10 December 2012

David Benyamin Santosa


Pisang Bolen Mayasari

CABANG TOKO MAYASARI
-Bandung
*Jl. Kebon Kawung 22 B & C Tlp. (022) 4222444, 4260303
*Stasiun KA Sebelah Utara Tlp. (022) 70402915
*Jl. Sukamukti 10 Tlp. (022) 2034444, 2039500
*Jl. Cihampelas 110 Tlp. (022) 2042678
*Jl. Dr. Djunjunan 155 Tlp. (022) 6004765 / 6010911 / 6073826
*BTC Lt. GF A4 no. 7 Jl. Dr. Djunjunan 143-149 Tlp. (022) 6126375
*Jl. Surya Sumantri 63A Tlp. (022) 2003080
*Bandara Husein Jl. Padjajaran 156 Tlp. (022) 70560607
*FO Heritage Jl. LLRE Martadinata 63 Tlp. (022) 76456778
*PVJ Via Latino Jl. Sukajadi 137-139 Tlp. (022) 60952400
*Jl. Sumber Hegar Raya 14 Tlp. (022) 6017081
*Jl. Abdul Rachman Saleh 71 Tlp. (022) 6014346
*Komplek TCI R2 Tlp. (022) 5418824
*Jl. Pungkur 216C Tlp. (022) 5224951
*Jl. Jati Utama K26 Tlp. (022) 70812538 
*Dapur Lembang Jl. Raya Lembang 175 B Tlp. (022) 2787336
*Jl. Raya Cimahi 545 Tlp. (022) 6658142

Jakarta:
*Jl. Hayam Wuruk 103B Tlp. (021) 70990696 / 97 / 98
*Rezeki Supermarket Jl. Hayam Wuruk Tlp. (021) 3800182
*Jl. Gudang Peluru D1 16A Tlp. (021) 8294541 / 45854323

-Batam: Ruko Palm Spring Blok B3 No. 6Tlp. (0778) 46806

GOSIPNYA
Semasa sekolah, David Benyamin Santosa giat menabung untuk mengikuti jejak ibunya menjadi penjahit. Setelah lulus SMA tahun 1977, ia membeli sebuah mesin jahit bekas dan mulai menjadi penjahit. Bisnisnya pun berkembang dari skala rumahan menjadi perusahaan konveksi PT Bineksindo yang berlokasi di Bandung.

Tahun 1988 David mulai mengekspor jaket training ke Eropa. Dengan jumlah karyawan lebih dari 300 orang, setiap bulan pabriknya mampu menghasilkan beberapa kontainer pakaian untuk diekspor. GOSIPNYA saat itu omzetnya mencapai Rp. 2 milyar per bulan.

Bulan Agustus 1990 terjadi Perang Teluk dan membuatnya tidak dapat mengirim barang ke luar negeri. Ia lalu mencoba menjadi pemasok Matahari Dept. Store dengan merek Andy ‘n Vania (AnV). Bisnisnya mulai membaik meski tidak sebaik tahun-tahun sebelumnya.

Pada Desember 1998 David dan Senjaya Hidayat bermain bulutangkis dan bertemu dengan Wawan. Mereka lalu sepakat membuat usaha pisang bolen dan menjualnya di Pasar Kue Subuh, Senen, Jakarta. David mengelola produksi dengan Wawan sebagai pelaksana operasional di pabrik yang didirikan di Jakarta dan Senjaya sebagai investor.

Dengan modal Rp. 75 juta, David mulai menyewa rumah, mobil, dan membeli peralatan produksi. Pada awalnya penjualannya sangat baik. Menjelang bulan kedua, jumlah produksi yang dilaporkan menurun drastis dari biasanya 600-700 dus menjadi hanya 300 dus. Omzet pun ikut menurun hingga hanya menjadi Rp. 6 juta sebulan. Karena merasa dikhianati, David memutuskan kembali ke Bandung sedangkan Wawan membuka sendiri usaha pisang bolen dengan merek Chandrasari di Jakarta.

Usaha garmennya sedang menuju kebangkrutan sehingga ia memaksakan diri bergulat dalam industri makanan. Setelah ratusan kali percobaan, akhirnya David berhasil membuat pisang bolen yang menurutnya lebih enak dibanding resep mantan rekannya. David lalu kembali menyumbangkan dana Rp. 125 juta Rupiah untuk memulai kembali bisnisnya. Selain itu, David beriklan di radio dan mengeluarkan dana Rp. 200 juta per tahun untuk memasang iklan di billboard di jalan-jalan protokol kota Bandung.

Bersama Senjaya, David lalu meneruskan usaha pisang bolen dengan penambahan pemilik baru yaitu Ibu Heny, Ibu Maya dan Ibu Sugijanti. Toko pertama lalu dibuka dengan menyewa di Jl. Kebon Kawung 16 A dan pabrik pertama didirikan di Jl. Sukabungah 13 C. David bertanggung jawab di bagian produksi dan pabrik, Ibu Maya di bagian keuangan, dan Senjaya di bagian marketing. Toko pertama diresmikan 20 Agustus 1999 dengan nama Mayasari yang diambil dari nama istri Senjaya, Maya.

Usaha mereka maju dan luas pabrik bertambah 900 meter lebih di sebuah rumah sederhana di jalan Sukabungah. Agen-agen pun mulai bermunculan. Pada tahun 1999 Agus menjadi agen tunggal di Jakarta dan memiliki 9 tenaga penjual door to door. Para mitra pun mulai bermunculan dan menawari David untuk bekerjasama dengan mereka.

Tahun 2004 David memberlakukan sistem jual beli putus pada para mitranya. Mereka mengelola sendiri toko-toko berlabel Mayasari sedangkan pihak Mayasari hanya mensuplai produk-produknya saja yang GOSIPNYA dijual 20% lebih murah per satu dus kue kepada para mitranya itu.

Pada tahun 2005 Agus berhenti menjadi agen sehingga tokonya menjadi cabang resmi Mayasari di Jakarta. GOSIPNYA meski jumlah gerai lebih sedikit daripada di Bandung, omzet gerai di Jakarta mencapai 30 persen dari keseluruhan total penjualan tiap bulannya. GOSIPNYA setiap hari para mitranya memesan 75-100 dus kue untuk dijual kembali dan penjualannya mencapai 90% per hari. Setiap tengah malam kue didistribusikan ke semua gerai, baik yang di Bandung maupun di luar kota dengan memakai jasa angkutan Merpati Airlines dan diantarkan paling lambat pukul 2 pagi.

Saat ini David mempekerjakan lebih dari 200 pegawai yang terbagi dalam dua shift kerja. Setiap hari Mayasari memproduksi sekitar 3.000 dus kue yang tiap dusnya berisi 12 kue. Menjelang akhir pekan, kapasitas produksi meningkat hingga 4.000 dus per hari dan GOSIPNYA 95% nya habis terjual.

Untuk meperluas cakupan bisnisnya, ia bekerja sama dengan pengusaha katering di Bandung. Mayasari menyuplai kudapan pada pesanan katering yang diperoleh mitranya. Ia juga membidik segmen korporat sebagai salah satu target pasarnya. “Pelanggan korporat saya kebanyakan dari industri perbankan,” kata ayah dari Andy Santosa (24 tahun), Vania Christianty (22 tahun) dan Cinthya Christianty (14 tahun) ini.

GOSIPNYA kini omset Mayasari mencapai Rp. 300 juta/bulan dengan margin 15%. Menurut David, masa menjelang dan sesudah Ramadan merupakan high season bagi bisnis ini. Pada H-10 menjelang Ramadan penjualan naik hingga 50% dari biasanya sedangkan pada H+2 penjualan meningkat hingga 200%.

Menurutnya, kesuksesan membangun bisnis kue tergantung pada kejelian melihat pasar dan pada pengembangan inovasi produk. Karena itu, ia selalu mencari eksperimen baru guna memperkaya citarasa dan jenis kuenya. Setiap tahun ia terbang ke luar negeri untuk belajar tentang roti dan pastry.




Selain suka belajar, ia juga suka merombak mobil dan pada acara International Modified Show (IMS) 2012 yang diadakan pada 5-6 Mei 2012 di Bandung Super Mall, ia menjadi salah satu peserta dan memamerkan Bugatti Veyron hasil rombakan dari Mitsubishi Galant 1999. Pengerjaan rombakan ia serahkan pada bengkel Auto5 di Jalan Garuda 87 Bandung. GOSIPNYA Pengerjaannya memakan waktu 4 tahun dan menghabiskan biaya Rp. 850 juta.

No comments:

Post a Comment