10 December 2012

Susi Pudjiastuti


Susi Pudjiastuti
lahir 15 Januari 1965 di Pangandaran, Ciamis
ibu: Hj. Suwuh Lasminah
ayah: H. Ahmad Karlan meninggal 2007
suami: Christian von Strombeck
anak: Panji Hilmansyah, Nadine Pascale, Alvy Xavier

GOSIPNYA
Susi Pudjiastuti adalah anak sulung dari 3 bersaudara. Kakek buyutnya yang berasal dari Jawa Tengah, Haji Ireng, berdagang sapi dan kerbau di Jawa Barat. Haji Ireng lalu menetap di Pangandaran. Orangtua Susi adalah generasi ke 5 dan mempunyai banyak tanah, antara lain kolam-kolam ikan dan kebun kelapa untuk dipanen dan dijual kopranya. Ayahnya juga mengusahakan beberapa buah perahu untuk para nelayan mencari ikan dengan sistem bagi hasil.

Meskipun sudah dikenal sebagai salah satu objek wisata, dulu pantai Pangandaran masih sepi pengunjung. Pada akhir pekan atau hari libur pun jarang ada wisatawan yang datang. Pasar di dekat rumahnya, dulu cuma ramai hingga pukul 9 pagi. Susi bersekolah di SD Negeri 8 Pangandaran tahun 1972-1977 lalu ke SMP Negeri 1 Pangandaran tahun 1978-1980 lalu ke SMA Negeri 1 Yogyakarta.

Suatu ketika ia tergelincir di tangga, tubuhnya menggelinding ke bawah dan kepalanya terbentur tembok din­ding sekolahnya. Susi berbaring di tempat kosnya beberapa hari. Hal itu membuat orangtuanya memintanya kembali ke Pangandaran. Susi lalu memutuskan tidak kembali lagi ke sekolah (GOSIPNYA sih ia tidak suka hidupnya diatur orang lain). Ia pun drop out di kelas 2 SMA.

Ketika masa SMP dan SMA, ia suka berjualan baju atau T-shirt pada teman-temannya. Ia melihat Pangandaran makin berkembang sebagai daerah tujuan wisata dan hotel pun mulai bermunculan. Ia lalu memesan bed cover dan sarung bantal dari temannya di Yogyakarta dan menawarkannya pada hotel-hotel tersebut.

GOSIPNYA ketika kecil ia bercita-cita menjadi ahli oceanologi dan karenanya ia sering bermain ke pantai. Di sana tiap hari ia melihat ratusan nelayan mendapat hasil ikan yang melimpah. Ia lalu meninggalkan usaha berjualan bed cover-nya dan beralih profesi menjadi bakul ikan. Bakul ikan adalah pengepul hasil laut tangkapan nelayan yang biasanya dilakukan oleh kaum wanita.

Pada tahun 1983 ia menikah dengan teman sepermainannya yang membuahkan seorang anak laki-laki bernama Panji Hilmansyah. Pada tahun yang sama ia menjual semua perhiasan yang ia miliki berupa gelang keroncong, kalung, serta cincin dan mendapatkan 750.000 Rupiah. Ia lalu menjadi seorang bakul ikan. Tiap pagi ia ikut berkerumun di tempat pelelangan ikan menjadi peserta lelang. Ia harus cepat menaksir berapa harga jual ikan-ikan di keranjang yang sedang ditawarkan juru lelang dan memperkirakan kepada siapa ikan-ikan itu akan dijual.

Pada hari pertama ia cuma berhasil menjual 1 kg ikan untuk sebuah restoran kecil kenalannya. Setelah ia mulai bisa meyakinkan calon pembeli, jumlah penjualannya pun perlahan-lahan meningkat. Usahanya itu bukan tanpa kendala. Ia sering menilai harga ikan terlalu tinggi bahkan sering juga pemesan ingkar, tidak jadi membeli ikan darinya.

GOSIPNYA untuk mengatasi kerugian itu ia mulai menyewakan perahu pada nelayan dengan harga kompetitif dan hasil tangkapannya ia beli dengan harga yang kompetitif pula. Kabar baik ini lalu menyebar di kalangan nelayan sehingga dari mulanya hanya satu perahu lalu berkembang menjadi ratusan perahu. Dalam setahun ia telah menguasai pasar Pangandaran dan pasar Cilacap.

Meski bisnis pariwisata terus berkembang, hasil tangkapan yang melimpah itu banyak yang tidak terjual sehingga dijadikan ikan awetan, baik ikan kering atau ikan asin, padahal harga jual ikan segar jauh lebih mahal daripada ikan asin. Ia lalu menyasar Jakarta yang membutuhkan sangat banyak ikan segar. Mulanya ia menyewa truk dan mengangkut ikan-ikannya ke Jakarta. Setelah mengetahui seluk-beluknya, ia lalu membeli truk dan dengan pendingin es batu membawanya langsung ke pasar-pasar di Jakarta. Setelah berlangsung beberapa waktu, ia mulai dipercaya untuk memasok ikan segar ke beberapa pabrik untuk diekspor.

Setiap hari pukul 15.00, ia berangkat dari Pangandaran dan sampai di Jakarta pada tengah malam. Setelah mandi dan istirahat sebentar, ia balik lagi ke Pangandaran. Rutinitas itu berlangsung bertahun-tahun. Tidak hanya itu, ia pun jeli menangkap peluang bisnis baru. Ia mengamati bahwa di sepanjang kawasan Cikampek hingga Karawang, ketika malam selalu ramai oleh suara kodok dan ia tahu kodok hidup laku di pasar Glodok.

Dalam perjalanan Pangandaran-Jakarta ia lalu mampir ke sentra-sentra pengepul kodok dan membawanya sekalian ke beberapa pasar di Jakarta. GOSIPNYA karena hal ini ia bahkan sempat dijuluki ‘Susi Kodok’. Tidak hanya kodok, ia juga terkenal sebagai pemasok lobster berkualitas yang GOSIPNYA menguasai hingga 70% pangsa pasar di Jakarta. Selain itu ia juga memasok sarang burung walet yang diambilnya dari para pemanen di gua-gua laut di pesisir pantai selatan pulau Jawa.

Tahun 1989 ia membuka restoran Hilmans di dekat pantai Pangandaran dengan spesialisasi menu ikan segar. Calon pembeli bisa memilih sendiri ikan segar yang diminatinya lalu para koki mengolahnya menjadi hidangan pilihan.

Tahun 1996 ia mendirikan pabrik pengolahan ikan PT ASI Pudjiastuti di pekarangan samping rumahnya di depan terminal bus Pangandaran dan membuatnya dapat mengekspor lobster beku ke Jepang dengan label Susi Brand. Ratusan tenaga kerja lokal diserap pabriknya untuk menyiangi ikan. Limbah yang berupa tulang dan isi perut ikan dipisahkan, dicacah atau digiling, untuk pakan itik di kebunnya, sementara bagian dagingnya dibuat filet atau produk turunannya seperti baso, dan lainnya. Setahun setelah ia mengekspor lobster beku, berbagai jenis seafood beku dari pabriknya mulai diekspor ke Jepang.

Setelah 2 kali pernikahan singkat dengan pria asal Pangandaran dan seorang pria asal Swiss yang membuahkan seorang putri bernama Nadine Pascale, pada tahun 1997 ia bertemu dengan seorang pilot asal Jerman yang bekerja di IPTN Bandung yang lalu menjadi suaminya, Christian von Strombeck, di restoran Hilmans di Pangandaran. Pernikahannya dengan Christian membuahkan seorang anak laki-laki bernama Alvy Xavier.

Tahun 2000 ia mengajukan proposal meminjam uang pada berbagai bank untuk membeli pesawat terbang yang akan dipakai untuk mengangkut ikan yang rencananya akan diekspor ke Eropa dan Amerika. Proposalnya itu ditolak karena dianggap terlalu muluk-muluk. Ia tak menyerah dan pada tahun 2004 Bank Mandiri bersedia memberi pinjaman 4,7 juta Dolar AS. Ia lalu membeli sebuah pesawat Cessna Caravan berkapasitas 12 tempat duduk buatan AS seharga Rp. 20 milyar.

Pesawat Cessna itu lalu dipakai untuk mengangkut ikan dan lobster. Christian menjadi pilot sedangkan Susi sebagai pramugari. GOSIPNYA dengan pesawat itu pula ia dapat mengirimkan ikan ke Jepang dalam waktu kurang dari 24 jam sejak ditangkap dari laut sehingga nilai jualnya pun meningkat hingga 2 kali lipat.

Pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi gempa bumi sebesar 9,2 Skala Richter (SR) yang menimbulkan tsunami. Bantuan udara menumpuk di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh karena puing-puing kerusakan menghambat arus bantuan. Sekitar 2 hari setelah tsunami, ia berhasil mendarat di Meulaboh membawa bantuan obat-obatan dan makanan. Setelah itu ia menyewakan pesawatnya kepada pihak-pihak internasional yang membantu pemulihan Aceh yang GOSIPNYA disewakan seharga 10 ribu Dolar AS per hari. Istilah Susi Air pun lahir dari para penyewa awal itu.

Pada Juli 2007 gempa bumi 6,8 SR mengguncang Pangandaran dan menyebabkan tsunami. GOSIPNYA karena tsunami ini bisnis perikanannya tidak dapat beroperasi. GOSIPNYA karena hal inilah pada tahun 2007 ia membangun Masjid Istiqomah di Pangandaran. Tahun 2008 ia mendirikan PT ASI Pudjiastuti Flying School. Kini ia telah memiliki lebih dari 40 pesawat berbagai jenis.

Sejak tahun 2011 Susi Air terlibat dalam beberapa kecelakaan pesawat dan hal ini membuat duta besar AS di Indonesia mengeluarkan larangan bagi warganya agar tidak menaiki pesawat Susi Air pada 4 Mei 2012.

No comments:

Post a Comment