akhirnya setuju melepas Anom berusaha sendiri dengan syarat semua aset Cok Konfeksi senilai Rp. 60 juta dibagi dua. Ia menyetujuinya sedangkan bagian Sidharta Rp. 30 juta ia pinjam sebagai modal tambahan dan baru ia lunasi tahun 2000. GOSIPNYA sejak itulah ia mendapat panggilan Ajik Cok dari anak buahnya.

Ia tidak pernah bolos bekerja, liburan, atau tidur siang kecuali sedang sakit. Setiap hari istrinya bangun pukul 5 pagi untuk menyiapkan kebutuhan karyawan seperti memotong kain, menyortir, hingga menyetrika baju yang sudah jadi. Pukul 06.30 pagi ia mengantar anak ke sekolah. Pukul 8 pagi hingga 2 subuh ia terus bekerja. Ia dan istrinya hanya tidur 3-4 jam sehari.

Tahun 2000 ia membeli rumah seluas 500 m² di Jalan SMA 3, Denpasar dengan meminjam dari Bank Dagang Bali dan juga dari Sidharta. Tahun 2001 ia membeli lahan 650 m² senilai Rp. 1,2 milyar di Jalan Nusa Indah 79.

Pada tahun 2001 Cok Konfeksi adalah yang terbesar di Bali dan urutan berikutnya adalah Konfeksi Sidharta. Menurut pengalamannya dalam bisnis konfeksi sejak tahun 1990, penjualannya sudah mentok. Ia dan istrinya ingin mengembangkan usaha butik. Istrinya lalu ikut kursus di LPTB Susan Budihardjo. Selama 3 bulan, istrinya menjadi murid terbaik. Meski begitu, mereka akhirnya batal membuka butik setelah mempertimbangkan cukup lama.

Mereka lalu berkeliling ke Denpasar dan Gianyar di waktu senggang untuk mencari ide baru. Setelah melakukan survei selama sebulan di Pasar Sukawati, mereka tahu suvenir paling laku adalah kaos. Pada 16 Mei 2007 ia membuka pusat suvenir Bali seluas 2.000 m² bernama Krisna di Jalan Nusa Indah 77. Ia mengontrak tempat itu seharga Rp. 1 milyar untuk 15 tahun. Omzet penjualan hari pertama mencapai 4 juta Rupiah.

Ia lalu memutuskan kos di Jembrana dan mengedarkan brosur selama 2 bulan di Pelabuhan Gilimanuk. Usahanya berhasil dan baju kaos khas Balinya sangat disukai turis, begitu pula dengan beragam suvenir lainnya. Pada 28 Mei 2008 ia membuka toko cabang seluas 3.500 m² di Jalan Nusa Kambangan, Denpasar.

Dalam waktu singkat, tokonya populer dan mendapat dukungan dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) serta para supir taksi, tur travel, ojek, sehingga tokonya tak pernah sepi pengunjung. Ia lalu membuka toko yang lebih besar pada 16 Mei 2009 di Jalan Sunset Road 88, Kuta. Melihat toko barunya itu sangat laku, ia memperluasnya menjadi 5.000 m² dan hanya dalam setahun berkembang menjadi 1,4 hektare sehingga menjadikannya pusat suvenir terbesar di Bali.

Pada 1 November 2010 ia membuka toko lagi seluas 4.500 m² dengan nama Rama Krisna di Tuban yang buka 24 jam, dekat bandara Ngurah Rai. Pada 18 Juli 2018 pagi ia membuka dengan megah Krisna Bali Souvenir Center yang luasnya mencapai 3 hektare. Undangan mencapai 4 ribu orang yang diakhiri dengan penampilan Syahrini.

Siangnya ia membuka Krisna Eco Edu Village serta Krisna Waterpark yang dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektare di Buleleng. Waterpark ini menjadi wisata air satu-satunya di Bali yang memiliki kolam ombak. Total karyawannya saat ini mencapai sekitar 3.000 orang.

Kerja keras dan inovatif menjadi kunci keberhasilannya. Selain itu, ia sering meditasi yang membuat pikirannya harmonis dan positif sehingga ia selalu optimis dan memiliki banyak solusi. Faktor  sukses lainnya adalah pemasok. Jika ada kendala, ia mengungkapkannya secara terbuka. Total pemasok yang tergabung di Krisna ada 475 dan hanya 10% saja yang berasal dari luar Bali.

Menurutnya, dengan banyaknya pemasok yang bergabung, uang dari mereka saja bisa untuk membuka satu gerai Krisna. Ia mencontohkan, jika satu pemasok menyumbang Rp. 500 juta dan ada 40 pemasok yang mendukung, berarti ada Rp. 20 milyar dana terkumpul, Itu cukup untuk membuka gerai Krisna baru. Ia tidak yakin usahanya bisa sebesar ini jika dengan modal sendiri. Sebaliknya, bagi pemasok juga tidak mudah membuka gerai sendiri karena harus mengontrak toko, mengupah karyawan, belum lagi biaya promosi yang tidak murah.

Untuk membuka gerai di kota lain, ia belum bisa menerapkan strategi yang sama. GOSIPNYA di Bali saja butuh tiga tahun untuk meyakinkan pemasok agar mereka turut mendukung pengembangan bisnisnya. Menurutnya, secara bisnis lebih menguntungkan membuka usaha di luar Bali karena ia tidak keluar modal: mitranya yang menyediakan tempat, sedangkan barang dari pemasok. Seperti gerai Krisna di Surabaya, kontrak tempatnya Rp. 3,5 milyar untuk 10 tahun. Untuk gerai di Kota Tua Jakarta, ia hanya menyiapkan barang dengan nilai Rp. 10 milyar.

Banyaknya pemasok yang bergabung, menurutnya juga tidak gampang dan mulus dalam mengelolanya. "Kami harus telaten mengajarkan dan melatih mereka. Semua butuh proses. Kami ada surat peringatan jika ada yang nakal. Ada SP1, SP2, dan SP3," ungkapnya.

Pemasok yang ikut membangun Krisna sejak awal buka akan lebih diutamakan ketika membuka gerai baru daripada pemasok baru dengan barang sama. Ia akan menyampaikan ke pemasoknya, bahwa ada calon pemasok baru yang menawarkan barang yang sama dengan harga lebih murah. Jika selisih hanya Rp. 100, pemasok lama masih dipertimbangkan untuk lebih diunggulkan, tapi jika selisihnya Rp. 1.000, ia akan menanyakan alasannya, kenapa pemasok baru bisa jauh lebih murah. Pertimbangan kuantitas yang bisa dipenuhi juga menjadi salah satu pertimbangan. Jika pemasok lama tidak bisa memenuhi, ia akan mengambil dari pemasok baru untuk menambah barang.

Istrinya bertugas menyeleksi barang dan mengelola para pengrajin. Istrinya sangat berkebalikan dengannya. Ia bersifat cepat dan mengandalkan intuisi sedangkan istrinya selalu waspada, berpikir jangka panjang, serta menghitung detil untung-ruginya. Contohnya, ia selalu berpikir menambah gerai baru sedangkan istrinya mengingatkan untuk lebih hati-hati. Contoh lainnya, gajinya setiap bulan selalu habis sedangkan istrinya suka menabung.

Sejak pertengahan tahun 2018, anak pertamanya Gusti Ngurah Berlin Bramantara, mulai mengambil alih pengelolaan Krisna. Ia berpesan pada Berlin agar hubungan dengan karyawan harus tetap dijaga baik, tidak jaga jarak, bahkan bisa lebih menyejahterakan karyawan seperti dulu dirinya dengan Made Sidharta.

Ia tidak hanya menjalin hubungan baik dengan karyawan dan pemasok, tapi juga dengan agen biro perjalanan dan para sopir yang biasa membawa wisatawan mampir ke gerai Krisna. Bahkan para pebisnis lainnya di Bali pun ia anggap sebagai teman yang sama-sama ingin mengembangkan pariwisata Bali, meski bisnisnya ada yang serupa. Itu terlihat ketika menyelenggarakan pesta grand opening Krisna Bali Souvenir Center di Gianyar, ia mengundang agen perjalanan wisata, tidak hanya yang ada di Bali, tetapi juga dari daerah lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat, serta para sopir dan pengusaha di Bali.

Meski sudah sukses ia tetap rendah hati. Jika ada temannya yang sakit, meninggal, atau dilanda musibah, ia adalah orang yang paling pertama berinisiatif menggalang bantuan. Jika datang ke Konfeksi Sidharta, ia tak canggung untuk duduk di lantai bersama karyawan Sidharta yang dulu merupakan teman-teman kerjanya.

Leo Chandra

Leo Chandra (劉正昌 / Liu Zhengchang)
lahir 1942 di Meixian, Cina

GOSIPNYA
Pada tahun 1930-an kakek Leo membuka toko serba ada yang menjual lampu sampai alat musik. Tahun 1940 ayah Leo meneruskan bisnis itu dengan membuka toko kelontong di Binjai, Sumatra Utara. Di toko ini, Leo membantu ayahnya menjual aneka kebutuhan sehari-hari hingga obat-obatan. Leo adalah anak pertama dari 9 bersaudara.

Tahun 1955 keluarga Leo pindah ke Medan karena ibu Leo meninggal dunia. Ayah dan pamannya lalu membuka toko baru. Ayahnya membuka toko kelontong bernama Wan-Y di Medan sedangkan pamannya membuka toko elektronik di Jakarta.

Sejak tahun 1950 keluarga Leo telah menjadi importir produk Philips dengan nama Rasie Elektronik di Medan dan Palapa Elektronik di Jakarta sebagai distributor untuk seluruh Indonesia. Bisnis orangtuanya sempat berhenti saat terjadi pemberontakan PKI pada 30 September 1965. Sebagai keturunan Tionghoa, toko keluarganya menjadi salah satu sasaran penjarahan dan pembakaran.

Leo juga terpaksa putus kuliah di fakultas ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta. Kampus itu ditutup karena dianggap mendukung PKI sehingga ia kembali ke Medan. Tahun 1967 ayah dan pamannya merintis usahanya kembali. Pamannya beralih ke bisnis travel sementara Leo meneruskan usaha ayahnya di Medan.

Produk-produk buatan Jepang mulai menyerbu pasar Indonesia pada tahun 1970-an dan Rasie Elektronik memanfaatkan peluang untuk menjadi distributor dari merk-merk terkenal seperti Sanyo, Hitachi, Sharp, Toshiba, National (kini Panasonic), Mitsubishi, Pioneer, Sansui.

Mereka memprediksi bahwa kebutuhan barang-barang elektronik akan terus meningkat tapi daya beli masyarakat golongan bawah sangat terbatas, padahal mereka adalah konsumen pontensial terbesar. Saat itu produk elektronik dianggap sebagai barang mewah dan hanya orang kaya yang bisa membelinya.

Palapa Elektronik lalu mengubah strategi pemasaran dengan sistem pembayaran tunai dan kredit sehingga pada 28 Februari 1982 Leo Chandra dan Jaya Gunawan mendirikan UD Columbia Cash & Credit dengan 8 orang karyawan. Columbia didirikan di lahan seluas 75 m² di Jl. Hayam Wuruk 110, Jakarta.

Awalnya ia juga tak berani memberi kredit terlalu besar, apalagi tak ada bank yang mau memberi pinjaman sebagai modal. Modalnya saat itu adalah nama baik keluarga. Saat banyak pihak tak mendukung model bisnis ini, beberapa pabrik elektronik yang mengenal keluarganya sejak lama justru mau menyokong. Mereka mau memberi barang terlebih dulu dengan tempo pembayaran lebih lama.

Tahun 1983 Columbia berpartisipasi dalam Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang GOSIPNYA merupakan pelopor keikutsertaan perusahaan kredit di PRJ. Pada Oktober 1983 cabang pertama dibuka di Jl. Nursaid, Bandung. Omzet penjualan pun meningkat menjadi Rp. 3 Milyar. Tahun 1985 perusahaan berkembang menjadi PT Columbia Dharma Pertiwi.

Hingga tahun 1987 telah ada 2 cabang toko di Jakarta dan 8 cabang toko di luar Jakarta. Pada tahun 1988 karyawan Columbia berjumlah sekitar 200 orang dengan 3 grup Sales Force. Pesatnya perkembangan perusahaan membuat ruangan kerja tidak memadai lagi, sehingga pada 28 Maret 1988 kantor pusat Columbia dipindahkan ke Jl. K.H. Moch. Mansyur Blok 15 A No. 23-26 dengan kapasitas 4 bangunan 4 lantai. Tahun 2001 bertambah 3 gedung lagi yaitu No. 15, No. 25, dan di Jl. Duri 1 No. 9 A-11.

Pada 16 Maret 1990 berdasar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), nama perusahaan berganti lagi menjadi PT Columbindo Perdana. Tahun 1993 dibuka cabang di Jambi, Manado, Pekanbaru. Tahun 1996 dibuka lagi cabang di Denpasar, Yogyakarta, Solo.

Columbia mulai mendapat kepercayaan bank dengan diberikannya kredit berbentuk club deal yang dipimpin oleh Bank Sahid Gajah Perkasa (SGP). Tahun 1997 sebelum krisis melanda Indonesia, Columbia mencatat sejarah sebagai satu-satunya perusahaan yang pernah menyewa kapal pesiar Awani Dream sebagai wujud penghargaan perusahaan pada karyawan yang berprestasi.

Ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998, Columbia melakukan efisiensi biaya dan pengurangan karyawan dari 13.700 orang menjadi 4.000 orang. Kerusuhan itu membuat 10 toko tutup karena rusak parah dan tidak ada barang yang layak dijual. Selain itu ratusan orang tidak mau membayar utang dengan alasan toko tutup.

Tahun 1999 Columbia memperkuat manajemen dan operasional cabang serta meningkatkan sumber daya manusia. Tahun 2000 karyawan berjumlah sekitar 15.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Tahun 2001 karyawan berjumlah sekitar 23.000 orang dengan 603 cabang toko (outlet) dan 72 mobile outlet di seluruh Indonesia.

Tahun 2002 Leo membeli PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) untuk menyokong pembiayaan secara kredit. Pelanggan utama SNP adalah konsumen Columbia. Awal tahun 2003 jumlah karyawan berkurang dari 23.985 orang menjadi 17.604 orang. GOSIPNYA 23.985 karyawan adalah Sales Executive 6.835 orang, Sales Counter 3.556 orang, Super Visor Sales Counter 601 orang, Super Visor Sales Executive 6.835 orang, Non Sales 6.158 orang.

Darwin Leo
lahir April 1975 di Medan

Sejak tahun 2003 anaknya, Darwin Leo, perlahan-lahan disiapkan untuk menjadi penerus bisnis keluarga. Darwin mendapat bekal ilmu dari Aoyama Gikuin University, Jepang. Setelah lulus tahun 1999 Darwin bekerja di Okamura yang bergerak di bidang manufaktur dan perlengkapan kantor serta komersial selama 3 tahun. Darwin memilih perusahaan lokal yang memiliki budaya kerja tradisional Jepang karena ingin belajar manajemen bisnis filosofi perusahaan ala Jepang.

Tahun 2003 Darwin kembali ke Indonesia. Ketika pertama bergabung Darwin menangani produk furnitur mulai dari proses pembelian, penawaran, dan distribusi barang, dengan jabatan assistant manager purchasing. Tahun 2005 Darwin ditugasi menangani produk elektronik dan lalu dipindahkan ke marketing, operasional, sebelum menjadi pimpinan perusahaan. Awal tahun 2006 Columbia membuka outlet terbesarnya di Bogor Trade Mall seluas 700 m².

Tahun 2013 Columbia memiliki 402 cabang outlet, 77 mobile outlet, serta 14.000 karyawan yang terdiri dari 9.000 supports dan 5.000 sales. Berbagai program pendidikan dan pengembangan terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan pengetahuan karyawan melalui program Apel Pagi Nasional, Apel Siaga Nasional, dan Apel Akbar yang dilaksanakan di seluruh cabang toko. Seluruh karyawan termasuk direktur, harus mengikuti program ini. Selain itu, setiap departemen harus menyusun jadwal pelatihan sendiri dan dikoordinasikan dengan Departemen Training Pusat dalam pelaksanaannya. GOSIPNYA omzet tahun 2013 mencapai Rp. 2 trilyun per tahun.

Tahun 2017 Columbia memiliki 350 cabang outlet dan 79 mobile outlet. Banyaknya pesaing membuat Darwin menyediakan layanan jemput bola yang memudahkan dan memanjakan pelanggan. Perubahan lain yang dilakukan Darwin adalah mengoptimalkan outlet-oulet yang dimiliki Columbia. Bila sebelumnya hanya melayani pembelian end user, kini outlet tersebut mulai merambah ke pasar korporasi.

Nestle dan Unilever tercatat pernah menjadi konsumen Columbia. Biasanya mereka membeli produk furnitur untuk dikirim ke kantor-kantor cabang atau membeli produk elektronik sebagai hadiah untuk karyawan ataupun pelanggan mereka. Selain itu, Columbia juga bekerja sama dengan beberapa perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) dan perbankan untuk melayani kredit khusus karyawan perusahaan tersebut.

Keuntungan perusahaan bekerja sama dengan Columbia adalah mereka bisa membeli di satu tempat dengan harga yang sama, tapi dapat dikirim ke seluruh Indonesia. Sementara bagi karyawan yang bekerja di perusahaan yang bermitra dengan Columbia, mereka mendapatkan bunga lebih rendah dibandingkan pembelian ritel.

Selain merambah pasar korporasi, Columbia juga mulai melebarkan sayap ke pasar mancanegara dengan membidik para tenaga kerja Indonesia (TKI) melalui kantor cabang yang berada di Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Para TKI bisa membeli di sana dan barangnya dapat dikirimkan kepada keluarganya di Indonesia.

Darwin mengklaim semua strategi yang diterapkannya cukup ampuh dalam meningkatkan penjualan Columbia. Meski kondisi ekonomi lesu dan penjualan barang elektronik nasional menurun, Columbia masih mengalami pertumbuhan positif di kisaran angka 10%.

“Kontribusi penjualan saat ini sekitar 60% berasal dari produk elektronik, furnitur sekitar 20%, IT dan gadget sekitar 20%. Kami optimistis akan terus tumbuh karena tidak semua peritel memiliki jaringan seluas Columbia. Sekarang hanya perlu menjaga customer base agar tidak lari ke kompetitor,” tuturnya pada tahun 2017.

Darwin juga melayani pembelian online lewat aplikasi iOS dan Android bernama ShootYourDream dan situs www.shootyourdream.com. "Kontribusi online tidak lebih dari 10%, tapi kanal ini memperlebar segmentasi yang dibidik. Jadi kalau pelanggan di Columbia secara konvensional berumur di atas 30 tahun, Shoot Your Dream menggaet pelanggan usia 20 tahun. Permintaan produknya pun sangat berbeda, sekitar 85% permintaan adalah gadget," tukas Darwin tahun 2017.

Melalui www.kukuruyuk.com, Darwin juga menyediakan barang elektronik refurbish, yakni barang yang dikembalikan konsumen, namun telah melalui proses pengecekan dan perbaikan (jika diperlukan) agar menyerupai kondisi semula. "Kehadiran kukuruyuk.com dapat menjadi solusi karena hampir semua barang refurbish hadir dengan garansi," pungkasnya.

Salah satu pelayanan lain yang diberikan Columbia kepada konsumennya adalah kebijakan untuk konsumen yang dapat menyicil sebanyak setengah dari total angsurannya akan berhak untuk membeli produk berikutnya. Hal ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan pembelian berikutnya.

Penghargaan untuk konsumen yang berhasil melakukan pembayaran tepat waktu diberikan melalui Point Reward Columbia Star Club. Columbia juga mempermudah metode pembayaran dengan menghadirkan berbagai alternatif pembayaran seperti ATM, Indomaret, Alfamart, Pegadaian dan Kantor Pos Indonesia.

Penawaran lainnya yang diberikan yaitu potongan harga cicilan yang lebih murah untuk pelanggan setia dibandingkan harga cicilan bagi pelanggan baru. Program ini telah dijalankan sejak 2016. Total nasabah Columbia telah mencapai 6 juta orang dengan komposisi di Pulau Jawa 60% dan di luar Jawa 40%. Columbia menargetkan setiap bulannya 30-35% dari penjualan harus berasal dari pelanggan lama dan sisanya dari pelanggan baru.

Layanan lain dihadirkan Columbia, dimana konsumen bisa membuka toko dan menjual produk-produk Columbia melalui situs www.mise.id. Dari situ mereka akan mendapatkan komisi untuk setiap produk yang berhasil dijual. Ini menjadi bentuk kemitraan Columbia dengan pelanggan sehingga mereka bisa membuka toko tanpa modal dan stok barang. Columbia juga bekerjasama dengan situs yang membutuhkan layanan pembiayaan untuk produk yang mereka jual seperti www.mataharimall.com, www.alfacart.com, www.plazakamera.com.

Pertumbuhan kredit Columbia sebelum tahun 2016 terakhir mencapai 10-15%. Kondisi ini disesuaikan dengan faktor kehati-hatian dalam bisnis kredit dari sisi kemampuan orang membayar karena faktor ekonomi yang melemah akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Columbia melakukannya melalui Instant Approval Through Digital Scoring di MyColumbia App yang diluncurkan pada November 2017. Columbia menargetkan pertumbuhan kredit 6-8% hingga akhir 2017.

Pada akhir tahun 2017 Columbia meraih Indonesian Customer Satisfaction Award 2017 (ICSA) pada kategori pembiayaan elektronik, furnitur, perlengkapan rumah. Selain itu pada 14 Desember 2017 Leo Chandra mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement in Multifinance Industry 2017 dari Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI). Penghargaan itu dicabut kembali setelah kasus gagal bayar SNP mencuat. SNP gagal bayar bunga surat utang jangka menengah atau Medium Term Notes (MTN) SNP Tahap II dan III yang jatuh tempo 9 Mei 2018 dan 14 Mei 2018.

Grup Columbia merupakan gabungan kelompok usaha yang terdiri dari beberapa perusahaan, diantaranya PT Cipta Pratama Mandiri, PT Citra Prima Mandiri, PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) serta Citra Panji Mandiri. PT Cipta Pratama Mandiri maupun PT Citra Prima Mandiri merupakan perusahaan yang bergerak di bidang retail. Sedangkan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan dan Citra Panji Mandiri merupakan perusahaan pembiayaan. Tahun 2018 Columbia memiliki 358 cabang outlet dan 27 mobile outlet.

Alur bisnis Columbia hingga SNP: Columbia menerima order pembelian barang dari konsumen. Order diteruskan kepada PT Cipta Pratama Mandiri maupun PT Citra Prima Mandiri. Proses pembiayaan atas pengadaan barang tersebut diproses oleh SNP.

SNP masuk proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sejak 8 Mei 2018. Bermula dari permohonan pailit dua mantan karyawannya Herlina Rahardjo dan Fredi Imam Santoso dengan nomor perkara 10/Pdt.Sus-Pailit/2018/PN Niaga Jkt.Pst pada 18 April 2018. Nilai tagihannya berkisar Rp. 900 juta. Pada 2 Mei 2018 SNP mengajukan agar permohonan pailit tersebut jadi PKPU sukarela dengan nomor perkara 52/Pdt.Sus-PKPU/2018/PN Jkt.Pst.

Pemegang saham SNP per 31 Desember 2017 adalah 66,66% oleh Leo Chandra dan keluarga melalui PT Cipta Pratama Mandiri dan 33,34% melalui kepemilikan langsung. Total kewajiban bunga utang yang belum dibayar adalah Rp. 6,75 milyar dari dua seri MTN. Pertama MTN V SNP Tahap II senilai Rp. 5,25 milyar yang jatuh tempo 9 Mei 2018 dengan nilai pokok Rp. 200 milyar yang terbit Februari 2018 dengan Rating Pefindo idA/Stable dengan kupon 10,5%. Kedua bunga MTN III seri B senilai Rp. 1,5 milyar yang diliris 13 November 2018 senilai Rp. 50 milyar dengan kupon 12,12% dengan Rating idA/Stable.

Menurut data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), seluruh nilai MTN sebesar Rp. 1,852 trilyun dengan jatuh tempo dan seri yang berbeda. Nilai MTN yang jatuh tempo 2018 sebesar Rp. 725 milyar dengan 5 seri. Sementara MTN yang jatuh tempo 2019 sebesar Rp. 817 milyar dengan 10 Seri dan yang jatuh tempo 2020 sebesar Rp. 310 milyar dengan 4 seri. Semua dengan rating idA/Stable dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Dari rapat kreditur di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat tanggal 30 Mei 2018 diketahui ada 28 kreditur yang mendaftarkan tagihannya, dimana 19 kreditur merupakan pemegang jaminan (separatis) dengan total tagihan Rp. 2.486 milyar yang terdiri dari Samuel Aset Manajemen dengan tagihan Rp. 80 milyar, Reliance Capital Management Rp. 30 milyar, dan tiga kreditur lainnya dengan tagihan Rp. 155 milyar, serta 14 bank:
-Bank Mandiri dengan tagihan Rp. 1,4 trilyun
-Bank BCA Rp. 210 milyar
-Bank Panin Rp. 141 milyar
-Bank Ganesha Rp. 77 milyar
-Bank Resona Perdania Rp. 74 milyar
-Bank J-Trust Rp. 55 milyar
-Bank Victoria Rp. 55 milyar
-Bank China Trust Rp. 50 milyar
-Bank Nusa Parahyangan Rp. 46 milyar
-Bank Internasional Nobu Rp. 33 milyar
-Bank Capital Rp. 30 milyar
-Bank BJB Rp. 25 milyar
-Bank Woori Saudara Rp. 16 milyar
-Bank Sinarmas Rp. 9 milyar

Dalam proses PKPU, SNP punya tagihan senilai Rp. 4,094 trilyun. Perinciannya ada lima kreditur tanpa jaminan atau konkuren dengan tagihan Rp. 338 juta, dan Rp. 3,957 trilyun untuk 354 kreditur separatis alias pemegang jaminan. Selain itu ada tagihan bunga dan denda senilai Rp. 17,020 milyar dari kreditur separatis. Sementara rincian kreditur separatis antara lain yaitu 14 kreditur berasal dari perbankan dengan tagihan senilai Rp. 2,221 trilyun. Sisanya tagihan senilai Rp. 1,85 trilyun adalah jumlah yang harus dibayarkan kepada 336 pemegang MTN terbitan SNP.

SNP mengikuti jejak multifinance yang sudah bermasalah seperti Arjuna Finance, Bima Finance, Mandiri Finance Indonesia, IBF dan SAF. Jatuhnya multifinance tersebut dengan pola yang sama (PKPU) akan menyusahkan multifinance yang masih berdiri sekarang karena dengan rating Pefindo idA/Stable dan diaudit oleh Deloitte saja tumbang. Hal ini tentu akan membuat bank-bank meragukan multifinance yang diaudit akuntan di bawah kelas Deloitte yang merupakan urutan kedua terbesar di dunia dalam bidang jasa profesional setelah Pricewaterhouse Coopers. Pada 14 Mei 2018 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membekukan kegiatan usaha SNP.

Pada 14 September 2018 Wahyu Handoko (Supervisor Treasury dan Bank Relation), Donni Satria (Direktur Utama SNP), Andi Pawelloi (Direktur Operasional), Rudi Asnawi (Direktur Keuangan), Christian D. Sasmita (Manajer Akuntansi) ditangkap di Jakarta. Anita Sutanto (Asisten Manajer Keuangan) ditangkap secara terpisah pada 18 September 2018 di Jakarta.

"Modus yang dilakukan oleh SNP, yaitu menambahi, menggandakan, atau menggunakan berkali-kali daftar piutang ini sehingga kreditur mengeluarkan sebesar apa yang mereka minta sesuai dengan daftar," terang Wakil Direktur Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Kombes Daniel Tahi Monang Silitonga di Kantor Bareskrim Polri, Jakarta Pusat, 24 September 2018.

Leo Chandra menyerahkan diri ke Bareskrim Mabes Polri pada 27 September 2018 setelah dicekal oleh imigrasi. Pada 31 Oktober 2018 Sie Ling (Manajer Keuangan SNP) ditangkap polisi sehingga tinggal tersisa Darwin Leo yang masih buron. Ia akan dijerat Pasal 263 KUHP, dan/atau Pasal 372 KUHP, dan/atau Pasal 378 KUHP, dan/atau Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sate Hadori

Wawan Hadori dan istri, Wati Dinyati

CABANG USAHA
-Jl. Stasiun Timur 11-12 Bandung
-Metro Indah Mall Blok D 12 Jl. Soekarno Hatta 590 Bandung
-Jl. Lemahnendeut 8 Bandung
-Jl. Ir. H. Djuanda 50 (The Kiosk) Bandung
-Jl. Setiabudhi 46 (The Kiosk) Bandung
-Pasaraya Grande LG W19, Jl. Iskandarsyah Raya, Jakarta Selatan

GOSIPNYA
Usaha sate dimulai oleh Inung dan istrinya Una ketika Indonesia masih dijajah Jepang. Mereka kerap mengungsi karena tidak pernah ada tempat yang aman saat itu. GOSIPNYA karena dianggap praktis, mereka berjualan sate kambing untuk bertahan hidup.

Di Pasar Baru Garut mereka membuka dua kios yang salah satunya digunakan untuk berjualan sate. Setelah perang usai, tahun 1950 mereka mengungsi ke Bandung dan berjualan sate di Tegallega.

Suatu waktu ada seorang teman yang mengajak untuk berjualan di stasiun kereta api yang saat itu masih menjadi terminal bus. Inung berjualan sate dengan gerobak dorong. Pembeli sangat banyak saat itu.

Suatu saat seorang temannya menjual kiosnya berukuran 4x4 meter padanya dan membuat jualannya makin ramai. Tahun 1962 Inung meninggal dunia dan usahanya dilanjutkan oleh anaknya, Hadori sehingga nama Sate Inung pun berubah menjadi Sate Hadori. Tahun 1965 stasiun dipugar dan ada yang menjual kios pada Hadori sehingga ukuran kios Hadori menjadi 16x4 meter hingga kini.

Tahun 1990 Hadori meninggal dunia. Hadori memiliki empat orang putra dan usahanya dilanjutkan oleh putra pertamanya yaitu Wawan Hadori. Sate Hadori buka setiap hari dari pukul 10 pagi hingga 2 dini hari. Setiap harinya rata-rata disediakan 70 kilogram daging kambing, sapi dan ayam. Salah satu keistimewaan sate ini adalah pemakaian kambing betina berusia 1-1,5 tahun. Selain itu, Sate Hadori punya menu favorit yaitu sate sineureut, yaitu sate super empuk yang terbuat dari has dalam kambing.


Pada 10 November 2018 Presiden Jokowi berkunjung ke Bandung untuk memperingati Hari Pahlawan. Jokowi pun menyempatkan diri mampir ke Sate Hadori.

Dinaheti Motor Industri

Johannes Cokrodiharjo

Henry Tedjakusuma

GOSIPNYA
Sekitar tahun 1980-an kakak beradik Tjong Lyanti Tedjakusuma (Tjong Bui Lian) dan Eddy Tedjakusuma membuka bisnis helm dengan mendirikan Dinaheti Motor Industri. Awalnya Dinaheti hanya merupakan usaha rumahan dengan 20-30 tenaga kerja. Helm-helm diproduksi secara manual menggunakan tangan. Perusahaan ini memperkenalkan helm model cakil dan cetok di masanya. Setiap bulan Dinaheti mampu menghasilkan 30-50 unit helm. Berkat pengelolaan secara profesional, perusahaan itu berkembang dan produksinya terus mengalami kenaikan.

Pada tahun 1998 krisis moneter melanda Indonesia. Dinaheti terkena imbasnya karena daya beli masyarakat melemah dan pasar motor turun drastis sampai 85%. Dinaheti memutuskan untuk memasarkan 70% produknya ke luar negeri. Asia, Eropa dan Afrika menjadi tujuan ekspor saat itu. Perusahaan selamat dan tetap bisa bertahan.

Tjong punya anak bernama Johannes Cokrodiharjo dan Eddy punya anak bernama Henry Tedjakusuma. Mereka memutuskan berpisah dan mendirikan pabrik masing-masing. Johannes memimpin PT Dana Persadaraya Motor Industry yang berdiri sejak 1997 sedangkan Henry memimpin PT Tarakusuma Indah yang berdiri sejak 2 Agustus 2004.

Karena terlalu fokus pasar ekspor, Dinaheti kehilangan pasar domestik. Helm-helm impor dengan harga murah membanjiri Indonesia. Langkah pertama Johannes merebut pasar lokal adalah memperbaiki kualitas helm yang diproduksi. GOSIPNYA saat itu keuntungan PT Dana Persadaraya hanya 1%-2%.

Mereka berhasil merebut pasar lokal tapi harus bersaing menjadi yang terbaik. Perusahaan lain hanya memproduksi ratusan ribu unit helm per tahun, jauh di bawah PT Tarakusuma dan PT Dana Persadaraya yang mencapai jutaan unit helm.

Dana Persadaraya meluncurkan merek MIX dan MAZ untuk pasar kelas bawah, VOG untuk pasar kelas menengah, serta GM dan NHK untuk pasar kelas atas. Tarakusuma meluncurkan merek HIU dan BMC untuk pasar kelas bawah, INK, KYT, MDS untuk pasar kelas menengah dan AGV untuk pasar kelas atas. Selain AGV, Tarakusuma juga memegang lisensi helm impor merek Arai, Bell, dan Vemar di Indonesia. Meski segmentasinya berbeda, kualitasnya tetap sama. Variasi harga hanya disebabkan perbedaan model, bentuk, fitur.

INK awalnya bernama Inako, singkatan dari Indonesia Korea. Helm ini dibuat dari hasil kerja sama dengan perusahaan Korea dan menyasar pengendara motor touring. KYT adalah singkatan dari Kyoto, merupakan produk hasil transfer teknologi dengan Arai Jepang yang menyasar pembalap motor. Itu sebabnya sebelum tahun 2010, merek KYT semuanya dibuat full face. Baru belakangan demi tujuan fashion, KYT didesain dalam bentuk open face.

Ketika Tarakusuma membeli lisensi seperti tokoh kartun Marvel, Doraemon, Mr. Bean untuk helm mereka, Dana Persadaraya juga melakukan hal yang sama seperti membeli lisensi Angry Birds.

Sejak tahun 2009 Dana Persadaraya mulai melebarkan sayap bisnisnya ke produk apparel seperti jaket, sarung tangan, dan tas helm. Agar jangkauan pemasarannya bisa lebih luas, sejak September 2011, Dana Persadaraya meluncurkan situs Helmku.com sebagai outlet resminya.

Strategi Tarakusuma memenangkan persaingan adalah menggaet komunitas motor dan membuat banyak merek untuk melawan produk palsu. Selain itu Tarakusuma memasok langsung ke berbagai supermarket dan membuka distributor resmi di jakarta, yaitu MotoChief dan IndoRocky. Ada juga Helmet Gallery yang di depannya ditambahkan nama kotanya misalnya Surabaya Helmet Gallery.

Untuk memenangkan persaingan Dana Persadaraya menggandeng Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sepeda motor di Indonesia. ATPM menjadi salah satu pemasukan tetap bagi produsen helm karena 8 juta helm yang diproduksi dalam satu tahun berasal dari pesanan para ATPM di Indonesia. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar karena ATPM memproduksi sendiri.

Tarakusuma memiliki pabrik di Kawasan Industri Lippo Cikarang, dengan luas wilayah 20.000 m² dimana luas bangunan mencapai 15.000 m². Dana Persadaraya juga memiliki pabrik baru senilai Rp. 150 milyar di Citeureup, Bogor, Jawa Barat dengan lahan seluas 12 hektare yang sudah beroperasi sejak Juli 2012.

Sejak 1 April 2010 aturan yang menerapkan helm wajib Standar Nasional Indonesia (SNI) mulai efektif diberlakukan. Hal ini makin menguntungkan para produsen helm. Supaya tidak dicontek pemain helm lainnya, Tarakusuma selalu mematenkan semua inovasi yang dimilikinya, seperti anti thief dan double visor.

Tahun 2014 dan 2015 KYT pernah bekerjasama dengan pembalap MOTOGP Andrea Iannone dengan menempelkan merek KYT pada helm Suomy yang dipakai Iannone. GOSIPNYA karena meminta kontrak terlalu tinggi sekitar 360.000 Dolar AS per tahun, KYT menghentikan kerjasamanya dengan Iannone.

Tahun 2016 KYT dipakai oleh pembalap MOTOGP Aleix Espargaro dan pembalap MOTO2 Xavier Simeon dan Simone Corsi serta pembalap MOTO3 Andrea Locatelli. Tahun 2018 KYT dipakai pembalap MOTO2 Fabio Quartararo dan Isaac Vinales serta pembalap MOTO3 Jaume Masia.

Seperti tak mau kalah, di awal tahun 2018 PT NHK Indonesia secara resmi mengumumkan keikutsertaan helm NHK dalam men-support pembalap pada ajang kejuaraan dunia MOTOGP dan MOTO2 di tahun 2018. PT NHK Indonesia telah menjalin kontrak dengan pebalap MOTOGP yaitu Karel Abraham dan juga pembalap MOTO2 Jules Danilo.

Beberapa produsen helm yang sudah tergabung dalam Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI) dan produknya yang telah memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI):
-PT Dinaheti Motor Industri: KYT, BMC, INK, TSUNAMI, TSM, HIU
-PT Dana Persadaraya Motor Industry: MAZ, NHK, GM, VOG, MIX, REX, BEON, ZETA
-PT Tarakusuma Indah: INK, MDS, KYT, BMC
-PT Inplasco Prima Surya: CABERG, HBC
-PT Mega Karya Mandiri: CARGLOSS
-PT Helmindo Utama: AINON, HQC, NEXX, KOR, XPOT
-PT Makmur Aman Sentosa: MRY, KJP, SUN
-UD Safety Motor: JPN, BEST 1, CROS X, SMI
-CV Triona Multi Industri: SHC, NZI, MONZA

Alpina

Paidjan Adriyanto
lahir 26 Mei 1954 di Madiun
istri: Sunarti
anak: Abdi Budi Santoso
Okta Alfianto
Agnes Bangkit Rianto
Giant Catur Wicaksono

GOSIPNYA
Paidjan Andriyanto merantau ke Bandung tahun 1976 dengan bekal sedikit uang dari Madiun. Setelah dua hari mencari alamat saudaranya, baru pada hari ketiga ia menemukannya. Setelah beberapa lama bekerja serabutan, GOSIPNYA ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak untuk pertama kalinya sebagai pesuruh kantor dengan gaji Rp. 15.000 per bulan (GOSIP lain bilang Rp. 150 per bulan). Sebagai perbandingan, gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) saat itu untuk golongan I-IV adalah Rp. 12.000-120.000 dan Upah Minimum Regional (UMR) adalah Rp. 15.000 per bulan.

Yanto rajin menabung. Ia mengumpulkan uang untuk ikut kursus akuntansi di Akademi Akuntansi Bandung. Selesai kursus, ia bekerja di perusahaan tekstil mengurus pembukuan. Tak lama kemudian ia pindah kerja ke kantor pengacara. Tidak lama kemudian, ia ganti pekerjaan lagi menjadi administrasi keuangan di sebuah apotek kecil.

Kecintaannya pada olahraga luar ruangan membawanya bergabung di Jayagiri, produsen
busana dan alat-alat olahraga luar ruangan yang berdiri sejak Maret 1978. Ia mendapat banyak kenalan dari berbagai komunitas pecinta alam dan pendaki gunung. Ia lalu bergabung dengan wanadri, sebuah perhimpunan pendaki gunung.

Dody Djatmika Kasoem

Bambang Broto

Jayagiri dimiliki oleh Dody Djatmika Kasoem yang juga merupakan anggota wanadri. Bambang Broto yang lebih dikenal sebagai Bambang Buta karena cambangnya brewokan seperti makhluk buto ijo, bekerja di Jayagiri. Pada Mei 1978 Bambang keluar dari Jayagiri dan membuat merek sendiri yaitu Alpina yang kelak juga membuat merek baru bernama Albatros. Merek Jayagiri sendiri dihentikan tahun 1986 dan diganti menjadi Dody. GOSIPNYA merek Dody kurang sukses sehingga kini merek Jayagiri dipakai lagi meski situsnya dinamai DodyJayagiri.com.

Yanto menerima uang pisah dari Jayagiri sebesar 1,5 juta Rupiah. Pada 1 Agustus 1985 ia lalu mendirikan Alpina dengan modal 800 ribu Rupiah. Sejak itu pula ia dikenal dengan sebutan Yanto Alpina. Untuk menjalankan bisnis, Alpina mendapatkan pendanaan dari Bank BCA dalam bentuk kredit modal kerja. Kredit ini diambil sejak tahun 1986 hingga saat ini. GOSIPNYA nama Alpina dipilih karena merupakan singkatan dari Alam Pegunungan Indonesia. GOSIP lain mengatakan merek Alpina dipilih karena merupakan nama jalan yang dipakai untuk usaha.

Pesanan pertamanya datang dari koneksi yang ia kenal di wanadri. Saat itu ia mendapat pesanan mengerjakan tas untuk penyimpanan bola golf sebanyak 500 buah. Sisa hasil membuat tas golf, ia gunakan untuk membeli bahan 3 roll dan mulai membuat tas Alpina. Ia memulai usaha dengan satu mesin jahit dan satu penjahit. Usahanya berkembang, sehingga pada tahun ke-3, mesin jahitnya sudah 25 buah.

Pasar Jawa Barat saat itu dikuasai Jayagiri sehingga ia mencoba pasar lain yaitu Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Ia menawarkan barangnya sendiri ke setiap toko dan meminta mereka menjadi distributor Alpina selama tiga tahun. Tahun 1989 ia berhasil menguasai pasar Jakarta.

Tahun 1995 mesin jahitnya sudah mencapai lebih dari 400 buah. Untuk desain produk, ia mempekerjakan lulusan ITB yang terkenal kreatif. Setelah sukses di luar Bandung, Alpina mencoba memasuki pasar Bandung dan ternyata berhasil.

Masa jayanya adalah dekade 1990-an. Pada tahun 1995 omzetnya mencapai 1 milyar per bulan dengan 400 karyawan. GOSIPNYA Alpina sempat sangat populer di kalangan anak sekolah karena bisa dipesan dalam jumlah sedikit dengan motif warna pilihan sesuai pesanan sebagai simbol satu angkatan di sekolah tersebut. Selain itu Alpina juga tahan lama dan harganya terjangkau oleh anak-anak sekolah saat itu.

Saat krisis moneter terjadi, ia terpaksa melakukan banyak PHK dan menjual mesin-mesin jahitnya karena daya beli masyarakat menurun. Pada tahun 2001 ia meluncurkan produk baru bernama Giant. Meski bergerak di bidang usaha yang sama, produk-produk Giant dibuat lebih modis dan gaya. Perlahan-lahan Giant terus tumbuh. Tahun 2007 penjualan Giant mencapai 25.000 buah, sedangkan Alpina 15.000 buah. GOSIPNYA omzetnya kini mencapai 500 juta per bulan dengan 20 karyawan.

Kini Alpina memakai strategi yang berbeda. Jika dulu bahan dari India, sekarang dari Korea dan Jepang. Jika dulu pemasaran dilakukan dengan mendatangi toko satu per satu, kini lewat online.

Ia sempat diisukan bangkrut dan dituduh mendompleng merek Alpina milik Bambang Broto yang lebih dulu ada. Pada 21 Mei 2016 gudang Alpina milik Bambang di Jalan Dago Asri IV nomor 4 kebakaran. Karena publik bingung Alpina mana yang asli, banyak yang menyebut Alpina dengan embel-embel Giant / Albatros untuk membedakannya.

Untuk membangkitkan kembali bisnisnya, Yanto memberikan garansi seumur hidup untuk tas Alpina. Jika ada kerusakan pada tas maka pembeli bisa membawa ke showroom di Jalan Alpina no. 1 Komp. Dago Asri dan akan dibantu untuk perbaikan.

Soedomo Mergonoto

Soedomo Mergonoto (Go Tek Kie / Go Tek Hwie 无德辉) lahir 3 juni 1950
istri: Mimihetty Layani (赖媚媚) lahir 17 Mei 1967 di Singkawang
ayah: Go Soe Loet lahir 1907, meninggal 12 Juli 1993 di Singapura
ibu: Po Goan Cuan lahir 30 juni 1911, meninggal 14 Oktober 2002 di Singapura
kakak: Soetikno Gunawan (Go Tek Yok) lahir 13 Agustus 1936 di Cina
Wu Yuee (Go Guat Ngo) lahir 10 Oktober 1938 di Cina
Indra Boedijono (Go Tek In) lahir 13 April 1949
adik: Singgih Gunawan (Go Tek Seng) lahir 19 Desember 1951
Lenny Setyawati (Go Tek Lian) lahir 2 Agustus 1953
Wiwik Sundari Guntur (Go Tek Hong) lahir 3 Agustus 1956

ayah mertua: Simon Petrus Mountrady Layani (Lay Se Chiap) meninggal 29 April 2017 di Surabaya
ibu mertua: Natalia Luanna Limina
anak: Christeven Mergonoto (无志好) lahir 20 September 1990 di Surabaya - Velae Dawn Leiman
Kevin Christopher Mergonoto (无志泉)
Vincent Christopher Mergonoto (无志成)
Angelica Carolyne Mergonoto (无丽欣)

Kevin, Christeven, Vincent, Angelica

GOSIPNYA
Tahun 1920 Go Soe Loet yang baru berusia 13 tahun, merantau ke Indonesia dari Fujian, Cina. Ia tidak bisa membaca dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Untuk bertahan hidup, ia mengawali usahanya dengan menjual sayur. Setelah 8 tahun bergelut di sayur mayur, tahun 1927 ia bekerjasama dengan saudaranya Go Bie Tjong dan Go Soe Bie, mereka mendirikan perusahaan kopi bubuk merek Hap Hoo Tjan di Jalan Panggung, Kenjeran, Surabaya. Mereka berjualan kopi setelah mengamati ternyata orang Indonesia sangat senang minum kopi.

Go Soe Loet

Seluruh proses pembuatan masih dilakukan secara manual, mulai dari menimbang hingga membungkus kopi dengan kertas koran. Tahun 1928 ia menjual kopi itu dengan memikul. Sekali pergi berjualan, setidaknya ia membawa 20 kilogram kopi bubuk. Ia mulai berkeliling jam 6 pagi dari Jalan Panggung, lalu menelusuri kampung-kampung hingga jam 3 pagi ke Pelabuhan Tanjung Perak.

Untuk menekan harga agar terjangkau oleh masyarakat luas, ia mencampur kopi bubuknya dengan jagung. Perlahan-lahan kopinya mulai banyak peminat sehingga ia memutuskan naik becak untuk mengirim pesanan dalam jumlah banyak pada tahun 1950. Tahun 1952-1978 ia mulai berjualan dengan mengayuh sepeda menawarkan kopinya ke pabrik dan ke toko-toko di sekitar Pabean hingga Wonokromo, Surabaya.

Sebagai anak ke-4 dari 7 bersaudara, Soedomo Mergonoto, sudah menunjukkan minat yang besar terhadap usaha ini. Soedomo berkeliling kota dengan sepeda ontel tiap hari bersama Soetikno Gunawan dan Indra Boedijono. Tahun 1957 Soedomo membuat produk baru kopi Kapal Api. Ide membuat logo Kapal Api berawal dari seringnya Go Soe Loet menjual kopi di Pelabuhan Tanjung Perak. Di sana Soedomo sering melihat kapal-kapal bersandar sehingga lahirlah logo kapal api.

Tahun 1962 kongsi usaha Hap Hoo Tjan pecah lalu aset-asetnya dibagi tiga. Go Soe Loet mendapat bagian pabrik penggorengan kopi dan melanjutkan produksi kopi dibantu Soetikno, Indra dan Soedomo. Tahun 1982 Hap Hoo Tjan dinyatakan bangkrut.

Pada 7 Juni 1967 ketua Kabinet Ampera, Jendral TNI Soeharto mengeluarkan Instruksi Presidium Kabinet Ampera No. 37/U/IN/6/1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Penyelesaian Masalah Cina menutup sekolah asing untuk WNI sehingga pendidikan Soedomo di SMA Sim Cong, Ngaglik, Surabaya hanya sampai kelas satu.

Soedomo merasa harus melakukan sejumlah terobosan yaitu:
-Mesin canggih untuk meningkatkan kapasitas produksi
-Promosi secara agresif
-Membuat kemasan eceran
-Lahan luas untuk pabrik dan kantor
-Perbaikan manajemen

Saat itu Kapal Api baru mempekerjakan 10 orang dengan mesin goreng lokal seharga 150 ribu Rupiah dan mesin giling seharga 10 ribu Rupiah. Suatu saat, ia kaget ketika membaca sebuah ensiklopedia bahwa mesin kopi yang umum dipakai di Indonesia saat itu adalah teknologi tahun 1800-an.

Tahun 1978 ia mengunjungi pameran mesin interpack di Dusseldorf dan melihat mesin buatan Jerman seharga 130 juta Rupiah. Karena tidak punya uang, ia mengingat-ingat mesin tersebut dan mencoba membuat ulang. Mesin pun jadi dengan harga 4,5 juta Rupiah. Meski secara fisik mirip, hasil produksinya tidak seharum mesin impiannya dan volumenya pun terbatas.

Ia lalu beriklan di TVRI, stasiun TV satu-satunya di Indonesia saat itu. Ia memilih Paimo, pelawak Srimulat sebagai bintang Kapal Api tahun 1978. Langkahnya waktu itu adalah gebrakan dunia pemasaran. Meski iklan TV hanya satu tahun, pengaruhnya luar biasa. Dari urutan ke-7 daerah Jawa Timur saat itu, menjadi ke-1.

Tahun 1980 Soedomo menghubungi pemasok mesin di Indonesia yaitu Lembaga Ikatan Indonesia Jerman. Dari sana ia mendapatkan kontak PT Erieska, agen mesin Jerman tersebut di Jakarta. Ia hanya diberi syarat bayar uang muka 20%, sisanya dicicil tiap 6 bulan selama 1,5 tahun. "Saya memberanikan diri mengambil kredit yang hanya 5 juta dari Bank Bumi Daya," kenang Soedomo. Dengan mesin baru kapasitas melonjak dari 300 kg/hari menjadi 500 kg/jam.

Langkah berikutnya adalah meningkatkan mutu kemasan. Ia terinspirasi kesuksesan Unilever tahun 1970-an yang berhasil memasarkan sabun lux dalam kemasan yang dibungkus rapi, dijual eceran, dibayar tunai dan harus antri untuk mendapatkan barangnya. Sebuah cara yang sangat baik dibanding cara menjual kopinya yang harus dalam skala besar per karung, sering dicicil, dan tidak ada sistem antrian.

Kopi yang sebelumnya diproduksi dengan ukuran 10 kg/kaleng dijual eceran dengan ditimbang dan dibungkus koran, diubah jadi kemasan plastik 100 gram, 250 gram, 500 gram, dan seterusnya.

Tahun 1981 ia membeli tanah seluas 1 hektare di Jalan Raya Gilang, Sidoarjo dan memindahkan pabrik PT Santos Jaya Abadi. Sekarang total lahan produksinya mencapai 10 hektare. Pabriknya menempati areal 3 hektare, kantornya menempati gedung berlantai tiga, berdiri di atas lahan 15x50 meter. PT Santos Jaya Abadi juga melahirkan banyak merek minuman terkenal seperti ABC, Good Day, Fresco, Ya!, Kapten, Excelso dan Ceremix.

Ketika mulai pindah pabrik, ia menyadari bahwa jika manajemen tidak diperbaiki maka akan sulit maju. Ia lalu kursus dan mengikuti berbagai seminar manajemen. Merasa tidak mampu, ia memakai jasa konsultan. Saat itu ia memakai administrasi 1 orang dan sales 2 orang, sedangkan ia hanya memantau dan menandatangani cek.

Distribusi Kapal Api

Tahun 1982 produknya masuk Jakarta. Tahun 1984 ia meluaskan jaringan ke seluruh Indonesia. Tahun 1985 ia berekspansi ke Arab Saudi. Mula-mula ekspor hanya 500-600 kg, sekarang 6-7 kontainer/tahun. Tahun 1987 produknya masuk Hongkong, tahun 1990 masuk Taiwan dan Malaysia. Tapi mereknya tak selalu diterima. Di Hongkong mereknya menjadi Wenz, di Taiwan jadi Excelso karena di luar negeri nama berbau melayu diremehkan.

Tahun 1986 ia mendirikan PT Sulotco Jaya Abadi yang memproduksi kopi Kalosi Toraja, Celebes Kalosi, dan kopi Luwak. Tahun 1990 ia mendirikan PT Excelso Multi Rasa yang membawahi kedai Excelso. Ini merupakan jaringan kedai kopi modern pertama di Indonesia. Kedai Excelso pertama dibuka tahun 1991 di Plaza Indonesia, Jakarta.

GOSIPNYA Soedomo juga membuka pabrik di Cina tahun 1985. Setelah Perdana Menteri Zhou Enlai meninggal pada Januari 1976, Deng Xiaoping sebenarnya adalah calon utama pengganti Zhou Enlai. Namun, para pendukung setia Mao semasa Revolusi Budaya yaitu Kelompok Empat, berhasil menyingkirkan Deng.

Baru setelah Mao Zedong meninggal pada September 1976 dan digantikan oleh Hua Guofeng, serta Kelompok Empat telah disingkirkan, ia didukung oleh Hua Guofeng untuk kembali menduduki jabatan di dalam partai komunis. Tahun 1978 Deng menggagas reformasi ekonomi Cina bernama 改革开放 (Gaige Kaifang / reformasi dan keterbukaan) dengan sistem pasar sosialis. Empat pilar modernisasi adalah pertanian, industri, perdagangan dan investor asing, serta layanan finansial.

Reformasi ini dibuat karena Deng menganggap Revolusi Kebudayaan ala Mao Zedong gagal total. Deng menilai seseorang harus dihargai berdasarkan kemampuan dan kerja kerasnya, bukan semua serba sama ala komunis. Tahun 1979 Deng menggagas pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di pantai timur Cina yang terdiri dari Shenzhen, Zhuhai, Shantou, Xiamen, Hainan. Konsep ini memberikan perlakuan khusus sektor industri seperti keringanan pajak dan pembangunan berbagai fasilitas infrastruktur seperti jalan raya, listrik, dan pelabuhan.

Pertumbuhan ekonomi Cina tumbuh pesat mencapai 9,6% per tahun. Bahkan pertumbuhan ekonomi di Shenzhen pada tahun 1981-1984 mencapai 75% per tahun. Istilah "Kecepatan Shenzhen" atau "Efisiensi Shenzhen" pun lahir untuk menyebut standar kemajuan yang juga dikejar di daerah-daerah lain.

Pada masa ini Soedomo berkunjung ke KEK di Cina. Ia menemukan banyak hal menarik. Di mana-mana ada baliho besar, mirip iklan kampanye yang isinya mengingatkan masyarakat akan pentingnya investasi. Investor asing harus dihormati, wajib diberi kemudahan, dibantu semaksimal mungkin, agar pabrik-pabrik baru segera berdiri.

GOSIPNYA baliho besar di jalan-jalan raya itu kira-kira berbunyi, "Pejabat pemerintah yang mempersulit investor segera dipecat. Pemerintah serius," ujarnya dalam sebuah seminar KADIN Sidoarjo di Hotel Utami, kawasan Bandara Juanda.

Baliho itu bukan omong kosong. Ia membuktikan sendiri manisnya pelayanan aparat birokrasi Tiongkok. Kepada pemerintah daerah, ia menyampaikan rencana membuka pabrik, berikut prospek serta kontribusi untuk pengembangan ekonomi masyarakat. Tanpa banyak basa-basi, aparat pun bertanya: Berapa luas lahan yang dibutuhkan? Lokasi macam apa? Ia lantas meminta lahan sekian hektare.

Menurutnya kesiapan lahan itu tak sekadar fisik belaka, tapi juga surat-surat dan urusan tetek-bengek lainnya. Ketika si pengusaha datang ke lokasi, ia tak perlu pusing menghadapi persoalan pembebasan lahan. Tidak perlu khawatir digugat atau didemo oleh warga. Tak ada pemerasan, pungli, dalam bentuk apa pun. Investor bagi pemerintah Tiongkok (pusat sampai daerah), ibarat raja atau tamu yang harus dihormati.

Di Indonesia kebetulan ia sering mengalami urusan penyediaan lahan untuk pabrik, gudang, perkebunan, dan sebagainya tak mudah. Minta lahan seribu hektare memang kadang-kadang dipenuhi pemda tapi urusannya jauh dari kata selesai. Bukan tak mungkin lahan itu tanah sengketa, dipenuhi unjuk rasa, hingga aksi pematokan atau pelemparan oleh warga.

"Bupatinya bilang ada, tapi selanjutnya ngurus dhewe. Apa enggak pusing investornya? Padahal, kita orang ini kan mau kerja. Lha, kalau diriwuki terus ya gak iso kerja," bebernya. Pabrik kopi miliknya di Cina dibuat mirip di Sidoarjo. Hasil produksinya diekspor ke Arab Saudi, Hongkong, Taiwan, Malaysia.

Ketika Alibaba mulai terkenal tahun 2003, baliho-baliho itu mulai dicabut diganti oleh baliho investor lokal yang mulai menggeliat menjadi raksasa. Meski hingga sekarang Cina masih terbuka terhadap investor asing, cerita tentang baliho tersebut seakan menjadi dongeng bagi para investor Indonesia.

Tahun 1991 Soedomo  meluncurkan permen Relaxa dan Dorini di bawah PT Agel Langgeng. Tahun 1992 ia mendirikan PT Fastrata Buana untuk mendistribusikan produk-produk Kapal Api Group. Tahun 1994 Monysaga Prima didirikan untuk memproduksi minuman dalam kemasan. Tahun 1994 PT Santos Jaya Abadi berkembang dan menambah modal dengan memasukkan Singgih Gunawan ke jajaran pemilik saham. Singgih adalah saudara kandung Soedomo.

Tahun 2000 ia mengakuisisi PT Inasentra Unisatya, produsen aneka permen seperti Pindy, Morello, Dreamy, Goldy. Bisnis klinik kecantikan ia masuki melalui Miracle dan Meliderma. Di Surabaya klinik ini termasuk pemimpin pasar kelas atas. Ia juga mendirikan pabrik mesin kopi mini yang dijual ke McDonald's, Hotel Shangri-La, Hotel Hyatt, dan hotel bintang lainnya.

Ia juga pernah gagal seperti ketika meluncurkan kopi Santos dan permen Dorino sehingga rugi Rp. 1 milyar. Ia baru sadar kesalahannya ketika diadakan survei bahwa masyarakat lebih senang permen rasa mint yang pedas.

Ashley Nicole Krieger

Pada 20 Maret 2011 anak Soedomo, Vincent, menabrak seorang wanita berumur 23 tahun, Ashley Nicole Krieger, ketika balapan ilegal dengan temannya Chandra Dicky Purnomo di kota Santa Clara, California, Amerika Serikat. Vincent mengebut hingga 80 mil per jam di jalan yang batas maksimumnya 35 mil per jam. Mobil Mercedes-Benz CLS 63 hitam milik Vincent menabrak mobil Honda Civic Ashley dan membuat Ashley cedera kepala berat dan pembuluh aortanya robek. Ashley pingsan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Tidak ada narkoba dan alkohol dalam kecelakaan ini. Vincent dibebaskan dengan uang jaminan 500 ribu Dolar AS. Pada 27 Maret 2011 Ashley dinyatakan meninggal dunia di Stanford Medical Center.

Pengadilan menyatakan adanya kesepakatan resmi dari keluarga Ashley dan keluarga Vincent pada 8 maret 2012 bahwa keluarga Vincent memberikan 1 juta Dolar AS untuk membereskan masalah civil lawsuit. Beberapa bulan kemudian keluarga Chandra juga memberikan 150 ribu Dolar AS kepada keluarga Ashley untuk membereskan masalah yang sama. Pada 4 Desember 2012 Vincent dan Chandra divonis penjara 1 tahun dan akan dibebaskan dalam 6 bulan jika berkelakuan baik.

Pada Juni 2012 Soedomo dilaporkan oleh Erwin Kusuma selaku ahli waris dari Ahmad Rivai Anwar yang memiliki saham mayoritas PT Santos Jaya Abadi, ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Soedomo dilaporkan atas tuduhan pelanggaran Pasal 263, Pasal 266, Pasal 372, dan Pasal 374 KUHP, yakni pasal-pasal tentang penggelapan dan pemalsuan akta otentik.

Dalam catatan dokumen pendirian perusahaan tanggal 18 Mei 1979, PT Santos Jaya Coffee Company didirikan dengan modal awal sebesar Rp. 40 juta yang terbagi atas 400 surat sero. Nilai modal itu diantaranya berupa aset perindustrian, penggorengan, penggilingan dan pembungkusan kopi, pembuatan mebel, alat-alat rumah tangga, percetakan, periklanan, cleaning services, peternakan dan perikanan.

Selain berupa aset, modal awal juga berupa uang tunai sebesar Rp. 8 juta atau setara 80 surat sero yang disuntik oleh Ahmad sebesar Rp. 6 juta (60 surat sero), Soedomo sebesar Rp. 800 ribu (8 surat sero), Indra sebesar Rp. 800 ribu (8 surat sero), dan Julia Poernomo sebesar Rp. 400 ribu (4 surat sero). Dalam akta perubahan pendirian perusahaan tahun 2002, modal perseroan menjadi Rp. 100 milyar, dibagi menjadi satu juta lembar saham. Dalam akta perubahan ini Ahmad tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham.

Di akte itu juga dicantumkan Soedomo menjabat sebagai direktur utama, Ahmad sebagai direktur, Indra sebagai komisaris utama, dan Julia menjadi komisaris. Selang setahun, tepatnya 30 April 1980, dilakukan perubahan nama perusahaan menjadi PT Santos Jaya Abadi yang digunakan hingga sekarang.

Soedomo dituduh memalsukan akta perusahaan nomor 24 dan 25 tentang pengalihan saham milik almarhum Ahmad tersebut. Saham Ahmad dinyatakan telah dijual. Akta itu ditunjukkan setelah Ahmad meninggal, sehingga Erwin merasa dirugikan Rp. 750 milyar.

Erwin mengklaim ayahnya tetap memiliki saham di Santos Jaya Abadi dengan membawa bukti surat wasiat ayahnya. Ia lalu mengirim somasi meminta saham ayahnya itu dibayarkan. Soedomo memiliki bukti lain bahwa saham Ahmad telah dijual dengan bukti-bukti catatan notaris.

"Perbuatan terlapor (Soedomo) menyebabkan kerugian bagi klien kami, setidak-tidaknya hak atas dividen yang belum pernah dibayar sebesar Rp. 750 milyar," ujar kuasa hukum Erwin, Zulhendri Hasan.

Karena kesehatannya yang terus memburuk, Ahmad meninggal dunia pada 10 April 2002. Ia meninggalkan seorang istri dan lima anak. Tiga tahun sebelum meninggal, Ahmad membuat surat wasiat yang ditujukan kepada ahli waris dan rekan-rekannya sesama pendiri PT Santos Jaya Abadi.

Surat wasiat tertanggal 25 Agustus 1999 yang ditulis tangan itu antara lain berisi permintaan Ahmad apabila ia meninggal pihak perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Ia juga meminta haknya berupa kepemilikan saham dan dividen yang belum pernah diberikan perusahaan diserahkan kepada ahli warisnya. Memenuhi amanat surat wasiat itu, beberapa pekan setelah kematian Ahmad, sang istri, Hartuti mengirim surat ke komisaris utama PT Santos Jaya Abadi, Indra Boedijono. Isinya meminta dilakukan RUPS.

Tak lama berselang, surat itu dijawab. Isinya mengejutkan, pihak perusahaan menjelaskan bahwa Ahmad sudah tidak lagi memiliki saham. Tak itu saja, perusahaan juga mengirimkan salinan akte nomor 24 dan 25 tertanggal 18 Mei 1979 yang dibuat di hadapan notaris Eugenie Gandaredja. Pada intinya, isi dua akte itu menjelaskan bahwa seluruh saham milik Ahmad sudah dibeli oleh Indra Boedijono dan Soedomo.

Zulhendri menduga akte nomor 24 dan 25 itu sarat dengan rekayasa. Berdasarkan pengakuan ahli waris, hingga menjelang akhir hayatnya, Ahmad tidak pernah berbicara bahwa sahamnya di perusahaan sudah kosong. Almarhum juga tidak pernah menyebut atau menunjukkan kepada ahli waris adanya akte nomor 24 dan 25 tadi. "Semasa Rivai hidup, akta itu tidak pernah ada," kata Zulhendri.

Selain itu, Zulhendri menambahkan, setelah membandingkan isi kedua akte itu ditemukan banyak kejanggalan. Misalnya, tanggal terbit akte nomor 24 dan 25 bersamaan dengan tanggal terbit akte nomor 23 di hadapan notaris yang sama, Eugenie Gandaredja. Zulhendri pun bingung, bagaimana mungkin, pada 18 Mei 1979, dibuat akta pendirian perusahaan yang menyebut Ahmad memiliki 60 lembar saham, tapi di tanggal yang sama dan notaris yang sama, diterbitkan dua akte bahwa Ahmad sudah tidak lagi memiliki saham. Karena itu, Zulhendri menduga akte 24 dan 25 dibuat pihak perusahaan setelah kematian Ahmad.

Kejanggalan makin mencolok setelah mencermati alamat kantor notaris yang tercantum di akte 23, akta 24, dan 25. Di akta 23 disebut alamat kantor notaris berada di Embong Malang, Nomor 97, Surabaya. Tapi di akte 24 dan 25, alamat kantor notaris berada di Jalan Embong Wungu Nomor 25, Surabaya. "Dua akte tersebut (akte 24 dan 25) patut diduga palsu," tuding Zulhendri.

Sementara itu, pihak PT Santos Jaya Abadi melalui kuasa hukumnya, Frans H. Winarta membantah tudingan akte nomor 24 dan 25 adalah dokumen palsu. "Palsu tidaknya sebuah akte tidak serta merta tampak dari bersamaannya kedua akte itu terbit dengan akte 23, pun dengan notaris sama tetapi alamat berbeda," Frans menegaskan.

Menurut Frans, mungkin saja benar dalam satu waktu kantor notaris pindah ke alamat lain. Mungkin juga benar jika sesaat Ahmad diberikan saham, saham tersebut langsung dijual kembali kepada Soedomo dan kawan-kawan dalam satu waktu. "Kalau itu yang terjadi, saya kira bukan palsu ya, manipulatif mungkin," ia menambahkan.

Palsu atau tidaknya sebuah akte, menurut Frans, lebih pada isi yang tidak benar atau tanda tangannya palsu. Sedangkan yang dimaksud dengan manipulatif dapat berupa seseorang menyerahkan surat kuasa kepada notaris untuk dibuatkan akte di lain hari. Padahal, perbuatannya sudah dilakukan sebelumnya. "Agar berkekuatan hukum dan aman, maka diberikanlah surat kuasa yang mencantumkan tanggal hari ini bukan hari sebelumnya," ujar Frans.

Meski manipulatif, Frans menilai dimajukannya tanggal pembuatan akte, boleh-boleh saja selama ada persetujuan kedua belah pihak, yakni klien dengan notaris. "Asalkan tidak boleh merugikan orang lain," imbuh Frans. Bagaimana jika pihak Rivai merasa dirugikan? "Semua itu harus dibuktikan di pengadilan," ujar Frans.

Setelah terbukti di pengadilan bahwa surat wasiat Ahmad Rivai palsu, Soedomo melaporkan balik Erwin ke Mabes Polri dengan tuduhan pencemaran nama baik. "Bodohnya, materai surat wasiat itu tidak cocok dengan tahun pembuatan. Makanya dia kalah. Lalu saya laporkan balik kasus pencemaran nama baik, dia kalah," ujar Soedomo. Karena mengingat jasa-jasa Ahmad, Soedomo meminta pengadilan tidak memenjarakan Erwin, tapi cukup menerima sanksi hukuman percobaan.

Tahun 2013 Wiwik dan Lenny menggugat perdata masalah warisan Go Soe Loet yang berupa saham PT Santos Jaya Abadi. Mereka menggugat berdasar surat wasiat tertanggal 10 Oktober 1994 yang dibuat oleh Po Guan Cuan. Mereka meminta pembagian warisan saham dengan porsi sama. Dalam wasiat disebutkan Soedomo, Indra, Singgih masing-masing mendapatkan 30%, sedangkan Wiwik dan Lenny masing-masing hanya 5%. Pada 12 September 2013 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya melalui majelis hakim yang diketuai Erri Mustianto memenangkan pihak penggugat. Pengadilan memutuskan pembagian saham harus dilakukan secara merata.

Keputusan itu disesalkan pihak tergugat. Soedomo melalui kuasa hukumnya, Kukuh Pramono Budi, menganggap banyak kejanggalan dalam putusan majelis hakim. Menurutnya secara aturan, wasiat hanya bisa dibatalkan oleh orang yang membuat wasiat. Sedangkan pengadilan tidak memiliki kewenangan untuk membatalkan.

Selain itu PT Santos Jaya Abadi secara hukum di depan notaris Eugenie Gandaredja dimiliki empat orang yaitu: Ahmad Rivai (yang sahamnya dijual pada Soedomo dan Indra sehingga tidak dianggap lagi), Soedomo, Indra, dan Julia selaku istri Indra. Sehingga tidak bisa dikatakan sebagai perusahaan warisan. Jika dilakukan pembagian saham, hanya pendiri yang mendapat bagian saham tersebut. Sedangkan pihak lain yang tidak tercantum, mustahil mendapatkan bagian saham. Terkecuali, dilakukan penjualan ke publik.

Kepemilikan perusahaan hanya dari para pendiri dan penanam modal sedangkan Go Soe Loet, Po Guan Cuan, Lenny, Wiwik tidak pernah ikut menanam modal di perusahaan tersebut. Soedomo menambahkan, secara aturan pembagian saham dilakukan melalui RUPS. Mereka yang berhak mendapatkan adalah pendiri dan penanam modal saja.

Soedomo dan Indra langsung mengajukan banding atas putusan tersebut ke Pengadilan Tinggi Surabaya. Namun Pengadilan Tinggi Surabaya menolak banding para tergugat. Dalam pertimbangannya, majelis hakim baik di PN Surabaya maupun di Pengadilan Tinggi Surabaya menyatakan bahwa PT Santos Jaya Abadi didirikan tahun 1975. Padahal menurut Soedomo, tidak ada bukti PT Santos Jaya Abadi didirikan tahun 1975, termasuk tidak ada juga bukti Go Soe Loet, Po Guan Cuan, Lenny, Wiwik memiliki saham PT Santos Jaya Abadi.

Tidak terima putusan tersebut, Soedomo dan Indra juga Notaris Rika You Soo Shin yang membuat Akta Wasiat Po Guan Cuan mengajukan kasasi di Mahkamah Agung (MA). Pada 25 November 2015 permohonan kasasi dikabulkan oleh MA sehingga menyatakan gugatan Wiwik dan Lenny ditolak.

Ketika permohonan kasasi diajukan ada gugatan dari Wu Yuee pada tahun 2014 yang menarik perhatian publik. Semula hubungan ke-7 anak Go Soe Loet rukun sebelum adanya gugatan dari Lenny dan Wiwik pada tahun 2013.

Gugatan itu membuat Wu Yuee tidak diakui sebagai anak sah Go Soe Loet oleh Singgih, Lenny, Wiwik padahal Soetikno, Indra dan Soedomo tidak meragukan Wu sebagai anak Go Soe Loet. Indra dan Soedomo bahkan rela melakukan uji tes DNA di lembaga Eijman tapi Singgih, Lenny, Wiwik masih tidak mengakui Wu. Bahkan hakim ketua majelis Hari Widodo, hakim anggota Manungku Prasetyo, dan hakim anggota Sri Herawati tidak memberi kesempatan untuk mengajukan pembuktian.

"Tes DNA jelas 99% saudara kandung, masak bohong. Waktu mama masih hidup, dia (Wu Yuee) sering datang ke Surabaya. Waktu mama sakit, dirawat di Singapura, juga datang menjenguk," kata Soedomo. Soedomo melanjutkan Wu juga pernah datang ke Indonesia menjadi wali pernikahan anaknya Singgih kata Soedomo sambil menunjukkan bukti-bukti file foto di tabletnya.

Wu datang ke Indonesia bersama ibunya Po Guan Cuan ketika bisnis Go Soe Loet sukses. Saat itu, Po Guan Cuan juga mengajak anak pungut bernama Go Tek Yok yang disahkan oleh pengadilan menjadi Soetikno Gunawan ke Surabaya. Di Indonesia, Po Guan Cuan kembali melahirkan lima anak, yakni Indra, Soedomo, Singgih, Lenny dan Wiwik.

Dalam travel document Po Guan Cuan ke Indonesia pada 17 September 1947, terdapat keterangan foto wajah Wu dan Soetikno. Ia datang ke Indonesia ketika di Cina sedang perang dan tinggal di Surabaya beberapa tahun.

Soedomo lalu menceritakan perjalanan Wu setelah beberapa tahun tinggal di Surabaya, Wu kembali ke Cina untuk kuliah. Sementara Soetikno tinggal di Surabaya. Selepas kuliah di Cina, Wu bekerja sebagai guru di sana lalu menikah dan menetap di sana. Indra dan Soedomo bersedia membagi warisan orangtua berupa tanah atau lahan, rumah, emas serta berlian.

Sebenarnya yang diminta Wu hanyalah pengakuan sebagai seorang anak dari Go Soe Loet dan Po Guan Cuan. Namun gugatan Wu itu tidak dikabulkan oleh MA karena saat itu MA sedang menangani gugatan Lenny dan Wiwik.

Soedomo mengatakan bukti-bukti yang mendukung Wu adalah anak kandung Go Soe Loet dan Po Guan Cuan adalah Undang-Undang Tentang Notaris RRT; Notarial Certificate Translation; Berita Duka Go Soe Loet; Kementerian Luar Negeri Republic Of China; Berita Duka Po Guan Cuan; Kartu Data Siswa; dan Hasil Identifikasi DNA.

Menjadi pertanyaan atas dasar apa majelis hakim menolak mengabulkan gugatan Wu, sebab putusan itu tanpa didukung oleh bukti-bukti. Karena putusan hakim yang terlalu gegabah, lalai dan teledor tersebut membuat Wu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Surabaya.

Wu di masa tuanya ingin melihat semua saudara-saudaranya rukun. Bagi yang tidak mengakuinya Wu ingin dites DNA. Masalah Wu akhirnya selesai setelah pada 25 November 2015 permohonan kasasi dikabulkan oleh MA sehingga menyatakan Wu adalah anak kandung sah Go Soe Loet dan Po Guan Cuan.

Akhir tahun 2015 Soedomo mengatakan memilih menggunakan teknologi mesin otomatis yang akan diterapkan di perusahaannya sekitar tahun 2020 agar produksi tetap berjalan cepat dan efisien karena kenaikan upah minimum regional (UMR) tidak diimbangi dengan produktivitas. Efisiensi tersebut bakal mengurangi 60% tenaga kerja. "Tiga tenaga kerja Indonesia tingkat produktivitasnya sama dengan satu tenaga kerja dari Tiongkok. Kasir saja, misalnya, antara kasir Indonesia sama kasir dari Tiongkok, beda kecepatan dan produktivitasnya," ujarnya.

Hal tersebut mulai dilakukan di negara-negara maju seperti Cina, Amerika Serikat, dan Jepang. Di Indonesia pun hal tersebut mulai terlihat dengan dibukanya toko swalayan JD.ID X-Mart seluas 270m² tanpa pegawai manusia di PIK Avenue, Jakarta pada 2 Agustus 2018.

Sementara itu di sektor hulu ia menggunakan strategi lain. Ia memilih menerapkan semacam corporate social responsibility, seperti yang dilakukannya terhadap para pekerja perkebunan kopi milik Kapal Api di Toraja, Sulawesi Selatan.

"Saya ambil satu kebijakan, tiap karyawan saya berikan lahan tiga hektare untuk dikelola sendiri tanpa ada UMR lagi. Nanti hasilnya kami tampung sesuai harga pasar," kata Soedomo. Sedangkan di waktu senggang, perusahaannya memberikan mereka dana untuk beternak kambing, sapi, kerbau, atau babi.

Ia membeberkan minimnya perusahaan kopi yang memiliki perkebunan sendiri karena UMR tiap tahun naik sedangkan kopi dipetik satu-satu. Para pemetik kopi tersebut mendorong biaya menjadi mahal.

Ia juga memberikan opininya tentang bisnis, "Bisnis masa sekarang haruslah mencari info yang banyak. Juga banyak kerja keras dan inovasi. Siapa yang memiliki info duluan, ia yang dapat kesempatan memenangkan persaingan."

Menurutnya, jaman dahulu sangat berbeda dengan jaman sekarang. “Kalau jaman dulu kita masih menggunakan kekuatan badan kita untuk berjuang, tapi sekarang tidak bisa lagi karena sudah jamannya teknologi dan informasi. Jadi siapa yang punya ilmu dan menguasai informasi itu yang akan menjadi pemenang,” cetusnya.

Misalnya, ingin menjadi pengusaha sukses, harus mengetahui informasi atau membaca peluang apa yang paling disukai oleh orang yang berduit. Atau membuat produk bagaimana orang mau membelinya. Jika produk yang dibuat tidak laku atau tidak mau dibeli orang, berarti usaha tersebut gagal.

Pada 27 Juli 2018 Mimi Alawiyah, salah satu trainer senior di Indonesian Coffee Association, menjelaskan lewat acara Shopee X Anomali Coffee, di Anomali Coffee Menteng, Jakarta, bahwa memilih biji kopi yang terbaik sesuai dengan selera bisa dicek dengan metode skoring.

Pertama Anda bisa menilai wangi kopi sebelum diseduh, setelah biji dihaluskan, jika Anda suka wangi salah satu jenis kopi, bisa diberi nilai tinggi antara skala 6-9. Lalu seduhlah dengan air panas sekitar suhu 91-93 Celcius atau setelah didiamkan 10 menit pasca mendidih. Lalu ciumlah setelah diseduh, apa wanginya bertambah, ataukah malah berkurang, lalu beri skor lagi dengan skala yang sama, sesuai aroma kesukaan Anda.

Penilaian selanjutnya ialah dalam segi rasa kopi. Berbagai kopi dari Nusantara punya varian rasa yang beragam, mulai dari nutty, tobaco, chocolate, hingga aneka buah. Anda bisa merasakannya dengan menyeruput kopinya dengan sendok teh, usahakan mengenai seluruh bagian lidah agar terasa varian rasanya. Jika dominan pahit, akan terasa di pangkal lidah, rasa manis terasa di ujung lidah, asam di sisi lidah dan sebagainya. "Kalau nutty, cokelat, buah, tembakau, asam, dan lainnya itu masih rasa asli kopi, kalau prengus, rasanya anyir itu sudah rusak kopinya," kata Mimi yang sudah 10 tahun menggeluti dunia kopi.

Penilaian berikutnya ialah after taste, setelah Anda sruput kopi tersebut telanlah lalu disusul menelan ludah dua-tiga kali. Jika rasa kopi masih mengganjal di tenggorokan, maka after taste-nya rendah, sebaliknya jika bersih di tenggorokan, maka after taste-nya disebut clean. Anda bisa kembali memberi nilai tinggi di rasa kopi yang Anda suka, juga di after taste yang paling clean.

Lalu saatnya mengukur tingkat keasaman dan body kopi. Keasaman ialah rasa asam yang dikeluarkan dari seduhan kopi, sedangkan body terkait kekentalan yang berbanding lurus dengan rasa pahitnya.

"Antara acidity dan body biasanya berbanding terbalik, kalau sangat asam, maka pahit atau body-nya berkurang, sebaliknya juga. Tapi bisa jadi dua-duanya balance di medium (sama-sama tidak terlalu pahit, dan tidak terlalu asam)," katanya lagi.

Terakhir Anda tinggal merata-rata hasilnya, semua skor tadi dijumlahkan dan dibagi enam kategori tadi. Anda bisa melihat mana jenis kopi yang sesuai selera Anda dari hasil nilai tertinggi jika Anda membandingkan berbagai jenis kopi.

Velae Dawn Leiman


Sejak 2013 perlahan-lahan Soedomo mulai menyerahkan kendali perusahaan pada anaknya dengan menugaskan Christeven mengembangkan Kapal Api Global dan menugaskan Kevin mengembangkan Excelso. Pada 20 Mei 2017 Christeven menikah dengan Velae Dawn Leiman di Grand City Mall, Surabaya.

Pada 1 Juni - 30 September 2018, Kapal Api bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (BEKRAF) memperkenalkan gerakan wirausaha sosial (sociopreneurship) Secangkir Semangat #buatnyatatujuanmu. Pada akhir program di bulan februari 2019, ide bisnis terbaik akan memperoleh modal usaha hingga Rp 250 juta dan dibimbing langsung oleh Yoris Sebastian sehingga ide bisnisnya benar-benar dapat berjalan. Kompetisi dapat diikuti lewat https://www.secangkirsemangat.id/.