Wendy Chandra

Wendy Chandra (paling kiri) bersama Henry Purnomo (paling kanan)

CABANG USAHA
-Vega: Jl. Ranggamalela 3 Bandung Tlp. 022 420 9873
-Vega: Jl. Banda 33 Bandung Tlp. 022 426 0870

-DILO:
*Balikpapan: Gedung Telkom STO 3, Jln. Mt Haryono
*Bandung: Jln. Banda 4
*Bandung: Jln. Pasteur 11A
*Bekasi: Jln. KH. Noer Ali 1A, Kalimalang
*Bogor: Gedung OPMC Telkom, Jln. Padjadjaran 39
*Denpasar: Bali Creative Industry Center, Jln. Wage Rudolf Supratman 302
*Depok: Jln. Margonda Raya 23 Pancoran Mas
*Jakarta: Mall of Indonesia Lt. 2, Kelapa Gading
*Makassar: Jln. Sam Ratulangi 68
*Malang: Jln. Basuki Rahmad 11A
*Medan: Jln. Monginsidi 6
*Pekanbaru: Jln. Kinabalu 12
*Solo: Gelanggang Pemuda Bung Karno Lt. 2, Jln. Adisucipto 1, Manahan
*Surabaya: Telkom Indonesia Divre V, Jln. Ketintang 135
*Tangerang: BSD Junction Blok A10, Jln. Pahlawan Seribu

GOSIPNYA
Sejak tahun 1991, Wendy Chandra sangat menyukai video game. Ketika itu informasi tentang game ia rasakan kurang banyak dan penjual kaset game pun sangat sedikit. Pada tahun 1994 bersama ketiga temannya yaitu Albert Jacken, Tomy Kurniawan, dan Handi Susilo Yurianto, mereka mendirikan toko game Vega di Jl. Ranggamalela 3 Bandung.

Lulusan S-1 Manajemen Ekonomi dari Universitas Parahyangan Bandung dan S-2 Marketing dari San Francisco State University AS ini menyumbang Rp. 5 juta untuk modal awal dari total Rp. 20 juta yang dibagi rata bersama ketiga temannya. Modal itu dipakai untuk mendirikan PT Vegindo Tunggal Perkasa yang menaungi Vega.

Toko ini menjual berbagai kaset Game Boy, Nintendo, Sega, Super Nintendo, hingga komik dan perlengkapan console games. Ketika itu kaset game masih sulit dibajak sehingga kaset yang beredar adalah kaset original yang saat itu harganya lumayan mahal, berkisar antara Rp. 60 ribu sampai 100 ribu. Hal ini membuat Vega tidak lebih unggul dibanding toko game lainnya.


Tahun 1996 konsol Sony Playstation hadir di Indonesia. Konsol ini begitu laris karena CD begitu mudah dibajak dan dijual antara Rp. 6-10 ribu saja. Vega menyediakan begitu banyak judul-judul game yang GOSIPNYA beberapa diantaranya tidak ditemukan di toko game lain. Hal ini dengan cepat membuat Vega populer di kalangan gamers dan membuatnya mengalahkan toko-toko game terkenal lainnya seperti Spectra, Obelix, OXA, Golden Games, dan Starlite.

Ketika konsumen terus-menerus bertambah, Wendy memutuskan membuat sebuah buletin game dengan nama Mega Game Indonesia (Megindo). Buletin yang awalnya hanya 8 halaman berkembang menjadi 16 halaman lalu jadi 32 halaman, hingga akhirnya berubah menjadi majalah Gamestation. Wendy pun mulai fokus pada bisnis percetakan dan pada tahun 1996 mendirikan PT Megindo Tunggal Sejahtera. GOSIPNYA pada tahun 2000 Albert, Tomy, dan Handi menjual saham mereka pada Henry Purnomo, sehingga sejak itu Vega hanya menjadi milik mereka berdua saja.

Selain berpromosi di Kaskus dan Kafegaul, majalah juga ditawarkan ke toko-toko game. Berbagai acara dan kompetisi dilakukan agar majalah menjadi terkenal. Untuk isi majalah, Wendy berhasil mengembangkan jaringan hingga ke pengembang game di AS. Keberhasilan membangun jaringan ini selain karena Wendy pernah bekerja selama 2 tahun di Konami, juga karena ia sering nongkrong di Silicon Valley, tempat berkumpulnya para penerbit game. Wendy lalu membuka kantor distribusi di Jakarta karena 70% majalah Gamestation beredar di Jakarta.

Kerja sama distribusi pernah pula dilakukan Megindo dengan Grup Mugi Rekso Abadi (MRA) untuk mengantisipasi kebocoran distribusi. Namun, karena masalah internal, pegawai dari MRA dipekerjakan untuk membantu distribusi Megindo. Mereka lalu mencoba melakukan ekspansi dengan menerbitkan Cinemags dan Animonster.

Dalam mempromosikan Cinemags yang membahas film, Wendy bekerja sama dengan jaringan bioskop 21 untuk mengadakan nonton bareng. Bagi Animonster yang menyasar penggemar komik Jepang, Wendy bekerjasama dengan televisi berbayar AXN untuk program Animax dan penerbit komik di Jepang yang bersedia memberikan preview produk-produknya.

Kini Wendy telah menerbitkan 8 majalah: Cinemags, Gamestation, Game Guide, Animonster, Kiddo, Gadget, Macworld, Archi & Meidy. Meski sukses mengembangkan perusahaannya, ia pernah rugi Rp. 7 milyar. Musibah itu terjadi saat ia mengambil S-2 di AS tahun 1996 dan perusahaan dipercayakan kepada temannya. Saat itu kerugian terjadi dari distribusi dan percetakan.

Ketika kembali ke Indonesia tahun 2000 Wendy merombak perusahaan dan mencari investor baru. Ia juga memecat orang-orang yang tidak kompeten. GOSIPNYA hal itu berhasil membuat keuangan perusahaan stabil setelah dua tahun. Wendy yang kini memegang 45% saham Megindo, berhasil menyelamatkan perusahaan (yang GOSIPNYA kini beromzet sekitar Rp. 5 milyar per bulan) dari kebangkrutan.

Pada tahun 2010 Wendy bekerjasama dengan TELKOM dengan membuka 2 gerai creative center DiLo di Jakarta dan Bandung untuk mewujudkan edutainment melalui industri kreatif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.