Tjong A Fie

Tjong A Fie / Tjong Yiauw Hian / Tjong Fung Nam / Zhang Yao Xuan (张耀轩)
lahir 1860 di Sungkow Village, Meixian, Guangdong, Cina.
 meninggal 4 Februari 1921 di Medan

Tjong A Fie & Lim Koei Yap

FAMILI
istri ke 1: Nona Lie

istri ke 2: Nona Chew
anak:
-Tjong Kong Liong
-Tjong Song Jin
-Tjong Kwei Jin

istri ke 3: Lim Koei Yap (1880-1972)
anak:
Tjong Foek Yin (Queeny)
Tjong Fa Liong
Tjong Khian Liong
Tjong Kaet Liong (Munchung)
Tjong Lie Liong (Kocik)
Tjong See Yin (Noni)
Tjong Tsoeng Liong (Adek).

GOSIPNYA
Tjong A Fie berasal dari suku Hakka sederhana pemilik sebuah toko kelontong. Bersama kakaknya Tjong Yong Hian, mereka harus meninggalkan bangku sekolah dan membantu mengurus toko ayahnya. Meski tokonya maju dan telah memiliki istri bernama Nona Lie, ia memiliki cita-cita mengembara ke luar negeri. Tahun 1878 (GOSIP lain bilang 1875) dengan berbekal 10 Dolar perak uang Manchu yang diikatkan ke ikat pinggangnya, ia pergi menyusul kakaknya Tjong Yong Hian yang sudah lima tahun menetap di Sumatera dan sudah menjadi Kapten Tionghoa di Medan. Setelah sekian lama berlayar dengan kapal Junk, pada tahun 1880 ia tiba di Labuhan Deli.

Tjong A Fie bekerja di toko milik teman kakaknya yang bernama Tjong Sui Fo. Di toko tersebut ia menangani buku, melayani pelanggan, menagih utang serta tugas-tugas lainnya. Ia dikenal pandai bergaul, tidak hanya dengan orang Tionghoa, namun juga dengan orang Melayu, Arab, India, dan Belanda. Ia mulai belajar bahasa Melayu yang menjadi bahasa perantara di Deli. Ia menjauhi narkotika, perjudian, mabuk-mabukan dan pelacuran.

Ia sering menjadi penengah jika terjadi pertengkaran antara etnis Tionghoa dengan etnis lain. Di daerah perkebunan milik Belanda sering terjadi keributan di kalangan buruh yang menimbulkan kekacauan dan karena kemampuannya, Tjong A Fie sering diminta Belanda untuk membantu mengatasi masalah-masalah tersebut. Ia lalu diminta Belanda untuk membantu mengatasi berbagai permasalahan dan diangkat menjadi Letnan Tionghoa. Karena pekerjaannya tersebut ia pindah ke kota Medan.

Bersama Tjong Yong Hian, Tjong A Fie bekerjasama dengan Chang Pi Shih, paman sekaligus konsul Cina di Singapura untuk mendirikan perusahaan kereta api The Chow-Chow & Swatow Railyway Co. Ltd. di Cina Selatan. Karena jasa tersebut mereka berkesempatan bertemu muka dengan Ibu Suri Cixi di Beijing.

Ketika kakaknya meninggal tahun 1911 ia naik pangkat menjadi Kapten Tionghoa (Majoor der Chineezen) untuk memimpin komunitas Tionghoa di Medan menggantikan kakaknya. Dengan rekomendasi Sultan Deli, Tjong A Fie menjadi anggota gemeenteraad (dewan kota) dan cultuurraad (dewan kebudayaan) selain menjabat sebagai penasehat pemerintah Hindia Belanda untuk urusan Cina.

Di Deli ia membina hubungan yang baik dengan Sultan Deli, Makmoen Al Rasjid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda. Sultan lalu memberinya konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau untuk pembuatan bangsal. Ia menjadi orang Tionghoa pertama yang memiliki perkebunan tembakau. Ia juga memiliki perkebunan teh di Bandar Baroe, perkebunan karet si Bulan, perkebunan kelapa yang sangat luas, dan perkebunan tebu. Di Sumatera Barat ia menanamkan modalnya di bidang pertambangan di Bukit Tinggi. GOSIPNYA karyawannya saat itu berjumlah lebih dari 10 ribu orang dan semua orang dengan senang hati menjadi karyawannya karena dalam menjalankan bisnisnya, Tjong A Fie memiliki 3 pedoman yakni jujur, setia dan bersatu dan ia juga membagikan lima persen keuntungannya kepada para pekerjanya. Motto hidupnya yang terkenal adalah, "Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Kesuksesan dan kejayaan bukan terletak pada apa yang aku miliki tetapi terletak pada apa yang telah aku berikan."

Tjong A Fie adalah sosok penting di Medan. Sepanjang hidupnya ia banyak menyumbangkan hartanya untuk kepentingan sosial dengan membangun sarana-sarana untuk kepentingan umum dan menolong orang miskin tanpa membedakan jenis kelamin, agama maupun ras. Beberapa peninggalannya adalah titi berlian (jembatan di kampung madras) yang dibangun untuk menghormati kakaknya Tjong Yong Hian, kelenteng di Jalan Klingenstraat (kini Jalan Kling), tempat pemakaman Pulo Brayan, rumah sakit khusus lepra di Pulau Sicanang, menara lonceng, Istana Maimoon, Gereja Uskup Agung Sugiopranoto, Kuil Buddha di Brayan, Kuil Hindu untuk warga India, Batavia Bank, Deli Bank, Bank Kesawan, Jembatan Kebajikan di Jalan Zainul Arifin serta mendirikan rumah sakit Tionghoa pertama di Medan bernama Tjie On Jie Jan. Sebagai rasa hormatnya kepada Sultan Deli, Makmun Al Rasjid dan penduduk Islam Medan, ia mendirikan Masjid Raya Medan dengan menyumbang sepertiga dari seluruh biaya pembangunannya dan juga Masjid Raya Al-Mashum serta Masjid Lama (Gang Bengkok). Ia juga membangun transportasi kereta api pertama di Sumatera Utara, yakni Kereta Api Deli (DSM), yang menghubungkan kota Medan dengan pelabuhan Belawan.

Di Labuhan Deli ia menikah dengan Nona Chew dari Penang dan mempunyai tiga orang anak. Setelah Nona Chew meninggal dunia, ia menikah lagi dengan Lim Koei Yap, putri kepala mandor perkebunan tembakau di Sungai Mencirim yang mengepalai ratusan orang kuli kontrak, dan mempunyai tujuh orang anak.

Tahun 1917 ia menerima gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari Universitas Hongkong dan juga menerima banyak bintang jasa dari pemerintah Belanda. Salah satu bintang jasa yang sangat tinggi nilainya yang diberikan oleh pemerintah Belanda ialah "Rider van de Oranye Nassau". Selain itu, ia juga menerima bintang kehormatan dari Kaisar Cina. Pengaruhnya juga terasa sampai ke Amsterdam dimana ia menjadi salah seorang pendiri Institut Kolonial yang kini bernama Institut Tropis Kerajaan (Koninklijk Instituut voor de Tropen).

Pada 4 Februari 1921 Tjong A Fie meninggal dunia karena pendarahan otak di kediamannya di Jalan Kesawan, Medan (GOSIPNYA Tjong A Fie bunuh diri akibat resesi, perusahaan-perusahaannya merugi dan ia tidak bisa membayar cek sebesar 300.000 Gulden yang dikeluarkan oleh Deli Bank. Ketika berita itu tersebar, nasabah Deli Bank berlomba-lomba menarik simpanan mereka. Tjong A Fie tidak bisa melihat kenyataan ini sehingga ia mengakhiri hidupnya sendiri). Kematian Tjong A Fie membuat banyak pelayat datang berduyun-duyun bukan hanya dari kota Medan, tapi juga dari Sumatera Timur, Aceh, Padang, Penang, Malaysia, Singapura dan Jawa. Upacara pemakamannya berlangsung dengan megah dan penuh kebesaran sesuai dengan tradisi dan kedudukannya pada masa itu. Karena kedermawanannya, Tjong A Fie menjadi legenda dan dikenang oleh penduduk Medan dan sekitarnya.

Empat bulan sebelum meninggal dunia, ia telah membuat surat wasiat di hadapan notaris Dirk Johan Facquin den Grave yang isinya mewariskan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Yayasan yang berkedudukan di Medan ini diminta untuk melakukan lima hal dimana tiga diantaranya yaitu:
-memberikan bantuan finansial kepada kaum muda yang berbakat dan berkelakuan baik serta ingin menyelesaikan pendidikan tanpa membedakan kebangsaan
-membantu mereka yang tidak mampu bekerja dengan baik karena cacat tubuh, buta, atau menderita penyakit berat
-membantu para korban bencana alam tanpa memandang kebangsaan atau etnisnya

Nama Tjong A Fie pernah akan dijadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Medan, tapi dibatalkan dan jalan itu menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Rumah Tjong A Fie seluas 6.000 meter persegi berlantai dua dan memiliki 40 ruangan yang berada di Jalan Ahmad Yani 105, Kesawan, Medan, yang didirikan pada tahun 1900 (GOSIP lain bilang 1895), saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Tjong A Fie Mansion. Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150. Sampai sekarang, rumah itu masih ditinggali Fon Prawira, cucu Tjong A Fie dari anak keempatnya, Ching Kweet Leong. Keluarga Tjong A Fie pindah ke Denmark pada 1921 dan baru kembali ke Indonesia pada 1930. Selama sembilan tahun itu, rumah tersebut dibiarkan kosong. Semula, anak-anak Tjong A Fie kembali mendiami rumah itu. Namun, tinggal keluarga Fon Prawira yang bertahan di sana hingga kini.



Tjong A Fie Mansion

Rumah itu mengundang banyak investor yang bermaksud membelinya. Tak sedikit yang mengajukan penawaran untuk menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat komersial. Fon menyatakan pernah tergoda untuk menerima tawaran menggiurkan itu. Namun, setelah berpikir panjang dan bermusyawarah dengan keluarga besar Tjong A Fie, Fon tak rela melepasnya. "Saya berpikir jangka panjang mengenai kondisi bangunan itu," ungkapnya.

Fon tidak ingin terjebak pada kenikmatan sesaat dengan menerima tawaran investor, tapi kemudian bangunan peninggalan kakeknya itu rusak dan berubah fungsi. Sebab, bila investor masuk, sangat mungkin bangunan tersebut dirombak di sana sini. Padahal, dia mendapatkan amanat untuk melestarikan rumah keluarga Tjong A Fie itu. "Kalau sudah jatuh ke investor, rumah tersebut bisa kehilangan jati diri sebagai rumah pusaka. Padahal, rumah itu menyimpan sejarah penting. Tidak hanya bagi keluarga besar kami, tetapi juga kota Medan," ungkap direktur PT Mitra Nabati Nusantara tersebut.

Putera Sampoerna

Liem Seeng Tee & Keluarga

Siem Tjiang Nio & Liem Seeng Tee

Liem Seeng Tee (1893-1956)
istri: Siem Tjiang Nio
anak: Liem Swie Hwa (Adi Sampoerna) (1914-1984)
Liem Swie Ling (Aga Sampoerna)  (1915-1994)
Liem Swie Sien
Liem Swie Hwee
Liem Swie Kwang

ANAK USAHA PT HM SAMPOERNA
-Sampoerna International PTE LTD: Investasi Saham pada Perusahaan Lain
*Sampoerna Tabaccos America Latina LTDA: Manufaktur & Perdagangan Rokok
*Sampoerna Asia PTE LTD: Manufaktur & Perdagangan Rokok (+)
*Sterling Tobacco Corporation: Manufaktur & Perdagangan Rokok & Trading (++)
*Sampoerna Taiwan Corporation: Investasi Saham di Perusahaan Lain (+)
*PT Sampoerna Joo Lan SDN BHD: Manufaktur & Perdagangan Rokok (++)

-PT Handal Logistik Nusantara: Jasa Ekspedisi & Pergudangan (++)
-PT Taman Dayu: Pengembangan Properti
*PT Golf Taman Dayu: Wisata & Jasa Lapangan Golf

-PT Union Sampoerna Dinamika: Investasi Saham pada Perusahaan Lain (++)
-PT Wahana Sampoerna: Properti, Perdagangan dan Jasa (++)
-PT Harapan Maju Sentosa: Manufaktur & Perdagangan Rokok
-PT Persada Makmur Indonesia: Manufaktur & Perdagangan Rokok
*IBSA Singapore PTE LTD: Jasa (+)

-PT Perusahaan Dagang dan Industri Panamas: Distribusi Rokok (++)
*PT Asia Tembakau: Manufaktur & Perdagangan Rokok
*PT Agasam: Perdagangan & Jasa

-PT Sampoerna Printpack: Percetakan & Pengemasan
*Sampoerna Packaging Asia PTE LTD: Investasi Saham di Perusahaan Lain (+)

+ dalam proses likuidasi
++ perusahaan terbengkalai

GOSIP LIEM SEENG TEE & AGA SAMPOERNA
Liem Seeng Tee dilahirkan tahun 1893 di sebuah keluarga miskin di Fujian, Cina. Dia datang ke Indonesia tahun 1898 bersama kakak perempuan dan ayahnya, Liem Tioe. Tak lama setelah tiba di Indonesia, ayahnya meninggal karena malaria. Sebelum meninggal, kakak perempuannya diadopsi sebuah keluarga di Singapura sedangkan Liem dititipkan di sebuah keluarga Cina di Bojonegoro. Ia diasuh di sana hingga umur 11 tahun. Ia lalu berjualan makanan kecil di dalam gerbong kereta api jurusan Surabaya - Jakarta dengan cara melompat pada malam hari. GOSIPNYA ia pernah berjualan selama 18 bulan penuh tanpa istirahat. Di sana ia belajar meracik tembakau yang lalu dijual di stasiun kereta api.

Tahun 1912 Liem berjualan arang dengan sepeda tua yang dibeli dari hasil berjualan makanan kecil dalam gerbong kereta. Ketika berjualan, ia bertemu dengan seorang gadis Hokkian, Seem Tjiang Nio, dan menikahinya di tahun yang sama. Tidak lama setelahnya, ia mendapatkan pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Belum lama ia bekerja, ia berhenti dan menyewa sebuah rumah kecil yang ia jadikan warung di Jl. Tjantian di Surabaya Lama. Istrinya berjualan makanan kecil sedangkan ia menjual rokok racikannya sendiri dengan berkeliling memakai sepeda.

Tahun 1913 Liem membeli rumah di Jl. Ngaglik, Surabaya untuk kemudian dijadikan home industry rokok kretek yang berbadan hukum dengan nama Handel Maatschappij Liem Seeng Tee yang lalu diubah lagi menjadi Handel Maatschappij Sampoerna. Perusahaan ini memproduksi rokok dengan aneka macam merek dagang seperti Dji Sam Soe / 234, 123, 720, 678, Welkomm, Summer Place, Dapoean, dan Djangan Lawan. Semua merek itu ditujukan untuk beragam segmen pasar, tapi andalannya adalah Dji Sam Soe yang membidik segmen pasar premium. GOSIPNYA nama Dji Sam Soe diambil berdasar jumlah karyawannya saat itu, 234.

Liem sengaja membangun rumah tinggal di dalam lingkungan pabrik agar ia dapat dengan seksama mengawasi operasional pabrik dan juga agar anaknya bisa belajar tentang bisnis. Selain itu, Liem berusaha untuk mendekatkan diri dengan para manajernya dan dengan adanya rumah tinggal di lingkungan pabrik, ia bisa mengajak para manajernya untuk makan siang bersama-sama dan hal ini pun menjadi sebuah tradisi perusahaan.

Pada awal tahun 1916, Liem ditawari memborong berbagai macam jenis tembakau dari perusahaan rokok yang bangkrut dengan harga murah, dengan syarat pembelian tersebut harus dilunasi kurang dari 24 jam. Ia beruntung karena secara diam-diam istrinya menabung dan menyimpan uang di salah satu tiang bambu rumahnya. Melalui perusahaan ini pasangan yang dikaruniai dua putra dan tiga putri ini melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa dengan mesin pelinting sederhana.

Liem bertekad menjadikan perusahaannya sebagai “Raja Tembakau” dengan menempatkan huruf Cina 王 (raja) di depan produk unggulannya, Dji Sam Soe. Ia lalu menggabungkan 王 dengan 人 (orang) sehingga menghasilkan 美 (cantik) yang lalu ia gabungkan dengan 完 (selesai) di depannya sehingga menjadi 完美 (sempurna) yang diplesetkan menjadi Sampoerna. Dji Sam Soe dituliskan dengan angka 234 yang jika dijumlahkan adalah 9, yang merupakan angka keberuntungan Liem.

Usahanya ikut maju ketika jalan raya di depan rumah dilebarkan. Tapi musibah menimpa mereka ketika rumah mereka habis terbakar. Meski begitu mereka tidak putus asa dan memulai lagi usahanya. Liem mencapai kesuksesan besar tahun 1932 ketika berhasil membeli satu kompleks gedung panti asuhan dan gedung bioskop milik pemerintah Kolonial Belanda. Tempat tersebut lalu diubah menjadi pabrik Dji Sam Soe. Tempat itu kini bernama House of Sampoerna.

Tahun 1942 perusahaan ini sudah memiliki 1300 orang karyawan yang bekerja dua shift dan memproduksi lebih dari tiga juta batang rokok per minggu. Pertengahan tahun 1942 Jepang mendarat di Surabaya dan dalam waktu kurang dari enam jam, Liem ditangkap dan dibawa ke Jawa Barat untuk menjalani kerja paksa, sementara keluarganya kabur dan bersembunyi. Perusahaan rokok Sampoerna diambil alih oleh imperialis Jepang dan dijadikan tempat produksi rokok Jepang merk Fuji. Setelah Indonesia merdeka, harta Liem hanyalah keluarganya sendiri dan merek dagang Dji Sam Soe.

Liem memulai kembali usahanya dan membangkitkan lagi merek Dji Sam Soe. Perlahan tapi pasti usahanya kembali berkembang. Tapi ideologi komunisme berkembang dan memutuskan hubungan kekeluargaan dengan para karyawannya sehingga Liem tak bisa mengunjungi pabriknya untuk menyapa para karyawannya hingga ia meninggal tahun 1956.

HM Sampoerna mendapat tantangan besar sepeninggal Liem yakni ketika usaha itu dikelola oleh dua putri Liem, Sien dan Hwee beserta suami mereka. Tantangan itu adalah investor asing yang masuk ke Indonesia dan membangun industri rokok putih dengan teknologi mesin linting. Sementara itu dua putra Liem, Hwa lebih suka membuka usaha tembakau sedangkan adiknya Ling membuka pabrik rokok di Denpasar dengan merek Panamas yang GOSIPNYA menggerogoti pasar HM Sampoerna di Jawa Timur.

Khawatir akan nasib HM Sampoerna, Hwa menyurati adiknya dan memintanya mengambil alih perusahaan karena ia merasa usahanya sendiri tidak bisa dilepaskannya begitu saja. Ling memenuhi permintaan itu dan memindahkan Panamas ke Malang agar tidak jauh dari HM Sampoerna. Ling yang lebih dikenal sebagai Aga Sampoerna, ternyata membuat HM Sampoerna berkembang pesat.

Aga Sampoerna

Pada 19 Oktober 1963 nama perusahaan berganti lagi menjadi PT Hanjaya Mandala Sampoerna (PT HM Sampoerna). Tahun 1968 Sampoerna memperkenalkan produk barunya, Sampoerna Hijau. Tahun 1970 jumlah karyawan sudah mencapai 1200 orang, dengan produksi 1,3 juta batang rokok per hari. Tahun 1979 pabrik HM Sampoerna sempat terbakar habis, tapi dalam waktu 24 hari peredaran Dji Sam Soe sudah kembali normal. Aga Sampoerna meninggal dunia di Singapura pada tanggal 13 Oktober 1995.

Putera Sampoerna (Liem Tien Pao / 林天喜)
lahir 13 Oktober 1947 di Schidam, Belanda

istri: Kathleen C. Liem
lahir 1 September 1949 di Amerika Serikat

ANAK
Jaqueline Michelle Sampoerna

Jonathan Bradford Sampoerna
lahir 16 November 1972 di Houston, AS

Michael Joseph Sampoerna
lahir 23 Agustus 1978 di Houston, AS

Farah Khristina Sampoerna
lahir 4 Agustus 1977 di Houston, AS

PENDIDIKAN
Diocesan Boys School, Hong Kong
Carey Baptist Grammar High School, Melbourne lulus 1966
University of Houston, Texas, AS lulus 1969

KARIR
Presiden Direktur PT HM Sampoerna, 1986-2000
Presiden Komisaris PT HM Sampoerna, 2000-2005
Pendiri Putera Sampoerna Foundation, 2001-sekarang
Pendiri & CEO PT Sampoerna Strategic, 2005-sekarang

USAHA
-PT Sampoerna Agro
-PT Bank Sahabat Sampoerna (dulu PT Bank Dipo Internasional)
-UKM Sahabat
-PT Sampoerna Strategic Square
-PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia: Ceria (operator CDMA)
-Samko Timber Ltd.

GOSIPNYA
Setelah lulus dari University of Houston, AS, Putera membawa isterinya Kathleen, warga AS keturunan Tionghoa, ke Singapura untuk mengelola perkebunan kelapa sawit milik keluarga. Pada tahun 1970, ia bolak-balik Singapura-Indonesia karena ia juga aktif sebagai penasihat PT HM Sampoerna. Tahun 1977 ia masuk dalam jajaran pemilik saham. Tahun 1978 ia pindah dengan keluarganya ke Surabaya untuk fokus secara penuh pada PT HM Sampoerna. Akhir tahun 1980, Bank Sampoerna Internasional didirikan. Tahun 1986 ia ditunjuk sebagai CEO menggantikan ayahnya, Aga Sampoerna.

Tahun 1989 bersama Djoko Susanto, ia mendirikan supermarket Alfa Gudang Rabat yang merupakan cikal bakal minimarket Alfamart di Jl. Lodan no. 80, Ancol, Jakarta dengan modal Rp. 2 milyar. 60% Sahamnya dimiliki oleh Djoko dan sisanya dipegang olehnya. Supermarket itu didirikan untuk mendistribusikan rokok Sampoerna A Mild yang merupakan pelopor rokok mild (rokok rendah tar dan nikotin) di Indonesia.

Pada tahun 1990 Putera membuat keputusan kontroversial yang ditentang pihak keluarga yaitu membuat perusahaan go public. Pada 4 November 1992 Bank Sampoerna Internasional dijual pada Danamon dan lalu berganti nama menjadi Bank Delta (GOSIPNYA sih dijual karena mengalami masalah keuangan). Bulan Oktober 1996 Putera membeli 12,66% saham PT Astra International senilai 580 milyar Rupiah, tapi krisis moneter tahun 1997 membuat Astra bangkrut sehingga langkah membeli saham Astra dianggap sebuah kesalahan besar.

Bulan Maret 1997 Putera membeli 5,63% saham PT Indofood Sukses Makmur yang jaringan pasarnya terkenal luas sehingga distribusi rokok Sampoerna dapat dipasarkan dengan baik. Tahun 2001 ia mendirikan Putera Sampoerna Foundation (PSF) yang merupakan yayasan filantropi. PSF dipimpin oleh Jaqueline Michelle Sampoerna. Hingga kini PSF telah memberikan lebih dari 35 ribu beasiswa dan menyelenggarakan pelatihan untuk lebih dari 20 ribu guru dan kepala sekolah.

Pada Maret 2005 lagi-lagi ia mengambil keputusan kontroversial dengan menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna sebesar 40% kepada Philip Morris International senilai Rp. 18,5 trilyun. Keputusan itu sangat mengejutkan sebab kinerja HM Sampoerna pada tahun 2004 dalam posisi sangat baik dengan memperoleh pendapatan bersih Rp. 15 trilyun dengan nilai produksi 41,2 milyar batang rokok dan menempati posisi ketiga perusahaan rokok terbesar di Indonesia yang menguasai 19,4% pangsa pasar, setelah Gudang Garam dan Djarum (GOSIPNYA hal itu dilakukan karena menurutnya masa depan industri rokok di Indonesia akan sulit berkembang sehingga perlahan-lahan ia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur).

Tahun 2005 ia membeli gedung Danamon yang terletak di kawasan bisnis segi tiga emas di Jl. Jendral Sudirman Kav. 45, Jakarta yang dijadikan kantor perusahaan barunya, PT Sampoerna Strategic Square yang dipimpin oleh Michael Joseph Sampoerna. Lewat perusahaan itu, ia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun menolak melanjutkan negosiasi transaksi karena persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan.

Pada awal tahun 2006 Putera yang terkenal gemar berjudi, telah menjadi pemilik perusahaan judi raksasa yang bermarkas di Gibraltar, Mansion. Ketika itu Mansion dilaporkan akan menggantikan Vodafone sebagai sponsor klub sepakbola Manchester United selama empat tahun dengan nilai kontrak 60 juta Poundsterling namun kontrak tersebut ternyata batal. Mansion lalu beralih menjadi sponsor klub sepakbola Tottenham Hotspur sejak musim 2006-2007. Putera juga membeli kasino Les Ambassadeurs di London dengan harga 120 juta Poundsterling.
  
Boedi Sampoerna (1930-2011)

Pada 8 Agustus 2011, anak Adi Sampoerna yang juga mantan Presiden Komisaris PT HM Sampoerna meninggal dunia pukul 19.30 di RS Premier Surabaya karena kanker mulut. Meninggalnya Boedi membuat kasus skandal Bank Century kehilangan salah satu saksinya. Boedi merupakan nasabah terbesar dengan saldo simpanan sebesar 48 juta Dolar AS di bank yang kini bernama Bank Mutiara tersebut.

House of Sampoerna

Tiruan Warung Rokok Liem Seeng Tee

Di Surabaya, keluarga Sampoerna memiliki museum bernama House of Sampoerna yang terletak di Taman Sampoerna 6. Museum buka setiap hari dari jam 9 pagi hingga 10 malam. Atraksi utamanya adalah cara pembuatan Dji Sam Soe yang dapat disaksikan setiap hari Senin hingga Sabtu hingga pukul 3 sore.

Pada Februari 2012 Sampoerna mengakuisisi 85% saham PT Bank Dipo Internasional sedangkan sisa 15% saham dimiliki PT Pahalamas Sejahtera yang merupakan pemegang saham Bank Dipo sebelumnya. Bank Dipo lalu diganti namanya menjadi Bank Sahabat Sampoerna. Hingga akhir tahun 2012 Bank Sampoerna sudah memiliki 11 cabang di 5 kota yaitu Jakarta, Medan, Pekanbaru, Palembang, dan Surabaya.

Putera Sampoerna berada di peringkat ke 11 orang terkaya di Indonesia tahun 2013 versi majalah Forbes dengan kekayaan 2,15 milyar Dolar AS.

Handi Mulyana

Handi Mulyana

PENGHARGAAN
1999 Juara pertama di Bobby Goldsmith Foundation 'Boys Own Bake-Off'
2002 Juara pertama di Bobby Goldsmith Foundation 'Boys Own Bake-Off'
2008 Juara kedua di Bobby Goldsmith Foundation 'Boys Own Bake-Off'
2009 Juara pertama kategori Best Decorated Cake di Sydney Easter Show

GOSIPNYA
GOSIPNYA Ayah Handi, Tan Keng Cu mulai berjualan roti di Cianjur sejak tahun 1948. Pada tahun 1988, ketika umurnya 10 tahun, Handi mulai bekerja membantu ayahnya di toko itu. Tahun 1994 ia pergi ke Sydney, Australia, untuk kuliah di William Blue College dan menerima gelar Diploma in Hospitality tahun 1996.

Pada tahun 1998-1999 ia mengikuti kursus mendekorasi kue di The Cake Decorators' Guild of NSW. Pada tahun 2000-2002 ia meneruskan studinya di TAFE NSW. Pada tahun 2003 ia bekerja di The Cake Store, London, Inggris. Tahun 2005 ia kembali ke Sydney, Australia dan menjadi direktur kursus di perusahaan milik Paris Cutler, Planet Cake, yang telah membuat kue untuk Rihanna, Celine Dion, Nicole Kidman, Lleyton Hewitt, dan lainnya.

Handi Mulyana di Master Chef Indonesia

Sejak tahun 2008 ia sering muncul di berbagai acara televisi Australia seperti Fresh, Sydney Weekender, The Disney Channel, dan The Morning Show. Selain itu, ia juga tampil di beberapa episode Australian Master Chef dan Master Chef Indonesia. Tahun 2010 ia berhenti bekerja di Planet Cake dan membuka lembaga kursusnya sendiri, Handi's Cakes di 124 Gardeners Road, Kingsford, NSW 2032 Australia.

Chef Juna





Junior Rorimpandey
lahir 20 Juli 1975 di Manado

GOSIPNYA
Sejak kecil, Junior yang lebih dikenal dengan panggilan Juna, sudah nakal. Pada umur 15 tahun, ia membuat tato di kedua lengannya memakai mesin buatannya sendiri saat berada di Bali. Ia juga mendirikan geng bernama Bad Bones, sebuah geng motor Harley Davidson yang kegiatannya ugal-ugalan di jalan raya. Setelah lulus dari SMA 3 Denpasar, ia sempat kuliah Jurusan Teknik Perminyakan selama 3,5 tahun di Universitas Trisakti, Jakarta. Belum selesai kuliah, pada tahun 1997 ia menjual motor Harley Davidson-nya untuk sekolah pilot di Brownsville, Texas, AS.

GOSIPNYA di sana ia sempat terlibat dalam perkelahian antar geng, diculik, disiksa, dan kecanduan narkoba. Meski begitu ia berhasil meninggalkan dunia kelamnya itu dan mendapat lisensi pilot. Sial baginya, ketika ia hendak mengambil lisensi komersial, sekolah penerbangannya bangkrut. Ia memutuskan pergi ke Houston untuk melanjutkan pelatihan. Biaya hidup yang tinggi di AS dan juga peristiwa kerusuhan Mei 1998, membuat orangtuanya tak sanggup membiayai pendidikannya di AS. Ia harus membiayai hidupnya sendiri di AS.

GOSIPNYA hidupnya ketika itu sangat mengenaskan hingga ia harus mencari rokok bekas di tong sampah dan mencari koin-koin penny di jalanan hanya untuk membeli burger sandwich seharga 99 sen. Ia juga terpaksa tinggal di satu apartemen kecil bersama 7 orang lainnya. Ia pun terpaksa bekerja secara ilegal karena visa yang ia dapat hanya boleh untuk sekolah, bukan untuk bekerja.

Ia mendapat pekerjaan sebagai pelayan di sebuah restoran tradisional Jepang. GOSIPNYA setelah dua minggu bekerja, ahli sushi di restoran itu menawarinya untuk menjadi muridnya karena melihat dedikasi dan ketekunannya. GOSIP lain mengatakan ia punya rasa ingin tahu yang tinggi dan memberanikan diri bertanya serta meminta petunjuk. Pemilik restoran merasa puas dengan kinerjanya dan mensponsorinya untuk mendapatkan green card (penduduk tetap).

Karena gurunya pindah ke restoran lain, pada tahun 2002 ia menempati posisi gurunya sebagai Head Chef. Tahun 2003 ia pindah kerja ke restoran sushi nomor satu di Houston, Uptown Sushi. Setelah beberapa bulan bekerja, ia lalu menjadi Executive Chef. Karena merasa jenuh dengan masakan Jepang, pada tahun 2004 ia pindah ke restoran Perancis, The French Laundry yang terkenal sebagai restoran dengan standar kualitas yang tinggi. Di sana, jabatannya hanyalah Cook sehingga membuatnya harus mencari pekerjaan tambahan untuk bertahan hidup.

Di sana ia belajar kedisiplinan karena selalu ada hukuman bagi setiap orang yang melakukan kesalahan. Ia sangat membutuhkan pekerjaan itu dan membuatnya termotivasi untuk tidak melakukan kesalahan. Kinerjanya dianggap baik dan membuat atasannya puas sehingga pada tahun 2006 ia dipromosikan menjadi Sous Chef.

Dunia kuliner terkenal sebagai dunia yang sangat keras karena untuk menjadi seorang chef seseorang biasanya harus siap secara fisik maupun mental. Seorang chef harus tahu berbagai jenis bahan pangan, nilai gizinya, cara memotongnya, cara mengolahnya, cara menghiasnya, maupun peralatannya sehingga dapat menghasilkan hidangan yang menarik, lezat, higienis, dan bergizi tinggi. Selain harus bercitarasa tinggi dan kreatif, seorang chef juga dituntut untuk disiplin serta belajar dan bekerja dengan cepat. Secara mental seorang chef juga harus siap dibentak, dimarahi, diejek, dan dihina atasan ketika ia melakukan kesalahan. Seorang chef juga harus berdedikasi pada pekerjaannya dan Juna menyadari betul profesi yang ia pilih. Ia biasa bekerja dari pukul 08.00 hingga pukul 02.00 dini hari.

Ketika hari besar dan hari libur tiba, ia malah harus bekerja ekstra karena tamu restoran semakin banyak. Bahkan, selama puluhan tahun menjadi chef di Amerika, ia cuma pernah datang sekali ke acara undangan ulang tahun temannya. Meski begitu kerja kerasnya tampaknya tidak sia-sia karena ia berhasil mencapai jabatan bergengsi Executive Chef di beberapa restoran tempatnya bekerja. GOSIPNYA personal hygiene merupakan bagian dari Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan standarisasi kesehatan dunia, dan lembaga pendidikan kuliner sebenarnya tidak akan menerima calon chef yang personal hygiene-nya buruk seperti berkumis tebal, berjanggut, berambut panjang, atau bertato tapi karena dunia kuliner berpusat di Prancis dan Juna menguasai tekniknya, ia pun menjadi chef yang cukup disegani.

Pada Agustus 2009 ia kembali ke Indonesia karena ada event besar Harley Davidson di Jakarta. Ia ingin bernostalgia dengan teman-teman lamanya tapi mereka sedang sibuk bekerja. Meski begitu, ia malah menerima banyak tawaran untuk membintangi iklan, sinetron, dan acara memasak. GOSIPNYA karena ia seorang pemalu dan tidak bisa berakting di depan kamera akhirnya ia menerima tawaran menjadi juri Master Chef dimana ia tidak harus berbicara menghadap kamera secara langsung. Selain itu, ia merasa tersanjung karena banyak chef di Indonesia yang lebih terkenal tapi tidak ditawari menjadi juri oleh pihak penyelenggara.

Ia menolak sebutan sebagai celebrity chef yang kini juga makin populer disematkan pada chef-chef muda yang kerap tampil di televisi. "Apa sih celebrity chef itu? Di Indonesia, chef yang baru satu-dua kali masuk televisi saja sudah disebut celebrity chef. Orang yang baru lulus sekolah chef lalu punya acara TV sendiri, langsung disebut celebrity chef. Orang yang suka tampil untuk memberikan demo masak di berbagai acara televisi juga disebut celebrity chef,” tukasnya.

Di Amerika, menurutnya, celebrity chef adalah chef yang telah memiliki reputasi baik di bidangnya. Mereka adalah chef yang telah hadir di ajang bergengsi dan telah mendapatkan banyak liputan media. Sebelum tampil di luar dapur, seorang celebrity chef telah memiliki restoran sendiri yang sukses sehingga membuat orang lain sudah tidak meragukan lagi kemampuannya. “Dia terkenal karena memang jago, bukan karena banci tampil," ujarnya. Karena belum memiliki hal-hal tersebut, Juna merasa belum pantas disebut celebrity chef.

Setelah mengundurkan diri dari posisi Executive Chef di Jackrabbit Cuisine & Libations, Jakarta, akhir Juli 2011 lalu, pada pertengahan Agustus 2011 Juna memutuskan untuk pergi ke AS sekitar sebulan. Ia kembali karena status imigrasinya mengharuskan ia berada di sana selama 3 hingga 4 minggu. Setelah itu ia lalu kembali menjadi juri pada Master Chef Indonesia Season 2. Lewat acara Master Chef ia ingin menjelaskan kepada anak muda yang bermimpi untuk jadi chef terkenal bahwa profesi chef tidak seglamor seperti yang terlihat, tapi memerlukan kerja keras dan kemauan yang kuat.

RM Ampera



H. Tatang Sujani, S.Sos
lahir di Desa Awiluar, Kec. Lumbung, Kab. Ciamis
istri: Hj. St. E. Rochaety (alm.)

GOSIPNYA
Tatang Sujani berasal dari keluarga kurang mampu. Ketika kecil makanan sehari-harinya adalah nasi oyek yang dicampur jagung dan pisang. Ia ingin pergi ke Bandung karena melihat salah seorang tetangganya yang bekerja di sana tampak hidup berkecukupan. Setiap kali pulang kampung, tetangganya itu sering membagi-bagikan makanan kepada warga di kampungnya. Ia juga melihat bahwa pakaian tetangganya jauh lebih bagus dibanding pakaian orang-orang di kampungnya yang masih terbuat dari karung goni.

Ia merantau ke Bandung dan menjadi kuli bangunan. Penghasilan yang didapatnya hanya cukup untuk makan. Ia lalu mencoba berdagang karena melihat banyak orang yang berjualan di pinggir jalan. Ia berjualan barang kelontongan dengan menggelar kain di trotoar. Tapi hasilnya tidak memuaskan dan ia pun memutuskan untuk berjualan yang lain.

Ia lalu berjualan es teh bungkus yang ternyata laku keras karena suhu udara di stasiun dan terminal bus yang panas saat musim kemarau. Ia mulai mengembangkan usaha dengan meningkatkan jumlah produksinya. Ia memakai tenaga asongan untuk memasarkan hasil produksinya. Perlahan-lahan jumlah pedagang asongan yang mengambil es darinya semakin banyak, baik yang memakai plastik maupun botol.

Ketika musim hujan tiba, dagangannya tidak laku sama sekali. Ia pun lalu memutuskan berjualan makanan karena bapak kos tempat ia tinggal adalah pemilik warung nasi di stasiun. Ia memperhatikan dengan cermat apa yang bapak kosnya beli jika belanja ke pasar. Ia juga sering membantu bapak kosnya di warung setelah berjualan es teh.

GOSIPNYA pada tahun 1963 bersama dengan 3 temannya, ia mendirikan Ampera berupa gerobak roda bertenda di kawasan Kebon Kelapa yang kini menjadi mall ITC Kebon Kelapa. Ampera merupakan singkatan dari AManat PEnderitaan RAkyat yang mencerminkan tempat makan murah untuk rakyat jelata.

Saat itu Ampera menjadi langganan para tukang becak dan supir angkutan kota di terminal Kebon Kelapa dan pembeli harus mengantri di luar tenda untuk menunggu giliran sampai konsumen lain ke luar dari dalam tenda. Tapi itu hanya terjadi pada Ampera yang dikelolanya di Kebon Kelapa, sedangkan ketiga temannya bangkrut.

GOSIP lainnya mengatakan pada tahun 1963 bersama istrinya Hj. St. E. Rochaety, ia membuka warung nasi khas Sunda di pinggir jalan di depan Terminal Kebon Kelapa dengan konsep geksor yaitu segera menyajikan makanan begitu tamu duduk. Ia memilih lokasi di sana karena tempatnya dipenuhi oleh angkutan kota dan bus.

Pada tahun 1966 Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI) beraksi menumbangkan kekuasaan orde lama. Aksi itu dikenal dengan nama Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera).

Awalnya, masyarakat menamai warung nasinya 'dua tak' namun aksi Ampera membuat Tatang menamakan warungnya 'Ampera' karena warungnya merupakan cerminan kondisi rakyat pada saat itu. Pada waktu itu, sangat jarang warung nasi yang buka 24 jam. Akibat situasi politik yang genting, pengamanan diperketat. Masyarakat sulit keluar rumah padahal urusan makan tidak bisa ditunda. Ia memanfaatkan situasi itu dengan membuka warung nasi yang buka seharian.

Banyak petugas jaga malam yang membeli nasi ke warungnya. Jalan masuk ke terminal sampai macet akibat antrian tukang becak yang membawa para konsumen ke warungnya. Karena warungnya sudah tidak muat menampung para pengunjung, pada tahun 1984 ia membuka cabang pertama di jalan Astana Anyar yang letaknya berjarak sekitar 1 km dari Kebon Kelapa. Pada tahun 1999 cabang Ampera terbesar dibuka di Jalan Soekarno Hatta.

Dari ketujuh anaknya, hanya lima yang terjun mewarisi usahanya. Masing-masing anak diberikan satu cabang Ampera dan diberikan kebebasan untuk mengelolanya. Setelah dianggap maju, mereka diberi kesempatan untuk membuka cabang Ampera di tempat-tempat lainnya. Kini RM Ampera telah berjumlah lebih dari 80 gerai di seluruh Indonesia. GOSIPNYA tidak semuanya milik pribadi tapi Ampera menggandeng investor untuk bekerjasama.

David Benyamin Santosa

David Benyamin Santosa

CABANG TOKO MAYASARI
-Bandung
*Jl. Kebon Kawung 22 B & C Tlp. (022) 4222444, 4260303
*Bandara Husein Jl. Padjajaran 156 Tlp. (022) 70560607
*Jl. Bojong Raya 17 Tlp. (022) 6003999
*Jl. Dr. Djunjunan 155 Tlp. (022) 6004765 / 6010911 / 6073826
*Jl. Cihampelas 110 Tlp. (022) 2042678
*BTC Lt. GF A4 no. 7 Jl. Dr. Djunjunan 143-149 Tlp. (022) 6126375
*Jl. Surya Sumantri 63A Tlp. (022) 2003080
*Jl. Kopo Bihbul 37 Tlp. (022) 5416131
*Jl. Abdul Rachman Saleh 51A Tlp. (022) 87803785
*Jl. Veteran 25
*Stasiun KA Sebelah Utara Tlp. 08812278694
*Jl. A.H. Nasution 51 Ujungberung Tlp. 088218521902
*Jl. Raya Barat 690 Cimahi 545 Tlp. (022) 87806216

-Jakarta: Jl. Hayam Wuruk 125E Tlp. (021) 6250318

GOSIPNYA
Semasa sekolah, David Benyamin Santosa giat menabung untuk mengikuti jejak ibunya menjadi penjahit. Setelah lulus SMA tahun 1977, ia membeli sebuah mesin jahit bekas dan mulai menjadi penjahit. Bisnisnya pun berkembang dari skala rumahan menjadi perusahaan konveksi PT Bineksindo yang berlokasi di Bandung.

Tahun 1988 David mulai mengekspor jaket training ke Eropa. Dengan jumlah karyawan lebih dari 300 orang, setiap bulan pabriknya mampu menghasilkan beberapa kontainer pakaian untuk diekspor. GOSIPNYA saat itu omzetnya mencapai Rp. 2 milyar per bulan.

Bulan Agustus 1990 terjadi Perang Teluk dan membuatnya tidak dapat mengirim barang ke luar negeri. Ia lalu mencoba menjadi pemasok Matahari Dept. Store dengan merek Andy ‘n Vania (AnV). Bisnisnya mulai membaik meski tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

Pada Desember 1998 David dan Senjaya Hidayat bermain bulutangkis dan bertemu dengan Wawan. Mereka lalu sepakat membuat usaha pisang bolen dan menjualnya di Pasar Kue Subuh, Senen, Jakarta. David mengelola produksi dengan Wawan sebagai pelaksana operasional di pabrik yang didirikan di Jakarta dan Senjaya sebagai investor.

Dengan modal Rp. 75 juta, David mulai menyewa rumah, mobil, dan membeli peralatan produksi. Pada awalnya penjualannya sangat baik. Menjelang bulan kedua, jumlah produksi yang dilaporkan menurun drastis dari biasanya 600-700 dus menjadi hanya 300 dus. Omzet pun ikut menurun hingga hanya menjadi Rp. 6 juta sebulan. Karena merasa dikhianati, David memutuskan kembali ke Bandung sedangkan Wawan membuka sendiri usaha pisang bolen dengan merek Chandrasari di Jakarta.

Usaha garmennya sedang menuju kebangkrutan sehingga ia memaksakan diri bergulat dalam industri makanan. Setelah ratusan kali percobaan, akhirnya David berhasil membuat pisang bolen yang menurutnya lebih enak dibanding resep mantan rekannya. David lalu kembali menyumbangkan dana Rp. 125 juta Rupiah untuk memulai kembali bisnisnya. Selain itu, David beriklan di radio dan mengeluarkan dana Rp. 200 juta per tahun untuk memasang iklan di billboard di jalan-jalan protokol kota Bandung.

Bersama Senjaya, David lalu meneruskan usaha pisang bolen dengan penambahan pemilik baru yaitu Ibu Heny, Ibu Maya dan Ibu Sugijanti. Toko pertama lalu dibuka dengan menyewa di Jl. Kebon Kawung 16 A dan pabrik pertama didirikan di Jl. Sukabungah 13 C. David bertanggung jawab di bagian produksi dan pabrik, Ibu Maya di bagian keuangan, dan Senjaya di bagian marketing. Toko pertama diresmikan 20 Agustus 1999 dengan nama Mayasari yang diambil dari nama istri Senjaya, Maya.

Usaha mereka maju dan luas pabrik bertambah 900 meter lebih di sebuah rumah sederhana di jalan Sukabungah. Agen-agen pun mulai bermunculan. Pada tahun 1999 Agus menjadi agen tunggal di Jakarta dan memiliki 9 tenaga penjual door to door. Para mitra pun mulai bermunculan dan menawari David untuk bekerjasama dengan mereka.

Tahun 2004 David memberlakukan sistem jual beli putus pada para mitranya. Mereka mengelola sendiri toko-toko berlabel Mayasari sedangkan pihak Mayasari hanya mensuplai produk-produknya saja yang GOSIPNYA dijual 20% lebih murah per satu dus kue kepada para mitranya itu.

Pada tahun 2005 Agus berhenti menjadi agen sehingga tokonya menjadi cabang resmi Mayasari di Jakarta. GOSIPNYA meski jumlah gerai lebih sedikit daripada di Bandung, omzet gerai di Jakarta mencapai 30 persen dari keseluruhan total penjualan tiap bulannya. GOSIPNYA setiap hari para mitranya memesan 75-100 dus kue untuk dijual kembali dan penjualannya mencapai 90% per hari. Setiap tengah malam kue didistribusikan ke semua gerai, baik yang di Bandung maupun di luar kota dengan memakai jasa angkutan Merpati Airlines dan diantarkan paling lambat pukul 2 pagi.

Saat ini David mempekerjakan lebih dari 200 pegawai yang terbagi dalam dua shift kerja. Setiap hari Mayasari memproduksi sekitar 3.000 dus kue yang tiap dusnya berisi 12 kue. Menjelang akhir pekan, kapasitas produksi meningkat hingga 4.000 dus per hari dan GOSIPNYA 95% nya habis terjual.

Untuk meperluas cakupan bisnisnya, ia bekerja sama dengan pengusaha katering di Bandung. Mayasari menyuplai kudapan pada pesanan katering yang diperoleh mitranya. Ia juga membidik segmen korporat sebagai salah satu target pasarnya. “Pelanggan korporat saya kebanyakan dari industri perbankan,” kata ayah dari Andy Santosa (24 tahun), Vania Christianty (22 tahun) dan Cinthya Christianty (14 tahun) ini.

GOSIPNYA kini omset Mayasari mencapai Rp. 300 juta/bulan dengan margin 15%. Menurut David, masa menjelang dan sesudah Ramadan merupakan high season bagi bisnis ini. Pada H-10 menjelang Ramadan penjualan naik hingga 50% dari biasanya sedangkan pada H+2 penjualan meningkat hingga 200%.

Menurutnya, kesuksesan membangun bisnis kue tergantung pada kejelian melihat pasar dan pada pengembangan inovasi produk. Karena itu, ia selalu mencari eksperimen baru guna memperkaya citarasa dan jenis kuenya. Setiap tahun ia terbang ke luar negeri untuk belajar tentang roti dan pastry.




Selain suka belajar, ia juga suka merombak mobil dan pada acara International Modified Show (IMS) 2012 yang diadakan pada 5-6 Mei 2012 di Bandung Super Mall, ia menjadi salah satu peserta dan memamerkan Bugatti Veyron hasil rombakan dari Mitsubishi Galant 1999. Pengerjaan rombakan ia serahkan pada bengkel Auto5 di Jalan Garuda 87 Bandung. GOSIPNYA Pengerjaannya memakan waktu 4 tahun dan menghabiskan biaya Rp. 850 juta.

Erla's Mexican Cafe

Erla's Mexican Cafe

GOSIPNYA
Tahun 1991, Erla, Ellen, Rosa, dan Akong mulai membuka usaha kecil-kecilan dengan menawarkan berbagai macam menu masakan Indonesia rumahan di rumah Erla di Dago Pojok 3, Bandung. Karena banyak orang asing yang tinggal di daerah itu, Erla lalu memiliki ide untuk menyediakan menu masakan barat. Masakannya lalu disesuaikan dengan citarasa orang-orang asing itu sehingga terciptalah menu yang hingga kini ditawarkan pada para pengunjung di sana.

Menu favorit di sana adalah nachos, sebuah makanan khas Meksiko yang terbuat dari jagung tortilla yang digoreng dan dipanggang dengan keju cheddar. GOSIPNYA karena hal inilah kafenya dinamakan Mexican. Meski bernama Mexican, kafe yang dapat menampung 20 pengunjung itu lebih sering dikunjungi oleh orang-orang yang ingin nongkrong sambil minum bir. Kafe yang buka tiap hari dari jam 12 siang ini, biasanya mulai ramai pada jam 9 malam hingga kafe tutup jam 1 subuh.

Meski harus bersaing dengan tempat-tempat serupa di Bandung seperti Forum, Badung, Verde, OJ's, Volcano, The Loft, Camden, 18 Hours, 9 Square, dan lainnya, GOSIPNYA Mexican punya pelanggan yang setia karena musik yang tidak terlalu keras serta tempatnya yang kecil membuat para pengunjung lebih mudah untuk saling berkenalan.

Kamal Arif

Kamal Arif
lahir 12 September 1966 di Bandung
anak: Nakita Sabrina Camelia, Arif Rizky

GOSIPNYA
Setelah lulus dari NHI Bandung pada tahun 1987 (GOSIP lain bilang tahun 1985), Kamal Arif bekerja di Hotel Hilton Jakarta hingga tahun 1993. Ia lalu pindah ke restoran Italia, Cappellini, dan berhenti tahun 1996. Pada awal tahun 1997 ia pindah ke Bandung untuk bekerja di Hotel Hyatt Regency.

Pada tahun 1998, karena krisis moneter ia membuka usaha sampingan Tiramisu n Coffee (TnC) di rumahnya sendiri di Sawah Kurung IV no. 15, Bandung dengan tiramisu sebagai produk unggulan. Perkembangan bisnisnya dimulai ketika ia menerima pesanan 1.000 buah tiramisu untuk sebuah pernikahan. Kelezatan kuenya lalu menyebar dari mulut ke mulut dan membuat tiramisunya terkenal sekota Bandung. Perlahan-lahan bisnisnya berkembang sehingga pada Oktober 2002 ia memutuskan berhenti bekerja di Hyatt dan fokus pada usahanya sendiri.

Pada 6 Desember 2010 Indonesia Pastry Club (IPC) Bandung didirikan dan ia terpilih sebagai ketuanya. Ada 3 kategori keanggotaan yaitu senior, junior dan hobi. Kelompok senior adalah para profesional baik chef pastry di hotel maupun restoran di Bandung, kelompok junior adalah para pelajar yang menempuh studi di bidang kuliner dan ingin mengembangkan ilmunya, sedangkan kelompok hobi adalah masyarakat umum yang tertarik dengan bidang kuliner. Agenda kegiatan IPC Bandung dimulai pada tahun 2011 dengan mengadakan pelatihan dan cooking class bagi para anggota junior dan hobi oleh senior sedangkan anggota senior membuat inovasi kuliner.

Pada Maret 2011 IPC Bandung membuat martabak manis terbesar di dunia dengan diameter 1,5 meter dan tinggi 27 cm. Martabak yang memecahkan rekor sebelumnya di tahun 2007 dengan diameter 1 meter dan tinggi 7 cm itu diperlihatkan kepada publik di mall Cihampelas Walk pada tanggal 20 Maret 2011. Adonan martabak manis menghabiskan 1.000 butir telur, 10 kg gula, 600 gr garam, 800 gr ragi, 100 liter air hangat, 100 kg tepung terigu, 800 gr baking powder, 2 kg susu bubuk, 6 kg margarin sedangkan untuk topping menghabiskan 15 kg gula pasir, 20 kg kacang, 30 kg meises, 24 kg mentega, 30 kg keju, dan 100 kaleng susu kental manis.

Untuk memecahkan rekor, dibuat dulu loyang martabak dengan diameter 1,5 meter dan tinggi 10 cm yang dibuat sendiri oleh Kamal. Ia adalah salah satu produsen oven tungku tradisional yang GOSIPNYA berjumlah sangat sedikit di Indonesia. Ia menjual 2 jenis oven yakni ukuran sedang yang mampu memanggang 6-8 loyang dan ukuran besar yang mampu memanggang 8-10 loyang.

Selain berjualan oven, ia juga membuka kursus memasak bertempat di lantai 2 TnC dengan biaya 300 ribu Rupiah yang sudah termasuk bahan-bahan masakan, peminjaman alat-alat masak serta sertifikat.

Mucikari Keyko


Keyko

GOSIPNYA
Yunita yang lebih dikenal dengan nama Keyko adalah seorang wanita keturunan Tionghoa asal Bali yang lahir pada tahun 1978. Ia adalah lulusan S1 sebuah universitas terkenal di Surabaya. Pada tahun 1999 ia menikah dengan seorang pengusaha SPBU. Ketika awal kuliah, wanita beranak dua ini mulai menjadi foto model yang membawanya pada kehidupan glamor. Dia selalu memakai tas dan baju mahal serta makan dan minum di hotel bintang.

Setelah anak keduanya lahir, ia tinggal di perumahan elit di Surabaya di Dharmahusada Indah. Pada tahun 2008-2009, ia sering bertengkar dengan suaminya (GOSIPNYA sih karena suaminya tidak setuju dengan gaya hidupnya). Ia pernah disiksa oleh suaminya dan membuatnya trauma karena pihak keluarga suaminya mendukung mereka untuk bercerai. Setelah bercerai dengan suaminya, ia tidak mendapat harta gono-gini maupun biaya hidup dari suaminya demikian pula dengan kedua anaknya. Karena itu, ia pun membawa anak-anaknya ke rumah orang tuanya di Jayagiri, Bali.

GOSIPNYA ia berusaha memperjuangkan hak-haknya secara baik-baik kepada keluarga suaminya tapi ia malah dimarahi oleh ibu mertuanya. Ia lalu melaporkan KDRT yang ia alami pada Polres Surabaya Timur dan meminta bantuan seorang pengacara di Surabaya. Ketika itu ia hanya bisa membayar dengan cara 50-50, jika sudah mendapatkan pembagian harta gono gini. Tapi pengacara menolak sistem pembayaran itu hingga permasalahannya tidak bisa diselesaikan.

Ia juga pernah menggugat perceraiannya di Pengadilan Negeri Surabaya tapi tidak berhasil. Saat itu, ia kerap bolak-balik Surabaya-Bali. GOSIPNYA ia lalu mulai berjualan kue, mie, parcel, madu arab dan sejenisnya untuk bertahan hidup. Ia lalu menyewa sebuah kios di Pasar Atom Surabaya sambil menerima panggilan jadi foto model.

Ia lalu mulai merintis agensi modelnya sendiri. Meski begitu, karena gaya hidupnya yang boros, ia mulai menjadi pelacur. Para modelnya, ternyata juga tertarik menjadi pekerja seks komersial (PSK). Profesi ini lalu berubah menjadi bisnis besar karena harga yang ditawarkan oleh Keyko dianggap setara dengan PSK yang ditawarkan dan para PSK pun puas dengan sistem bagi hasil ala Keyko. Selain itu, Keyko dapat menjaga identitas para konsumen maupun para PSK sehingga GOSIPNYA omzetnya bahkan tidak terkalahkan oleh mucikari legendaris seperti Hartono Prapanca sekalipun.

Bisnisnya menyasar kalangan orang kaya yaitu 1,5-2,5 juta Rupiah untuk PSK biasa, 3-4 juta Rupiah untuk SPG, dan untuk model cantik tarifnya diatas 4 juta Rupiah, sedangkan untuk perawan tarifnya 15-20 juta Rupiah. Jika konsumen berminat, mereka harus mentransfer dulu uang ke rekening BCA-nya dan setelah itu konsumen dapat berkencan selama 3 jam dengan PSK di hotel bintang 5 yang telah ditentukan. Tarif Keyko sendiri mencapai 15 juta Rupiah karena GOSIPNYA ia dapat memberikan pelayanan anal.

Keyko bersama Tukul Arwana

Reputasinya dengan cepat menyebar luas sehingga banyak germo yang menawarkan diri bekerja padanya dan menawarkan PSK. Jaringannya tersebar luas mulai dari Bali, Jawa, hingga Kalimantan. PSK yang ditawarkan padanya memiliki berbagai macam pekerjaan seperti mahasiswa, perawat, maupun pekerja kantoran. GOSIPNYA Keyko tidak pernah bertemu dengan germo dan PSK-nya sendiri karena semua transaksi dilakukan lewat BlackBerry Messenger. Keyko sering memamerkan koleksi terbaru PSK-nya dengan memajang foto mereka di profil picture BlackBerry-nya. Ia juga selalu mengirimkan foto PSK baru kepada para pelanggannya.

Pada akhir tahun 2010 ia menikah lagi dengan seorang pengusaha alat-alat listrik yang hanya berlangsung 2 tahun. Pada pertengahan tahun 2012 ia berpacaran dengan seorang anggota Polri yang tidak diketahui identitasnya. Polisi memerlukan waktu enam bulan untuk menangkap Keyko karena selain tidak mudah percaya, Keyko juga sering berpindah tempat dan berganti nomor telepon. Informasi tentang Keyko didapat setelah polisi menggerebek perempuan yang diduga PSK masuk ke Hotel Oval, Jl Diponegoro, Surabaya. Setelah keluar dari kamar, pasangan bukan suami istri itu diinterogasi dan lalu dibawa ke kantor polisi untuk dilakukan pemeriksaan.

Perempuan itu mengaku menerima order melalui BlackBerry Messenger (BBM) yang dikirimkan Keyko. Dalam pesannya Keyko menawari tarif Rp. 1,5 juta untuk sekali kencan. Dari jumlah itu Rp. 1 juta diberikan untuk PSK dan Rp. 500 ribu untuk Keyko ditransfer melalui rekening bank. Berdasarkan keterangan ini, polisi lalu menangkap Keyko di Kuta, Bali pada 25 Agustus 2012. Pada 11 September 2012 tiga germo Keyko: Nugroho Tjahjojo alias Dion, Lanny Agustina alias Nonik, dan Gloria Nansiska Maulina ditangkap polisi.

Meski pada awal pemeriksaan polisi menyebutkan bahwa anak buah Keyko berjumlah lebih dari 2.000 orang, dalam surat dakwaan jaksa ternyata hanya disebutkan 30 orang. GOSIPNYA ribuan PSK lainnya merupakan anak buah mucikari lain yang bekerjasama dengan Keyko. Mereka adalah Lylian yang memiliki 20 PSK, Ghelsa Mei (20 PSK), Radita (25 PSK), Lards (50 PSK), Angeline (70 PSK), Emmon (100 PSK),  Putri Adeline (100 PSK), Ling-ling (150 PSK), Alona M (200 PSK), Dion S (200 PSK), Evan (200 PSK), San Fokus (200 PSK), Shen-Shen (200 PSK), dan Wen Phing/Seven (300 PSK). GOSIPNYA dari ribuan PSK itu Keyko memiliki omzet 25 juta Rupiah per hari.

Keyko dipenjara 1 tahun dan telah keluar penjara pada Juni 2013.

Bakso Lapangan Tembak Senayan

Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono
lahir 15 Juni 1949 di Wonogiri
meninggal 9 Juli 2011 di Solo
ayah: Karyo Dimedjo
ibu: Sadiyem
istri: Sri Handayani
anak: Kusuma Adi Agung Nugroho lahir 1985
Puspo Kuncoro Adi Susilo lahir 1989
Bangkit Luhur Gumilar lahir 1994
alamat: Jl. Pulo Kemuning II no. 70

Kusuma Adi Agung Nugroho

GOSIPNYA
Sejak tahun 1966 Widyanto sudah menjajakan bakso dengan pikulan berkeliling kota. Setelah tamat STM 1 di Solo, ia merantau ke Jakarta tahun 1971 dengan bekal uang 1.200 Rupiah atau setara dengan 2,5 gram emas ketika itu (GOSIP lain bilang Rp. 150). Di Jakarta ia berdagang bakso keliling memakai angkringan. Setelah beberapa tahun, ia mengganti angkringan dengan gerobak dorong. Pada siang hari ia berkeliling di kawasan Petamburan, Slipi, Pejompongan, dan Gelora Senayan sedangkan pada malam hari ia mangkal di kawasan Lapangan Tembak Senayan yang kini menjadi Hotel Mulia.

Karena mulai mendapat pelanggan tetap, sejak tahun 1982 setiap hari ia mangkal di luar pagar kompleks Lapangan Tembak Senayan. Pelanggannya terus bertambah termasuk para atlet pelatnas atletik, bulutangkis, renang, dan menembak, sehingga pada tahun 1983 ia diperbolehkan berjualan bakso di dalam kompleks. GOSIPNYA ketika itu ia mulai membuat kompleks dipenuhi pembeli dan agar tidak mengganggu aktivitas di Lapangan Tembak Senayan, ia diizinkan membuka warung kecil di lokasi parkir. Sejak itu baksonya dikenal sebagai Bakso Lapangan Tembak Senayan.

GOSIPNYA kelezatan baksonya membuat para pejabat menjadi pelanggan setianya. Pada tahun 1980-an, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menganugrahinya nama Ki Ageng Widyanto Suryo Buwono. GOSIPNYA karena dianggap kurang memadai, ia diperbolehkan membuka beberapa gerai lagi di lingkungan Senayan. Hingga tahun 1998 ia berhasil mengembangkan toko hingga 7 cabang.

Ia sempat mendapat masalah ketika anak buahnya mendirikan warung bakso sendiri dan gerainya di Pasar Minggu terkena amuk massa pada kerusuhan Mei 1998. Cabang tokonya di Roxy Mas dan Kelapa Gading juga tidak menguntungkannya, karena itu sejak tahun 2001 ia mulai mengerahkan anak sulungnya yang masih SMP untuk mulai terjun ke dunia bisnis dengan cara bekerja magang di salah satu gerainya.

Pada tahun 2002 ia mengubah pangsa pasarnya menjadi menengah ke atas dengan membuka gerai di Mega Mall Pluit. Ia juga mulai mewaralabakan usahanya dengan sistem semi franchise dan menambah variasi menunya. Ia juga membedakan harga tiap gerai berdasar kemampuan ekonomi pengunjung daerah tersebut. GOSIPNYA biaya waralaba untuk membuka sebuah gerai baru di mal seluas 150 m² mencapai Rp. 2 milyar untuk 5 tahun. Pada September 2006 musisi Purwacaraka menjadi franchisee dan membuka gerai di Rest Area 57 Cikampek.

Widyanto berambisi membuka cabang di luar negeri dan untuk menaunginya secara profesional, pada Februari 2007 ia mendirikan PT Balats Dwi Tunggal di apartemen Bellezza, Permata Hijau, Jakarta. Meski telah meninggal pada 9 Juli 2011, bisnisnya masih terus berkembang dan hingga akhir tahun 2011 telah mencapai 140 gerai (GOSIP lain bilang 109) di seluruh Indonesia.