Yohanes Surya

Yohanes Surya
lahir 6 November 1963 di Jakarta
istri: Christina Surya
anak: Chrisanthy Rebecca Surya lahir 1990
Marie Felicia Surya lahir 1999
Marcia Ann Surya lahir 2003

PENDIDIKAN
1968-1974: SD Pulogadung Petang II Jakarta
1974-1977: SMPN 90 Jakarta
1977-1981: SMAN 12 Jakarta
1981-1986: Jurusan Fisika Universitas Indonesia dengan gelar Drs.
1988-1990: Physics Dept. College of William and Mary, AS dengan gelar M.Sc.
1990-1994: Physics Dept. College of William and Mary, AS dengan gelar Ph.D GPA 4.0 (Summa Cum Laude)

KARIR
1986-1988: Guru fisika SMAK 1 Penabur Jakarta
1988-1989: Teaching Assistant Physics Dept. College of William and Mary
1989-1993: Research Assistant Physics Dept. College of William and Mary
1993-kini: Pemimpin pusat pelatihan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI)
1993-kini: Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia
1994: Consultant of Theoretical Physics di Continous Electron Beam Accelerator Facilities (CEBAF)
1995-1998: Dosen Jurusan Fisika Universitas Indonesia
1998-2003: Profesor International Center for Physics and Mathematics Universitas Pelita Harapan
2000-kini: Vice President The First Step to Nobel Prize
2000-2005: President Asian Physics Olympiad
2001-2004: Kepala Promosi dan Kerjasama Himpunan Fisika Indonesia
2002: Chairman of The International Econophysics Conference
2002: Chairman the World Congress Physics Federation
2003-2004: Dekan Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan
2004-kini: CEO The Mochtar Riady Center for Nanotechnology and Bioengineering
2005-kini: Pendiri Kelas Super yang ditujukan untuk anak dengan IQ > 145
2005-kini: Profesor Fisika Universitas Satya Wacana Salatiga
2008: Chairman of Asian Science Camp di Denpasar
2011-kini: Rektor Universitas Multimedia Nusantara

PENGHARGAAN
-SUPERSEMAR Fellowship 1982/83
-Summer School Fellowship HUGS at CEBAF, AS 1989-1991
-Summer School Fellowship Dronten, Belanda 1992
-Summer School Fellowship TRIUMF, Kanada 1993
-CEBAF/SURA award AS 1992-93 (salah satu mahasiswa terbaik dalam bidang fisika nuklir pada wilayah tenggara Amerika)
-Zable Fellowship USA 1993-94
-Penghargaan kreativitas 2005 dari Yayasan Pengembangan Kreativitas
-Anugerah Lencana Satya Wira Karya 2006 dari Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
-Penulis Best Seller tercepat di Indonesia untuk bukunya "Mestakung: Rahasia Sukses Juara Dunia" tahun 2007
-Pahlawan Masa Kini pilihan Modernisator dan majalah TEMPO pada tahun 2008
-Tokoh Perubahan 2009 dari Harian Republika

GOSIPNYA
Yohanes Surya adalah anak ke 7 dari 9 bersaudara. Ia memiliki 5 saudara perempuan dan 3 saudara laki-laki. Ayahnya adalah tentara dengan pangkat terendah sedangkan ibunya penjual odading. Setiap hari ibunya bangun jam 3 pagi untuk membuat kue. Ketika selesai pada jam 8, ibunya menjualnya pada tukang-tukang kayu di sekitar rumahnya. Sejak kecil Yohanes sudah membantu ibunya baik membuat maupun berjualan odading.

Setelah lulus dari SMAN 12 Jakarta tahun 1981, orangtuanya tidak mampu membiayainya kuliah tapi berkat bantuan kakak-kakaknya, akhirnya ia masuk kuliah ke Universitas Indonesia jurusan Fisika MIPA. Memasuki tahun kedua kuliah ia berhasil mendapatkan beasiswa Supersemar sehingga ia dapat membiayai sendiri biaya kuliahnya. Meski begitu, GOSIPNYA beasiswa itu hanya cukup untuk biaya kuliah saja sehingga ia harus berhemat dengan tidak makan siang setiap harinya.

Memasuki tahun ketiga kuliah yaitu tahun 1983, ia mulai bekerja dengan menjadi guru les. GOSIPNYA saat itu ia memiliki keyakinan yang kuat bahwa ia dapat meraih beasiswa untuk studi ke luar negeri sehingga ia lalu membuat paspor. Pada tahun 1986, ia lulus sebagai salah satu lulusan terbaik. Tahun 1987 2 orang profesor dari AS berkunjung ke Indonesia untuk mencari orang-orang yang mau dan sanggup studi Fisika di AS. Setelah diwawancara, Yohanes lulus tes dengan hasil salah satu yang terbaik. Meski begitu, TOEFL-nya hanya 415 padahal syaratnya harus 550 sehingga ia pun lalu memilih William & Mary yang tidak mengutamakan TOEFL.

Syarat beasiswa yang ia terima mengharuskannya untuk mengajar dan ia menghadapi kendala karena TOEFL-nya terlalu rendah. Maka ia menempuh cara lain yaitu melewati program master dengan mengikuti program doktor. Hebatnya, ia lulus tes program doktor hanya dengan persiapan selama 3 bulan saja. Selama 3 bulan itu, setiap hari ia bangun pukul 2 pagi karena ia bekerja sebagai loper koran dan selesai bekerja pukul setengah tujuh pagi. Setelah itu ia pergi ke kampus, melakukan persiapan untuk program doktornya hingga pukul 11 malam. Pada tahun 1994 ia lulus program doktor dengan GPA 4.0 (Summa Cum Laude).

Meski sudah punya Green Card (izin untuk menetap di AS), ia pulang ke Indonesia untuk mengharumkan nama Indonesia melalui olimpiade fisika serta mengembangkan fisika di Indonesia. Ia lalu melatih dan memimpin Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) dan menjadi pengajar dan peneliti pada program pasca sarjana UI untuk bidang fisika nuklir pada tahun 1995-1998. Dari tahun 1993 hingga 2007 murid-murid binaannya berhasil mengharumkan Indonesia dengan menyabet 54 medali emas, 33 medali perak dan 42 medali perunggu dalam berbagai kompetisi Sains/Fisika Internasional. Bahkan, pada tahun 2006 seorang muridnya meraih predikat Absolute Winner (Juara Dunia) dalam International Physics Olympiad (IphO) ke 37 di Singapura.

Sejak tahun 2000, ia banyak mengadakan pelatihan untuk guru-guru Fisika dan Matematika di hampir semua kota besar di Indonesia. Untuk mewadahi pelatihan-pelatihan ini ia mendirikan Surya Institute yang kini sedang membangun gedung Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) Center yang akan menjadi pusat pelatihan guru maupun siswa yang akan bertanding di berbagai kejuaraan sains/fisika.

Sejak tahun 2009 ia bekerjasama dengan PEMDA daerah-daerah tertinggal mengembangkan matematika GASING (Gampang Asyik dan menyenangkan). Dengan metode GASING, siswa yang selama ini dianggap bodoh ternyata mampu menguasai matematika kelas 1-6 SD hanya dalam waktu 6 bulan. Program ini kini diimplementasikan di berbagai daerah tertinggal terutama di Papua.

Tahun 2010 ia mendirikan STKIP (Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan) Surya, untuk menghasilkan guru-guru berkualitas di berbagai daerah tertinggal di Indonesia. Untuk lebih berkonsentrasi pada STKIP Surya dan pendirian Surya University, mulai awal tahun 2011 ia tidak lagi menjabat sebagai rektor UMN.

Pada November 2012 ia menulis novel pertamanya berjudul "Tofi: Perburuan Bintang Sirius" untuk membuktikan bahwa sains, terutama fisika, mudah dipahami bahkan oleh orang awam sekalipun.

Pada 27 Juli 2017 Surya University terbelit krisis keuangan Rp. 45 milyar karena program student loan yang macet. Surya selaku rektor menjual aset pribadi senilai Rp. 200 milyar untuk membayar hutang. Menurutnya gaji dosen sempat terlambat dibayarkan pada tahun 2015-2016 lalu. Jumlah dosen pun lalu dipangkas. Total pinjaman yang diterima pihak kampus melalui program student loan seluruhnya sekitar Rp. 45 milyar pada tahun 2013. Hingga Juli 2017 telah dibayar sekitar Rp. 43 milyar.

Sekitar 250 mahasiswa menerima program student loan dari Bank Mandiri tahun 2013. Mereka kuliah tanpa membayar. Target penerimaan 1000 mahasiswa baru tak tercapai pada tahun 2014. Hanya sekitar 400 mahasiswa yang mendaftar sehingga biaya operasional kampus tak bisa terbayarkan.

Sulano Tasripin (tengah)

Pada 28 Juli 2017 Surya dilaporkan ke Bareskrim Polri oleh warga Penjaringan, Jakarta Utara, bernama Sulano Tasripin. Surya diduga menipu Sulano dan puluhan orang lainnya terkait pembelian lahan di sekitar Universitas Surya di Green Smart City, Klaster Tenjo Eco City.

Kuasa hukum Sulano, Wardaniman Larosa mengatakan, sekitar Juli 2015 kliennya ditawarkan lahan dan bangunan di sekitar Universitas Surya oleh Yohanes dan Direktur PT Surepassindo, Syam Surya Syamsi, selaku pengembang Universitas Surya. "Klien sudah pembayaran lunas kepada pihak Yohanes Surya dan Syam Surya. Tapi saat itu sampai sekarang tidak ada tanah dan bangunan dijanjikan," ujar Wardaniman di kantor Bareskrim Polri 28 Juli 2017.

Saat itu, kata Wardaniman, Surya menyatakan bahwa lahan tersebut akan dibangun universitas dan akses jalan. Selain itu, mereka akan mendatangkan profesor dari Belanda untuk universitas baru itu. Hal itu membuat Sulano tergiur membeli tanah dan kavling tersebut. "Klien kami merasa tertipu. Membeli lahan tapi sertifikatnya belum ada," kata Wardaniman. Tak hanya kepada Sulano, Surya juga menawarkan lahan tersebut ke puluhan orang lainnya.

Sulano mengatakan, dirinya telah menyetor Rp. 750 juta secara bertahap ke PT Surepassindo untuk lahan seluas 1.500 meter persegi. "Pernah kami tanyakan bagaimana perkembangan, selalu bilang mau tunggu investor dari luar," kata Sulano. Surya diduga melakukan penipuan sebagaimana Pasal 378 KUHP. Ia juga disangkakan Pasal 3 dan Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. "Uang sebesar ini (Rp. 750 juta) hanya satu orang lho. Nah, dikali 50 orang sekian. Bayangkan uang dikemanakan. Bisa sampai milyaran," kata Wardaniman.

Hingga kini tidak ada keterangan lebih lanjut tentang kasus ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.