15 June 2014

Sony Sugema


Ir. H. Sony Sugema, MBA
lahir 7 Februari 1965 di Bandung
meninggal 31 Januari di Bandung

PENGHARGAAN
-Citra Top Executive Indonesia tahun 1997
-50 Enterprise Semangat Wirausaha Indonesia dari majalah SWA tahun 2001
-Penghargaan Alumni ITB Berprestasi Bidang Industri tahun 2002

GOSIPNYA
Tahun 1980 ayah Sony meninggal dunia sehingga ia harus bekerja untuk menghidupi ibu dan keempat adiknya. Ketika itu ia masih sekolah kelas dua di SMU Negeri 3 Bandung. Ia menawarkan jasa les privat pada teman-teman sekelasnya dengan biaya 5 ribu Rupiah sebulan. Ternyata tawarannya disambut positif oleh teman-temannya karena ia merupakan seorang yang cerdas.

Tahun 1982 ia lulus tes ujian masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Teknik Sipil. Ketika masih tingkat satu, ia menikah dengan istrinya, Siti Romlah, yang tiga tahun lebih tua dan kuliah di jurusan Biologi ITB. Untuk menghemat ongkos, dia harus mengayuh sepeda menuju kampus yang berjarak 20 kilometer dari rumahnya. GOSIPNYA sambil mengajar, ia juga menjual kue yang dititipkannya di kantin kampus ITB.

Setelah lulus kuliah tahun 1985 ia mengajar di SMA Angkasa Bandung. Ia mengajar matematika, fisika, dan kimia untuk siswa kelas satu, dua, dan tiga. Setelah itu, ia bekerja sebagai pengajar di beberapa bimbingan belajar. Pada tahun 1990 ia memutuskan untuk membuka bimbingan belajar sendiri. Cikal bakal Sony Sugema College (SSC) ini awalnya terletak di jalan Dipati Ukur 71, Bandung. Modal awal pendirian bimbel ini Rp. 1,5 juta yang ia peroleh dari pembayaran royalti buku-bukunya. Ia pernah menulis buku tentang pembahasan soal-soal UMPTN yang setiap tahun selalu diperbaharui. Uang 1,5 juta Rupiah itu dipakai untuk menyewa gedung sebesar Rp. 750.000 dan sisanya untuk membeli perlengkapan belajar seperti kursi, meja, papan tulis.

Awalnya murid bimbingan belajar ini hanya 140 orang dan satu-satunya pengajar hanyalah dirinya sendiri. Bimbingan belajar ini awalnya hanya khusus untuk menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Ia memulainya dengan memberikan jaminan 100% uang kembali bagi murid yang gagal lolos UMPTN. GOSIPNYA hanya 10 orang dari 140 orang yang mengambil uangnya kembali.

Seiring berjalannya waktu ia merasa kewalahan karena terlalu sibuk bekerja sebagai pengajar tunggal. Ia lalu meminta teman-temannya dari ITB, UNPAD, dan IKIP (sekarang UPI) untuk membantunya mengajar di bimbingan belajar tersebut. Pada tahun 1991 SSC mulai membuka cabang di beberapa kota, dimulai dengan Jakarta dan Garut, lalu Cirebon (1992), Tasikmalaya (1993), Surabaya (1994), Yogyakarta (1995), Bogor (1996), dan Medan (1997). Saat ini SSC memiliki cabang di lebih dari 30 kota di Indonesia.

Menurut Sony, yang membedakan SSC dengan bimbingan belajar lain yaitu ia menerapkan dua sistem pengajaran: fastest solution dan learning is fun. Dengan kedua metode tersebut, pengajar yang berminat untuk menjadi guru SSC harus memenuhi sejumlah kriteria. Selain harus menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, pengajar juga tidak boleh terlalu serius dan dapat diterima oleh siswa.

Sebelum menjadi pengajar pun mereka harus melewati beberapa tes, yang pertama adalah tes tertulis untuk mengetahui seberapa jauh calon pengajar menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan. Setelah itu, mereka diharuskan melakukan simulasi mengajar di depan guru-guru SSC. Setelah magang selama tiga bulan, barulah calon pengajar tersebut diangkat menjadi pengajar tetap. Gaji yang diterima para pengajar cukup memadai, berkisar antara 20.000-50.000 Rupiah setiap jam mengajar.

Tahun 1996 ia mendirikan PT Sony Sugema Pressindo yang bergerak dalam bidang penerbitan dan percetakan. Kegemarannya akan pemrograman komputer disalurkannya dengan mendirikan beberapa perusahaan software, antara lain: PT Sonisarana Cipta Olah Media (SSCOM), Quantum E-Commerce College, dan PT Mega Portal Media. Ia juga membuat CD Al-Quran, program SMS Al-Quran, dan Program S3 (Sony Sugema Script).

Pada tahun 2000 PT Sony Sugema Eduka didirikan dan sejak itu pula SSC dikembangkan menggunakan metode waralaba. Hingga tahun 2008 SSC telah membuka 18 cabang waralaba, yakni di Padang, Palembang, Pekanbaru, Depok, Cianjur, Majalengka, Tegal, Palangkaraya, Pontianak, Makasar, Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, Denpasar, dan Lampung Metro.

Tahun 2001 ia mendirikan STTIS (Sekolah Tinggi Teknologi Informatika Sony Sugema). Tahun 2003 ia mendirikan sekolah SMA gratis bernama Alfa Centauri di Jalan Diponegoro, Bandung. Menurut Sony, sekolah ini didirikan sebagai rasa syukur kepada Allah dan kepedulian kepada anak-anak dari keluarga miskin dan yatim piatu.

Awalnya anak-anak yang belajar di sekolah ini bebas biaya. Dana operasional sebesar 20-30 juta per bulan diambil dari keuntungan beberapa perusahaannya. Pada tahun ketiga, tak hanya kaum dhuafa yang mendaftar ke sekolah ini sehingga untuk menampung keinginan mereka, ia memberi kuota 50 persen untuk siswa tadi, selebihnya tetap untuk kaum dhuafa. Pemberlakuan biaya bagi mereka digunakan untuk subsidi silang bagi siswa dhuafa. Proses seleksi penerimaan juga cukup ketat. Jumlah pendaftar per tahunnya mencapai 400-500 orang padahal siswa yang diterima hanya sekitar 30-40 orang saja.

SMA Alfa Centauri dikelola dengan gaya bimbel. Sejak kelas dua setiap siswa diikutsertakan bimbingan belajar. Pagi sekolah mengikuti kurikulum biasa dan sorenya mengikuti bimbingan belajar. Metode itu ternyata luar biasa, dari 27 lulusan perdana tahun akademik 2006/2007 yang mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB), 21 orang berhasil diterima di empat PTN terkemuka di Bandung.

“Sebenarnya angkatan pertama SMA Alfa Centauri yang menjadi alumni perdana berjumlah 36 orang. Namun dari 36 orang itu, hanya 27 yang mengikuti SPMB. Yang lainnya sengaja tidak ikut SPMB karena untuk beli formulir saja mereka tidak memiliki biaya. Beli formulir paling rendah Rp. 150 ribu,” kata Sony menyayangkan.

Sony telah dikaruniai 12 anak dari dua orang istrinya. Sepuluh anak dari isteri pertamanya, Siti Romlah dan dua anak dari istri keduanya, Ira Kartika, yang usianya terpaut 11 tahun dengan istri pertamanya. Sony wafat pada 31 Januari subuh di Bandung karena penyakit jantung.

No comments:

Post a Comment